Category Archives: Uncategorized

Tarawih Keliling (Tarling) Wellington, Sarana Mengikat Kebersamaan di bulan Ramadhan

Standard

Assalaamu’alaikum wr. wb.

Tidak terasa hari ini sudah memasuki hari ke-19 di bulan Ramadhan. How’s your Ramadhan so far? Hope you all have a lovely Ramadhan, as much as I’ve been loving mine. 😊

Selalu ada perasaan yang berbeda setiap Ramadhan tiba. Bahagia. Hangat. Haru. Sedih juga. That’s one of the factor that makes this holy month is really special. Salah satu hal yang menjadi penambah kebahagiaan di bulan Ramadhan bagi saya pribadi adalah, banyaknya kesempatan untuk mempererat silaturahmi.

Sebagai perantau yang jauh dari tanah air, sesama masyarakat Indonesia di Wellington sudah kami anggap sebagai ‘keluarga’ dekat kami sendiri. Alhamdulillaah, setiap Ramadhan kami bisa bertemu lebih sering di acara rutin mingguan yang biasa disebut Tarling, atau Tarawih Keliling.

Tarling adalah salah satu program rutin dari komunitas UMI (Umat Muslim Indonesia) Wellington. Tarling umumnya diadakan 1x seminggu di hari Sabtu/Minggu, total 4x dalam bulan Ramadhan.

Program Tarling ini walau dinaungi UMI, namun pada pelaksanaannya dilakukan tidak hanya oleh para pengurus, melainkan seluruh anggota dari seluruh area Wellington dan sekitarnya.

Berdasarkan area domisili, anggota UMI Wellington dibagi menjadi tiga tim yakni tim Wellington City, tim Northern Suburb dan tim Hutt area. Tiap-tiap tim bergiliran menjadi tuan rumah koordinator Tarling, ditambah KBRI sebagai tuan rumah ke-4.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, saya dan Mr.Ghifary masuk ke tim Wellington city. Jumlah anggota UMI yang menjadi bagian dari tim Wellington city tidak kurang dari 30 orang. Seluruh anggota tim bahu-membahu menyiapkan segala hal dari makanan hingga acara inti untuk Tarling yang kali ini berlokasi di KBRI.

Ibu-Ibu tim Wellington City saling berkoordinasi untuk menyiapkan hidangan berbuka, dari takjil, makanan utama hingga makanan penutup. Berbagai macam kue, kurma, bubur ketan hitam menjadi pembuka. Dilanjutkan dengan menu ayam bakar, dendeng kentang balado, bakwan, gado-gado dan soto ayam. Tidak ketinggalan juga es teler dan puding sebagai desert.

Alhamdulillaah makanan yang kami sediakan jumlahnya cukup untuk sekitar 120 orang peserta Tarling yang datang.

Berbagai makanan Tarling

Sebagian anggota tim yang lain juga menyiapkan acara utama Tarling, yaitu ceramah (Dr. M. Bukhari Muslim Lc. MA dari PBNU) dan sholat bersama (Maghrib hingga Tarawih) juga hiburan Islami Hadrah, yaitu serupa nasyid shalawat dan lagu bernafaskan Islam.

Kegiatan Tarling Wellington City

Alhamdulillaah dengan kerjasama yang baik antar seluruh anggota tim, tarling Wellington City berjalan dengan lancar. Saya sebagai anggota sangat senang bisa terlibat dengan segala proses terkait pelaksanaan Tarling ini. Bagi saya Tarling bukan hanya kesempatan untuk menjalin silaturahmi dengan seluruh umat muslim (dan non muslim) Wellington yang hadir pada acara Tarling, namun juga sarana untuk mengikat dan menjalin kebersamaan kami sesama tim Wellington City. Alhamdulillaah, bersyukur sekali walau jauh dari negeri sendiri, tetap terasa dekat dengan keberadaan saudara-saudara se-tanah air yang tinggal di sini.

Ibu-ibu anggota tim Wellington City

Sudah 6 puasa terakhir saya dan Mr. Ghifary lakukan di New Zealand. Tarling, dan seluruh ‘keluarga’ kami di sini merupakan salah satu nikmat yang selalu kami syukuri keberadaannya ketika Ramadhan tiba. Alhamdulillaah.

Video Tarling Wellington 2018
Wassalaamu’alaikum wr. wb.

Tulisan ini dibuat untuk #1minggu1cerita minggu ke-23 tema ‘Kebersamaan’.

Preloved Clothes

Standard

Assalaamu’alaikum wr. wb.

Orang bilang, bahagia itu sederhana. Buat saya, sesederhana dapat kantong penuh berisi baju bekas. That happened to me yesterday (was not the first time, though) and I was grinning ear to ear looking at all those ‘new’ clothes for Naisha, my 6 yo daughter. Lots of long sleeves for upcoming winter, yayy!

Preloved clothes fresh kiriman seorang teman kemarin.

Ya, saya ga malu mengakui bahwa kami sekeluarga tidak jarang menggunakan baju bekas. Atau, preloved clothes, bahasa kerennya jaman sekarang. Preloved clothes banyak menghiasi, bahkan (khusus Naisha) mendominasi lemari baju kami.

Believe it or not, hampir 5 tahun kami tinggal di New Zealand tapi tidak pernah sekalipun saya membelikan pakaian baru (baik baju atasan, dress, celana, rok maupun jaket) di toko offline/online di New Zealand untuk Naisha, kecuali 2 buah dress up costume dan beberapa legging. Whyy??

Jadi begini. Masing-masing negara punya culture, habit dan gaya hidupnya masing-masing. Salah dua habit/culture/lifestyle yang baru saya ketahui setelah kami pindah bermukim di sini adalah; Satu, you don’t dress to impress. Di sini, apa yang kamu pakai tidak akan mempengaruhi penilaian dan perlakuan orang lain kepadamu. Kamu bisa berpakaian penuh cat dalam pertemuan guru dan orang tua murid, atau pakai pakaian olahraga ke pertemuan sesama orang tua murid, dan tidak akan ada seorangpun yang mempermasalahkan. Terlebih lagi mengenai asal dari mana kamu membeli pakaian yang kamu kenakan, apakah baru atau bekas. Nobody cares about that here.

Dua, di sini penggunaan barang bekas (dari baju hingga furnitur) dalam kehidupan sehari-hari adalah sebuah gaya hidup yang dilakukan berbagai kalangan, tanpa pandang penghasilan maupun profesi. Secondhand/charity shop/thrift store tersebar di mana-mana dan sangat mudah untuk ditemukan di segala penjuru kota. Hampir setiap sekolah setaraf SD rutin mengadakan school fair/gala setahun sekali dengan program utama bazaar barang bekas yang tidak pernah sepi dari pengunjung.

Preloved clothes beli di school fair, total $2 saja.

Dua habit di atas pada akhirnya banyak mempengaruhi cara kami berkehidupan sehari-hari, termasuk di dalamnya pemilihan baju yang dipakai. Kami merasa ‘biasa aja’ pakai baju bekas karena pertama, baju bekas yang tersedia dan yang kami pilih kualitasnya tidak kalah bagus dengan baju baru. Kedua, it’s a common thing here, everyone’s buying and wearing one. Ketiga, harga baju bekas itu jauh lebih murah.

All preloved clothes bought from school fair.

Perlu diakui, awal mula terbiasa membeli dan menggunakan baju bekas kami mulai saat Mr. Ghifary masih berstatus student. Dengan terbatasnya uang beasiswa, membeli barang-barang bekas menjadi salah satu cara penghematan. Tapi seperti yang saya sebut di atas, ternyata bukan cuma mereka yang berhemat saja yang memakai barang bekas, tapi memang bagian dari gaya hidup banyak orang di sini. Sampai saat ini pun, kami masih terbiasa membeli dan menggunakan preloved stuff.

Lovely $3 fairy dress from thrift store.

Khusus untuk baju, di antara kami sekeluarga Naisha lah yang paling banyak pakai preloved clothes. Pertama karena Naisha masih dalam masa pertumbuhan sehingga masa penggunaan baju-bajunya cukup singkat sebelum akhirnya tidak muat lagi. Karena itu Naisha paling sering butuh ‘baju baru’. Kedua, preloved clothes untuk anak perempuan jauh lebih banyak tersedia dalam berbagai model dan warna dibanding untuk anak laki-laki. Oleh karenanya baik di thrift store maupun school fair saya jauh lebih banyak menemukan dan membeli preloved clothes untuk Naisha daripada untuk Rumi.

Jacket and dress bought from school fair.

Apakah Naisha punya baju baru beneran atau semuanya preloved? Jawabannya Ya, Naisha juga punya baju baru asli. Tapi semua baju barunya antara dibeli di Indonesia, atau dikasih hadiah dari orang lain. Ohya kecuali legging. Saya beberapa kali beli legging baru di sini karena sulit sekali menemui preloved legging. Selain dari itu, baju Naisha preloved semua. Preloved ini bisa lungsuran dari anaknya teman seperti kemarin ini, atau saya beli sesekali di thrift store. Namun paling sering saya beli preloved clothes itu di School Fair. Dalam setahun minimal saya 3-4 kali mengunjungi school fair, dan setiap fair saya bisa mendapatkan 1-2 kantong plastik penuh preloved clothes dengan harga $2-5 saja per plastik. Istilah saya, saya ‘refill’ baju Naisha tiap ada school fair. Sementara baju Naisha yang sudah tidak muat lagi, saya lungsurkan juga ke teman saya lainnya yang punya anak perempuan dengan usia lebih muda dari Naisha.

Baju hadiah dari flatmate, double tutu and legging bought from thrift store.

Dress dan sweater lungsuran dari anaknya teman.

Dress lungsuran, legging bought from thrift store

Lalu bagaimana dengan baju-baju saya dan Rumi? Saya juga beberapa kali dapat lungsuran baju, seringnya dari teman yang back for good ke Indonesia. Selain itu seperti halnya Naisha, kami lebih sering beli baju saat mudik ke Indonesia (cuma pernah 2x mudik sih lol). Saya jarang sekali beli preloved clothes di sini karena jarang menemukan pakaian dengan model baju muslim (tertutup, sopan) yang cocok untuk dipakai saya yang belakangan ini juga menyusui.

Sementara untuk Rumi, walau belum 2 tahun usianya namun baju baru asli toko punya Rumi lebih banyak daripada Naisha. Alasannya seperti yang saya sebut di atas, tidak terlalu banyak jumlah dan pilihan preloved clothes untuk anak laki-laki. Namun begitu di setahun pertama usia Rumi, saya sempat mendapat bantuan preloved clothes dari program pregnancy help, yang kemudian bajunya dikembalikan ketika sudah tidak muat dipakai. Ohya, saking biasanya penggunaan preloved clothes di sini, saya bahkan dapat hadiah lahiran satu plastik penuh preloved clothes dari tetangga saya istri Pendeta yang baik hati. Pasti terdengar aneh kalau terjadi di Indo. But it really is a common thing here.

Nah karena sudah sangat terbiasa itulah, sesungguhnya habit penggunaan preloved clothes or other preloved stuff in general rasa-rasanya akan saya rindukan jika suatu waktu saya back for good ke Indonesia. Di Indonesia kondisinya tidak terlalu mendukung untuk lanjut menekuni habit ini. Thrift store hampir tidak ada. Ngasih baju lungsuran ke teman juga bukan hal yang biasa. Paham banget sih, masih lebih utama memberikan kepada mereka yang membutuhkan baju-baju lungsuran daripada diberikan kepada mereka yang bisa beli baju baru sendiri. Toh, harga baju di Indo tidak semahal harga baju di sini. Jadi ya, seandainya saya pulang ke Indonesia suatu saat nanti, jumlah barang baru yang saya beli nanti hampir pasti lebih banyak daripada barang baru yang saya beli di sini.

Padahal ya, sesungguhnya habit penggunaan barang bekas itu tidak sedikit loh manfaatnya. Pertama simbiosis mutualisme antara mereka yang butuh buang barang dan mereka yang membutuhkan barang. Tidak gampang untuk buang barang di sini. Teman saya pernah masukin baju dan sepatu ke box sampah recycle rumah kami, eh yang ada malah dikasih stiker peringatan kesalahan jenis sampah recycle. Akhirnya minggu itu sampah recycle kami ditolak untuk diangkut. Seringkali malah lebih mudah untuk ngasih barang ke orang lain, atau menyumbang ke charity shop daripada membuang via sampah yang diangkut mingguan.

Manfaat kedua, penggunaan barang bekas itu ramah lingkungan. Mengurangi jumlah sampah yang masuk ke tempat pembuangan sampah. Syukur alhamdulillaah kalau bisa menurunkan jumlah produksi barang karena turunnya minat akan pembelian barang baru. Who knows?

Ketiga, mengajarkan anak untuk tidak konsumtif. Empat, mengajarkan anak untuk berbagi. Lima, tentunya ramah di kantong.

Ya begitulah cerita penggunaan baju dan barang bekas yang kami alami di New Zealand. Mudah-mudahan bisa menjadi inspirasi dan motivasi untuk melakukan reduce, reuse dan recycle barang sehari-hari. Thanks for reading! 🙂

Wassalaamu’alaikum wr. wb.

Dear Moms, Please Be Nice..

Standard

Assalaamu’alaikum wr. wb.

As expected, I cried at my son’s dietitian (follow up) appointment today. But the reason behind it was the complete opposite of what I had expected.

I thought I was going to cry when I was accused as the reason of why my son, who weighs only 8.6kg at 18months is not growing as well as he should be. I was wrong. On the contrary, I cried when despite of him not eating well nor gaining much the dietitian still said to me,

“You’re doing good. I know it’s hard. You’re a good mom”.

Then she smiled, handed me tissues and gave me a pat in my back. I could only say, “Thank you”, and cried even more.

Hours later and I’m still crying while typing this story. Yes she’s right. It is hard. It is really hard. All this stuff about feeding this little human who refused to be fed is really really hard. At least for me.

Knowing that she noticed it, and that she still praised my effort even though the result was not that good, oooh I can’t tell you how much of a big deal it was for me.

That moment, I felt understood. I felt someone care for me. I felt relieved that this person knew, I tried. She knew I tried hard. And she didn’t blame me. Instead she praised me. She reminds me that above all, I am still a good mom for my kids. And I was very thankful for that.

So here’s the thing moms..

Seconds before I cried, no one knows (beside Mr. Ghifary) that I had tons of burdens on my shoulder. That I carried gallons of tears ready to be let go. And I let it all loose the moment the dietitian said that I’m doing good. I was lucky. I let it all loose in a good way, with the help from a great person. But some people might not be as lucky as I was.

Out there, there are thousands or maybe millions of other moms carrying not less than the amount of heavy burden I was carrying. They might still feel alone, only themself and their burdens. But they too, might meet good people like my son’s dietitian. Or worse, meet other judgemental moms who would turn their burdens into hurtful and unforgivable guilt. Please, please, please moms, if you can’t be as nice as my son’s dietitian, don’t be as mean as the second person.

Please do not comment about how other moms feed their babies. Or how great you had your experience was. You don’t know how hard they have tried (breastfeed, exclusive pump, solid food whatever it is you name it). FYI, it is actually none of your business.

Please do not comment about how other moms deliver their babies. Or how great your experience was. You don’t know how hard they had their pregnancies, how much they sacrificed their live to give live to their little ones. FYI it is actually none of your business.

Please do not comment about how other children’s behaviour. Or how great your children’s are. You have no idea how much effort those moms did in disciplining their children. Or what kind of medical issues their children are having. FYI, it is actually none of your business.

And so on. And so on.

Please, please, please do not comment on anything unless it will encourage them.

Dear all moms, one day you might feel like everything falls in the right place. But no one can guarantee it will happen forever. Please support each other. Please be nice to each other. If you can’t be nice, you can at least shut your mouth up. That’s all what I ask, It should not be that hard. Believe me.

Sincerely, from your fellow moms.

Wassalaamu’alaikum wr. wb.

Jangan (Asal) Tanya

Standard

Assalaamu’alaikum wr. wb.

“Kapan lulus?”

“Kapan nih undangannya?”

“Belum isi?”

dst dsb dll.

Di Indonesia, sudah sangat lumrah mendengar pertanyaan-pertanyaan seperti ini terlontar baik dari keluarga dekat maupun kerabat. Saya ga tau statistik persisnya sih, tapi rasa-rasanya jumlah mereka yang tidak nyaman diberi pertanyaan tersebut sepertinya tidak lebih sedikit dari yang merasa sebaliknya.

Saya sendiri tidak memungkiri bahwasanya dahulu, jaman saya masih ‘kurang piknik’, or ignorant if you may call me, selain menjadi objek yang ditanya saya juga pernah menjadi subjek yang bertanya.

Apakah saya kepo ketika bertanya? Mungkin iya. Mungkin juga tidak. Kalau boleh jujur, tidak jarang pertanyaan-pertanyaan tersebut saya ucapkan karena saya ga ada ide lagi mau ngobrol apa. Dan dulu saya rasa bertanya hal-hal semacam itu tuh ga menjadi suatu masalah. Biasa banget lah, nanya-nanya kaya gitu. Sampai suatu saat terjadilah percakapan yang di luar ekspektasi saya.

“Ga mau nambah adek buat si kaka, mba?”, tanya saya.

“Saya udah cerai sama papanya”, jawabnya.

JENGJENG. Untung aja si mba nya (yang baru saya kenal hari itu juga!!) merespon pertanyaan saya sembari tertawa. Walau dalam hatinya yaaa siapa yang tau. Lah kalau malah jadi nangis di tempat terus gimana?

Sejak percakapan awkward di atas itulah saya merasa, lebih baik diam tanpa ide ngobrol apapun daripada melakukan basa basi beresiko. Dan setelahnya saya merasa sudah cukup berhasil menghindari pertanyaan-pertanyaan basa basi berbahaya. Hingga pagi tadi, fakta di lapangan berbicara lain.

Pagi ini, seperti yang sudah direncanakan saya mengantar kiriman masakan dari program ‘For New Mom with Love’ ke seorang teman sebut saja Mba L yang baru melahirkan kurang lebih 2 minggu yang lalu. Mba L ini tinggalnya di komplek apartemen city council. Untuk memudahkan saya supaya ga repot-repot cari apartemennya, suaminya teman saya ini menghampiri saya di parkiran untuk ambil makanannya. Bertemulah saya dengan suaminya, untuk pertama kali, sebut saja mas M.

Setelah kenalan, dilanjutkan ngobrol-ngobrol terutama tentang kondisi istrinya juga kedua anaknya, percakapan yang saya rasa aman ini saya lanjutkan dengan bertanya,

“Masih cuti ya Mas?”

Jujur untuk kali ini saya kepo. Karena saya rasa beruntung sekali, sudah lewat 2 minggu dari istrinya lahiran tapi sang suami di jam kantor masih tinggal di rumah bersama keluarga. Mr. Ghifary cuma cuti seminggu aja soalnya. Kemudian pun mas M menjawab,

“Saya ga kerja. Istri yang kerja.”

JENGJENG. Sungguh jawabannya di luar ekspektasi saya. Dan belum selesai di situ, saya yang sesungguhnya bingung jawab apa dan bingung juga kalau diem aja, lanjut menimpali dengan,

“Enak dong ya, jadi bisa bantu-bantu mba L pasca lahiran di rumah”.

Brb jedutin pala ke tembok.

Untungnya mas M ini mengiyakan pernyataan saya. Dia bilang, ga kebayang juga kalau beliau kerja dalam kondisi pasca lahiran ini. Ffffiiuuuuh. Lap keringet.

Oh well, lesson learned. I’ll add the question above to the list of “question that should not be asked” (1). Dan berhenti kepo! (2)

Mengenai basa basi, awal-awal tinggal di sini (New Zealand) hal ini sesungguhnya menjadi dilema bagi saya. Saya ingat pernah berpikir keras dan bertanya-tanya, sejauh apa orang-orang sini merasa baik-baik saja kalau ditanya. Karena mereka jelas ga se-kepo dan se-basa basi orang Indo. Apakah mereka suka kalau saya tanya-tanya?

Setelah pencarian dan pemikiran yang cukup mendalam, saya akhirnya menemukan satu pertanyaan pamungkas yang hingga saat ini menjadi pembuka percakapan favorit saya kalau bertemu orang sini yang bukan asal Indonesia. Walaupun bisa banget ditanya ke orang Indo juga.

“Where are you originally from?”

Percayalah, pertanyaan ini walau masuk golongan basa basi juga kepo namun minim resiko.

Saya suka sekali melontarkan pertanyaan ini karena tidak sedikit penduduk New Zealand yang aslinya seperti juga saya, adalah imigran. Oleh karenanya jawaban yang saya terima pun sangat beragam. Sebut saja UK, Jerman, Irlandia, Kanada, Fiji, Korea, hingga Somalia juga Ethiopia. I love the feeling that I met so many new people from around the world. Jawaban-jawaban ini mengukuhkan saya, bahwasanya I am too, citizen of this world.

Jawaban seperti ini bisa banget dilanjutkan dengan pertanyaan basa basi minim resiko lainnya. Tinggal di kota mana di negara asal? Udah berapa lama tinggal di sini (Wellington)? Sebelum di Wellington tinggal di mana aja di New Zealand?.

Jangan lupa untuk menimpali ya, kalau kota atau daerah yang mereka sertakan sebagai jawaban familiar di telinga. Walau sekedar, “Yes, I know Jeju from Running Man (Korean variesty show)!”. Karena pada dasarnya orang senang diakui, dikenali.

Atau kalau mau yang lebih berresiko, bisa juga tanya, asal mulanya bagaimana bisa sampai pindah ke New Zealand? Do you love living here in Wellington? Where do you like better? Why? And so on.

Walau lebih sering mendapatkan jawaban dari imigran, tidak sedikit juga saya temukan penduduk asli New Zealand. Biasanya kalau bukan imigran, orang asli sini akan menyebut kota asalnya masing-masing. Auckland, Hasting, Hamilton, Christchurch tidak ketinggalan juga Wellington, kota tempat kami tinggal.

Untuk mereka yang menjawab selain Wellington, masih bisa ditanya lagi lebih jauh dengan pertanyaan lanjutan di atas yang dimodifikasi. Tapi kalau jawabannya Wellington, nah ini baru tricky. Kalau ketemu jawaban seperti ini, biasanya saya hanya komen, “You must love Wellington so much (that you stay here and didn’t go anywhere)!”. Yang umumnya ditimpali dengan, “Yes, I love it here!”.

Yah begitulah gambaran basa-basi saya dengan orang sini. Mudah-mudahan bisa menjadi ide tambahan ketika berinteraksi dengan orang lain. Yuk ah kita kurang-kurangi kepo dan basa basi berresiko. Jangan asal tanya. You don’t know what they’ve been through the day you met them even the days before. You don’t know how your question will affect them, their feelings. Ask smart, or else, diam adalah emas. ☺

Wassalaamu’alaikum wr. wb.

Back to Ramadhan

Standard

Assalaamu’alaikum wr. wb.

“Mommy, you know that it’s gonna be Ramadhan soon right?”

“Oh yes. It’s next week”

“You mean week like, April, May?”

“No, that’s months not week. Ramadhan is in 7 days. Like today is Friday, so Friday, Saturday, Sunday, Monday, Tuesday, Wednesday, Thursday, and then Friday. So next Friday is Ramadhan”

“Ooo I see next Friday”

That was the beginning of a conversation between me and my 6yo Naisha this morning, right after we woke up. For a moment I am a bit confused of how she knew about Ramadhan is coming. She knows about Ramadhan and fasting from last year, but I actually haven’t talked to her that this year’s Ramadhan is approaching. So I asked her again about how she knew it, and her answer surprised me.

“How do you know about Ramadhan is coming, Naisha?”

“Miss Copley”

“Miss Copley said that at school?”

“Yes”

“What else did Miss Copley say about Ramadhan?”

“Fasting. Muslim people celebrate Ramadhan”

I was surprised. And embarrased too, actually. She first knew that Ramadhan is coming, not from us her parents but from her non muslim teacher at school. I was gonna tell her soon but clearly I haven’t.

On the other side I feel really happy about her school. I love how they notice and introduce not only the common celebration here in New Zealand such as Christmast, Easter, or even Halloween. But they acknowledged muslim celebration too.

For your information, Naisha’s school has a pretty diverse range of student in terms of race and culture. We have more of student with English as a second language than those with English as their first one. We also have lots of muslim student too. There are 5 muslim students including Naisha, in Naisha’s class. 5 out of 21, so it is a pretty big percentage. And Naisha’s other 4 muslim classmates has at least 1 older siblings going to the same school. So yes, we have quite a big number of muslim students here, to the point that the school provided halal sausages for school barbeque.

So even though I am a bit ashamed of myself of not telling my own daughter about the upcoming Ramadhan, I am glad that her teacher did. It is a reminder for me, to re-introduce and even teach a lot more things that Naisha haven’t known before about Ramadhan.

So we talked further more about it this morning. I started with playing our favorite Ramadan song, “Ramadhan song with Zaky”, you can search it in youtube. This song talks about Ramadhan in a simple but direct way, which is good for kids. The melody is lovely too.

Then I said about muslim having different months than the normal months she already knew, and how Ramadhan is the best, the holy month. The month where we are encouraged to do good deeds. So then we talked about some ideas of good deeds that we can do this Ramadhan.

So many things that we have not yet to talk about, but should be enough to be done in the next few days before we officially back to Ramadhan. Internet too have a lot of ideas about Ramadan kid activities. Finger cross that I am able to push myself to do a lot more with Naisha this year. Insya Allah. Let me know if you have any idea too! 😊

Wassalaamu’alaikum wr. wb.

Ps: I just realized that Ramadhan should be coming on next Thursday, not Friday. Moon sighting in New Zealand will be held on Wednesday May 16th.

One Clumsy Day

Standard

Assalaamu’alaikum wr. wb.

Have you ever had one of those clumsy moment like when you were searching for your glasses but it is actually sitting on top of your head? Or when you were looking for your car key but you are actually holding it right in your hand? Well today I got three of those. At the end of the day (I’m typing this just before 8pm), it wasn’t actually a bad day though. It was just a one clumsy day.

This morning as usual I dropped Naisha off to her school. Right after I parked the car, got Naisha out of her car seat, I went looking for her school bag then I realized, the bag is not in the car. It’s still at home. #palmface I then asked Naisha’s friend’s mom who just passed our parked car to accompany Naisha to the classroom while I rushed back home to get the bag and deliver it to school. #duh.

After the left bag problem solved, I went to thewarehouse (like target in US) as planned before. I spent almost 1 hour finding 3 items and just strolling around the store having a bit of me time. I then went to the check out counter to pay my items. Then I opened my wallet and saw no cards. I am cashless most of the time, so having no cards with me means I can’t buy anything. So I said to the staff that I canceled buying all items.

If you wonder where my cards all went, they are all stayed at home. My 1,5yo son LOVES to play with them, taking them out from where they should be (wallet), and yes I forgot to put them back where they belong. #palmface #duh

The last clumsy story today was when I was going to defrost some frozen prawn. I put them in a bowl in front of the microwave. Silly me, I then open the microwave door without moving the bowl. Of course the microwave door pushed the bowl and made it fall down to the floor. Aaand as expected it broke into pieces. #palmface #duh

Oh wait, at this very moment I just remember I did laundry but forget to dry them. They’re still in the washing machine. Oh well, that laundry won’t go anywhere. I’ll take care of it tomorrow. Guess that makes the fourth clumsiness for today. Hopefully no more coming tonight. Good night!

Wassalaamu’alaikum wr. wb.

Keep Dreaming!

Standard

Assalaamu’alaikum wr. wb.

Today, I crossed one of my bucket list. I first heard about it in 2013. And have been dreaming to go there ever since. Almost 5 years later, that dream finally came true. It’s even better, we had our 2 moms coming with us. Today, we finally stepped our foot at the one and only, Queenstown. 😍😍

Wassalaamu’alaikum wr. wb.