Category Archives: Life in Wellington The Series

Life in Wellington the Series Part 20: Children Birthday Party

Standard

Assalaamu’alaikum wr. wb.

Seorang teman yang menetap di Belanda hari ini curhat di instastorynya. Katanya dia ingin menolak undangan ulang tahun dari teman sekolah anaknya tapi ga enak alias segan.

Pikiran pertama yang muncul di kepala saya, “Emang kenapa gitu kalau ditolak aja?”. Namun sepersekian detik kemudian tiba-tiba kepikiran lagi, “Aaah mungkin yang ngundang orang Indo kali ya”. Jadi ada perasaan ga enak gitu kalau ga dateng. Ga kaya orang New Zealand yang woles, santay kaya di pantai. Dateng oke, ga dateng yasudah takpapa ga masalah. Setelah saya tanya lagi ternyata bukan orang Indo sih yang ngundang, tapi bukan orang Belanda juga. Oh well, mudah-mudahan berakhir baik-baik saja.

Eniwei, saya jadi kepikiran tentang budaya ulang tahun anak-anak di sini. Ada beberapa hal yang cukup unik dan berbeda dengan budaya yang lazim terjadi di Indonesia.

Naisha Ulang tahun yang pertama

Disclaimer, saya dan keluarga masuk golongan yang merayakan ulang tahun, baik dari perayaan skala kecil hanya keluarga inti saja (ultah anak usia 1-3 tahun) hingga skala lebih besar yakni mengundang teman (ultah anak 4-6 tahun). Naisha sendiri tidak hanya mengundang namun juga sering diundang oleh teman kindy, teman sekolah maupun teman Indonesianya. Jadi cukup berpengalaman lah kita dalam hal perayaan ulang tahun ala kiwi. Lantas apa yang berbeda?

Undangan terbatas

Seringkali kita lihat di Indonesia, pesta anak level menengah aja undangannya bisa mencapai 20-30an anak ya. Mulai dari teman sekolah, keluarga besar, tetangga dan lain-lain. Apalagi kalau level anak artis atau selebgram, pasti undangannya lebih banyak lagi.

Sementara di sini, pesta ulang tahun anak umumnya tidak berlangsung dalam skala besar. Sepertinya rata-rata jumlah anak yang hadir sekitar 10 orang saja. Bahkan tidak jarang jumlahnya di bawah itu. Umumnya paket ulang tahun di venue komersil seperti indoor playground mematok jumlah minimal 8 anak (termasuk yang ultah). Karena memang biasanya hanya sekitar segitu saja jumlah undangannya, nggak banyak.

Kok sedikit ya? Padahal teman sekelas di sekolah kan ada 20an. Ternyata karena memang orang-orang di sini memaklumi jika si pengundang hanya mengundang beberapa orang tertentu saja.

Pada ulang tahun Naisha yang ke 6, saya hanya mengundang teman sekelas Naisha yang perempuan, tidak seluruh kelas. Begitu juga sebaliknya, saya tahu ada beberapa teman kindy dan sekolah Naisha yang merayakan ulang tahun, tetapi Naisha tidak termasuk teman yang diundang.

Ulang tahun Naisha ke-6

Jujur pertama kali sih sempat kepikiran dalam hati, “Kok Naisha ga diundang ya. Kenapa?”. Tapi lama-lama pas udah ngerti ya akhirnya biasa aja, karena memang seperti itulah budayanya. Tidak diundang bukan lantas karena musuhan. Bisa banyak alasan, mungkin memang dana dan tempatnya terbatas, preferensi gender ataupun keakraban dari si anak yang ultah dan lain sebagainya. Yang jelas sih, there’s no need to explain why you are not invited. Ga diundang yaudah gapapa, nothing wrong with that. Ga usah baper, hehe.

RSVP

Dalam setiap undangan baik itu berbentuk kertas maupun digital, pasti selalu disertai dengan pernyataan “Please RSVP”. Kalau di Indonesia sih ga perlu ya, tapi di sini penting sekali. Di antaranya untuk persiapan tempat, jumlah makanan dan goodie bag, serta biaya lainnya seperti biaya masuk kolam renang atau playground. Umumnya pada saat RSVP juga diminta keterangan dietary si anak yang diundang. Hal ini demi mencegah reaksi alergi ataupun hal yang bertentangan dengan agama dan keyakinan sang anak dan keluarga.

Menyambung kembali ke cerita teman saya di atas tadi. Seperti halnya budaya sini yang ga baperan kalau ga diundang, maka hal tersebut berlaku juga untuk mereka yang tidak bisa datang. Si pengundang ga akan baperan kalau yang diundang ga bisa datang. Tinggal bilang aja “maaf ga bisa datang”, udah deh selesai urusan. No need to explain the reason either.

Yang terpenting dan tergolong wajib adalah menjawab undangan, apakah bisa hadir atau tidak bisa hadir. Kalau bisa ya syukur alhamduliillaah, kalau ga bisa yaudah. Kalau ga kasih kabar lalu tiba-tiba datang, nah ini yang bisa jadi masalah. Kan repot kalau si pengundang cuma bayar venue sejumlah orang yang RSVP tapi tiba-tiba ada yang datang walau tidak RSVP. So, RSVP is a must.

Buka Kado

Saya masih ingat sekali, waktu saya SD pernah “dimarahi” mama saya karena saya buka kado dari teman mama, padahal orangnya belum pulang. Di Indonesia sepertinya memang hal tersebut tergolong kurang sopan ya. Kegiatan buka kado lazimnya dilakukan setelah acara selesai dan seluruh undangan pulang ke rumah. Berbeda 180 derajat dengan budaya di sini.

Di sini, salah satu kegiatan paling ditunggu-tunggu pada pesta ulang tahun selain potong kue adalah membuka kado bersama-sama dengan teman-teman. Tidak jarang mereka yang bawa kado akan berlomba-lomba meminta supaya kadonya dibuka duluan. Dan selama ini saya perhatikan si anak ultah akan selalu berreaksi gembira, apapun isi kadonya.

Naisha buka kado di ulang tahun ke-4

Satu nilai yang menarik terkait pemberian kado di sini adalah, yang utama bukan nilai atau barangnya, tapi perhatiannya. Pasca pesta ultah, biasanya orang tua si anak ultah akan mengirim text/email ucapan terima kasih kepada orang tua si pemberi kado, sambil menyebut barang pemberian yang diterima. Berikut contoh beberapa thank you notes yang pernah saya dapatkan.

“Thank you so much for the playdoh, Rebecca loves it. She’s been playing with it until now.”

“Thank you for the pyjamas, it’s just what I need and I wanted to buy for Liciya.”

Naisha buka kado di ulang tahun ke-5

Jadi, apapun isi kadonya, berapapun harganya tidak masalah. It’s the thought that counts.

Gold Coin Donation

Dari beberapa undangan ulang tahun yang diterima Naisha, ada tiga yang unik dan berbeda yang belum pernah saya temui di Indonesia. Pada ke-tiga pesta, semua pengundang menganjurkan untuk undangan memberikan gold coin ($1-$2) sebagai ganti membawa kado.

FYI, gold coin ini kalau dirupiahkan sekitar Rp10,000-20,000, tapi terbilang nominal kecil kalau di sini. Di sini $2 hanya cukup untuk beli 1 buah donat.

Dua tujuan utama gold coin donation ini menurut para pengundang adalah, satu, supaya yang diundang tidak perlu bingung memilih dan membawa kado. Kedua, penggunaan hasil gold coin donation bisa disalurkan ke 2 opsi bermanfaat. Uang yang terkumpul bisa dibelikan mainan pilihan sang anak yang diatas namakan dari “teman-teman”, atau juga menjadi tambahan tabungan si anak ultah yang sedang mengincar satu barang.

Cukup unik ya, budaya ulang tahun di New Zealand. Seperti kata peribahasa, lain padang lain belalang. Adakah yang juga punya pengalaman unik terkait ulang tahun anak-anak? Share di komen ya! Til the next post, see ya! ๐Ÿ˜Š

baca juga: Life in Wellington the Series Part 19: Rain in Wellington

Wassalaamu’alaikum wr. wb.

Life in Wellington the Series Part 19: Rain in Wellington

Standard

Assalaamu’alaikum wr. wb.

Komunitas blog #1minggu1cerita pada minggu ke-49 kali ini mengusung tema hujan. Mumpung udah lama ga nulis Life in Wellington the Series, marilah kita bermain cocoklogi alias nyambung-nyambungin tema dan tulisan. LOL. Let’s talk about rain in Wellington then.

Sumber foto: stuff.co.nz

Hujan di Welly kaya apa sih? Ya sama aja kaya di tempat lain, turun air dari langit ๐Ÿ˜๐Ÿ˜. Tapi minimal 2x setahun ada hujan es sih, alias hailing. Hailing ini ukurannya beragam, mulai dari sekecil manik-manik atau kacang polong hingga sebesar kelereng.

Pernah suatu saat saya lagi nyetir jemput Mr.Ghifary di kantornya eh tiba-tiba hailing. Seru banget! Kaya ditimpukin batu gitu mobilnya, nyetir pun jadi pelan karena roda mobil menggelindas batu es.

Karena suhu udara pas terjadi hailing biasanya cukup dingin, si esnya ga bakal langsung mencair. Jadi kalau ke luar rumah pasca hailing, sekilas mirip salju. Putih di mana-mana. Lumayan lah, ga ada salju, hailing pun jadi, hehehe..

Kembali ke hujan. Jadi hujan di Wellington kan sama-sama aja nih. Lantas apa yang kemudian berbeda?

1. Payung is a Big No

Wellington populer dengan sebutan windy city, windy Wellington. Kalau lagi amat sangat berangin, yang mana termasuk hal biasa di sini, kecepatannya bisa di atas 100km/jam bahkan bisa mencapai 140 km/jam. Hampir tiada hari tanpa angin, termasuk saat hujan. That’s why, using an umbrella in here is a big no no.

Coba aja main ke sini pas hujan, hampir pasti ga akan ketemu orang berpayung. Kalau pun ada 1-2 yang payungan, biasanya saya atau Mr. Ghifary langsung nyeletuk, “pasti turis tuh!”. Karena saking kencang anginnya, payung ga bakal bertahan lama di sini. Pasti langsung terbalik atau rusak. Alias gak guna. Jadi kalau di Wellington terpaksa kita harus ganti peribahasa,

“Sedia jaket tebal tahan air selutut sebelum hujan”.

Belakangan ini sih muncul inovasi payung teknologi terbaru, yang katanya tahan angin bahkan badai Wellington sekalipun. Namanya payung Blunt. But no, thanks. Kemahalan buat saya mah. Dengan harga yang sama udah bisa beli jaket winter yang oke. Sayang kalau ‘cuma’ dibeliin payung.

Buat yang akan datang ke Wellington jangan lupa ya, ga usah bawa payung! ๐Ÿ˜‰

2. Forecast is a Big Yes

Semenjak menetap di Wellington, salah satu rutinitas harian tambahan saya adalah mengecek prakiraan cuaca. Penting banget loh ini buat kelangsungan hidup sehari-hari. Karena tidak jarang cuaca Wellington berubah berkali-kali dalam satu harinya. Wajib (bagi saya) untuk tahu kondisi cuaca esok hari, bahkan per jam nya, supaya bisa mengatur kegiatan dan pakaian sesuai cuacanya yang akan terjadi.

Iluatrasinya kira-kira begini.

Senin besok pagi cerah sampai jam 2 siang. Oke pagi bisa jalan kaki belanja. Aman, bisa jemur baju dengan catatan harus diangkat sebelum jam 2. Mr. Ghifary bisa pulang pergi ke rumah jalan kaki pas makan siang, ga perlu bawa jaket/jas hujan.

Lanjut jam 2 siang hujan dengan skala 0.3 (gerimis) sampai jam 4 sore. Berarti jemput Naisha dari kindy jalan kaki harus pakai stroller jangan lupa bawa rain cover.

Jam 4 sore sampai malam hujan deras skala 1.6 (deras). Oke berarti Mr. Ghifary bawa mobil aja jangan pulang kantor jalan kaki. Besoknya lagi seharian hujan skala di atas 4 (curah hujan amat tinggi). Fix ga usah jalan ke mana-mana.

Lusa sampai weekend hujan terus. Berarti mulai lusa ga usah cuci baju sampai minggu, supaya bisa sekalian banyak cucian basahnya yang bisa dibawa ke laundromat buat dikeringin. The end. Begitulah kira-kira pemanfaatan info prakiraan cuaca di Wellington.

Metservice.com

Untungnya, situs prakiraan cuacaasli buatan New Zealand yang menjadi referensi saya selama ini akurasinya cukup tinggi, sepertinya di atas 90%. Jadi insya Allah sangat bisa diandalkan alhamdulillaah.

3. Hindari Musim Semi dan Bulan April

Seperti yang diketahui, New Zealand adalah negara 4 musim. Apapun musim yang sedang berlangsung, hujan bisa terjadi. Namun begitu ada bulan dan musim tertentu yang cenderung tinggi frekuensi hujannya.

Satu, saat spring atau musim semi. Katanya di musim ini tanaman lagi butuh banyak air untuk tumbuh dan bersemi pasca musim dingin. Itulah alasan mengapa curah hujan terbilang tinggi di musim ini. Musim semi di New Zealand swndiri berlangsung pada bulan September-November.

Menurut catatan pengalaman pribadi, selain bulan di musim semi ada satu bulan yang sering mengalami hujan deras bahkan badai yang cukup intens. Bulan itu adalah April (musim gugur). Ga valid sih pernyataannya karena ga ada statistik pastinya. Namun begitu, berdasarkan pengamatan sejak tahun 2013-2018, hanya pada tahun 2017 saja bulan April bersih dari hujan badai. Sisanya pasti ada walaupun tentu tidak sebulan penuh ya, hanya beberapa hari. Buat yang berencana jalan-jalan di bulan-bulan ini, jangan kaget ya kalau tiba-tiba banyak turun hujan.. ๐Ÿ˜ƒ

Sebaliknya, bulan Januari-Februari (musim panas) termasuk bulan-bulan dengan frekuensi hujan terendah. Ketika curah hujan amat sangat rendah, tidak menutup kemungkinan ada water usage warning, water restriction (2017) bahkan water sprinkler ban (2016) yang dikeluarkan oleh pihak Wellington City Council (WCC) demi menjaga kelangsungan pasokan air. Sepertinya berbagai usaha WCC cukup berhasil karena faktanya selama saya tinggal di sini tidak pernah terjadi kasus kekeringan, alhamdulillaah.

4. Life Must Go On

Sering lihat di Jakarta banyak motor berteduh di bawah jembatan penyebrangan saat hujan? Di sini ga akan ada pemandangan itu. Kenapa? Karena di sini ga ada jembatan penyebrangan LOL ๐Ÿ˜‚. Plus ga banyak pengendara motor juga.

On a serious note, hujan di sini tidak lantas menghentikan kegiatan. Yang road work pun masih bisa lanjut, apa lagi yang lari malam. Masih aja loh banyak yang lanjuut lari hujan-hujanan. Ga paham lagi sayah. Ckckck.

Suatu hari di suatu parent meeting ada pertanyaan ice breaker, “What do you do to cope in this bad weather?”. Yang mana saya jawab dengan, nyalain heater, electric blanket selimutan pake duvet. Eeehh nggak taunya ada 3 orang lain yang jawab: workout, exercise bahkan lari malam hujan-hujanan. #eeaaaa seketika saya merasa cupu sekali. ๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ #anaktropis

Covered outdoor area at Naisha’s kindy

Yang pasti sih di tiap-tiap preschool/kindergarten/playcentre, umumnya ada covered outdoor area. Jadi mau hujan badai pun anak-anak masih bisa bahkan diagendakan untuk tetap bermain di luar ruangan. Sebagian kindy malah ada yang bisa tetap bermain pasir lho!

Hujan bukanlah halangan untuk siapapun tetap beraktifitas, tua maupun muda. Kecuali saya. Saya mau selimutan di rumah aja hahahaha… ๐Ÿ˜‚

Hmm apalagi ya yang menarik tentang hujan di sini yaa.. Satu yang saya suka sih, walau terbilang banyak hujan dan tanpa ada got terbuka (adanya saluran air di bawah jalanan), tidak terlihat genangan di jalan-jalan raya kota Wellington. Semua jalanan muluss tanpa lobang-lobang jebakan batman.

Saya sih kurang paham sistem drainase di Wellington seperti apa. Yang pasti terlihat sih, maintenance aspal jalan dilakukan secara rutin walau jalan belum berlubang sekalipun. Mudah-mudahan di Indonesia juga sudah sama ya kondisinya. Aamiin YRA.

Yak demikianlah cerita hujan dari kota angin. Salam (baru selesai) hujan dari Wellington, til the next post, see ya!

baca juga: Life in Wellington the Series Part 18: Wellington Saturday Market

Wassalaamu’alaikum wr. wb.

Life in Wellington Part 18: Wellington Saturday Market

Standard

Assalaamu’alaikum wr.wb.

Bagi warga Wellington, tentu tidak asing lagi dengan yang namanya Saturday/Sunday market. Pasar kaget yang hanya muncul satu kali dalam seminggu ini menjadi tujuan utama banyak orang untuk berbelanja sayuran dan buah-buahan segar. Saya sendiri karena satu dan lain hal sebetulnya jarang berbelanja di sana, tapi Sabtu lalu saya sempat mampir dan berbelanja seorang diri, kemudian terbersit ide untuk berbelanja santai (selama ini selalu rempong in a rush sambil gendong anak atau dorong stroller), sambil mengambil foto2 sebagai bahan tulisan di blog buat setoran 1 minggu 1 cerita. ๐Ÿ˜

Ada tiga lokasi pasar buah dan sayuran segar di Wellington city yang pernah saya kunjungi. Pertama, pasar yang Sabtu lalu saya kunjungi yaitu Newtown Saturday market. Pasar ini berlokasi di Newtown school (yup, di parkiran dan lapangan sekolah). Kemudian ada Sunday market/ harbourside market di samping Te Papa Museum dan juga laut area parkiran yacht (market with the best view!), serta Te Aro Sunday market di pojokan Victoria street/ Ghuznee street.

Pasar ini kebanyakan diisi oleh stall sayuran dan buahan hasil produksi lokal maupun impor, yang dibawa oleh para penjual dari daerah luar Wellington dengan truk-truk besar. Di gambar di bawah ini, bisa dilihat ada gorden merah di sebelah kiri sebagai background, nah itu gorden penutup bagian samping truk. Setidaknya ada 4-5 truk penjual yang kemudian memasarkan dagangan di atas “meja-meja” yang disulap dari kontainer buah/sayur di depan truk mereka.

How it works

Pasar kaget ini sifatnya swalayan. Di foto di bawah ini bisa dilihat seorang pembeli berjaket hijau mengambil plastik kuning yang telah disediakan, yang dapat diambil berapapun sesuai kebutuhan. Pembeli kemudian memasukkan buah/sayur sebanyak yang diinginkan ke dalam plastik tersebut, untuk kemudian ditimbang di meja kasir sesaat sebelum membayar. Namun tidak sedikit juga pembeli yang membawa tas daur ulang sendiri dalam rangka mengurangi penggunaan plastik.

Setelah selesai memilih buah/sayur yang akan dibeli, silakan menuju ke meja kasir yang biasanya berlokasi persis di bawah samping truk untuk antri membayar. Mencari kasir ini harus agak teliti ya, karena batas antara meja jualan dari satu penual dan penjual yang lainnya agak samar, kemungkinan kita ambil buah di penjual A namun bayar di meja B itu cukup besar kalau tidak memperhatikan dengan seksama. Jadi pastikan Anda membayar di kasir yang tepat ya!

Whats the difference

Perbedaan utama pasar kaget dengan supermarket tentu di harganya. Kebanyakan buah/sayur yang dijual di pasar harganya lebih murah dari harga supermarket, bahkan ada yang jauh lebih murah, namun tentu ada juga beberapa yang harganya kurang lebih sama. Sebagai contoh aja ya, Sabtu lalu saya di pasar beli brokoli $1.5 saja, sementara harga di supermarket $2.49. Semangka saya beli seharga $1.5 walau agak lebih kecil daripada semangka yang dijual di supermarket dengan harga $4.99. Semangka di pasar yang $5 juga ada, tapi lebih besar daripada semangka yang dijual di supermarket.

Selain perbedaan harga, kelebihan lainnya dari pasar kaget adalah keberagaman buah dan sayur yang dijual. Ada sayuran yang dijual di pasar, tapi tidak bisa ditemukan di supermarket. Contohnya kangkung. Minggu lalu di pasar saya menemukan kangkung (gambar di atas) seharga $2 saja. Agak langka nih, karena biasanya kangkung keluarnya sekitar Desember-Februari dengan harga umumnya $4-5 seikat. Kangkung di sini rasanya sama seperti di Indo, tapi ukurannya jauh lebih besar. Selain kangkung, saya juga menemukan bawang merah yang mirip dengan bawang merah Indonesia di pasar, dengan harga hanya $3.99 per kg. Bawang merah supermarket bentuknya lebih lonjong dan harganya 3 kali lipat, sekitar $12 per kg.

Tidak hanya lebih murah dan beragam, buah dan sayuran di pasar juga umumnya lebih segar. Banyak di antara buah dan sayur yang baru panen/petik, jadi fresh from the farm. Tapi tetap harus teliti dalam membeli ya, karena walau banyak yang segar namun ada juga buah dan sayur sisa stok penjualan sebelumnya.

Some (hopefully) useful tips

Beberapa tips dari saya ketika berbelanja di pasar adalah, satu, jangan sungkan-sungkan untuk keliling mencari harga yang paling murah. Tentunya masing-masing penjual punya harga yang berbeda, jadi hal yang pertama saya lakukan ketika sampai di pasar adalah membandingkan harga penjual satu sama lain. Untungnya harga sudah terpampang jelas semua jadi kita tidak perlu tanya penjualnya. Biasanya saya tidak membeli barang di satu penjual saja. Setelah keliling melihat harga, saya ingat-ingat barang yang mau saya beli dan harga termurah di penjual yang mana, kemudian saya beli di tempat termurah tersebut. Jadi bisa saja beli brokoli, bawang di penjual A, namun kangkung dan semangka di penjual B.

Tips kedua adalah, bawa uang cash, terutama uang receh. Warga New Zealand sudah sangat terbiasa dengan cashless system. Bahkan sebagian penjual di pasar pun memfasilitasi agar kita bisa membayar dengan kartu. Namun bagi saya saat berbelanja ke pasar adalah waktunya menjajakan koin yang saya punya. Kalaupun bawa uang lembaran, saran saya bawa nominal kecil saja, karena yakinlah, $20 pun sudah sangat cukup sekali untuk berbelanja di pasar.

Selain membawa tas daur ulang sendiri untuk berbelanja, saya sarankan untuk membawa tas tarik berroda khusus berbelanja. Kalau beli baru harganya sekitar $17-20. Tas ini sangat membantu sekali khususnya ketika sedang berbelanja cukup banyak dan berat. Namun harus berhati-hati juga ketika menarik, karena tanpa disadari kadang bisa menyangkut di meja atau bahkan kaki orang lain.

Selain stall buah dan sayuran, di pasar ini juga ada beberapa stall yang menjual barang pangan lain. Di antaranya telur, telur kampung (dikenal dengan sebutan free-range), tahu, mi basah, juga herbs (daun-daun yang digunakan untuk memasak). Di harbourside Sunday market bahkan banyak foodtruck dan stall makanan. Tidak jarang juga ada beberapa musisi yang mencari peruntungan dengan mengamen di pasar kaget ini.

Setelah selesai berbelanja, tidak ada salahnya untuk jalan-jalan di sekitar pasar. Seperti yang telah saya sebut sebelumnya, harbourside Sunday market punya pemandangan sekitar yang menarik dan tentunya instagrammable. Sementara di sekitar Newtown Saturday Market banyak kafe bertebaran yang menyuguhkan berbagai macam kopi Wellington yang (katanya) nikmat, menjadi favorit banyak orang termasuk duta besar Wellington Bapak Tantowi Yahya.

Salah satu kafe yang terletak di sekitar Newtown Saturday Market, lokasinya di Adelaide Road persis di seberang Newton school (juga pasar), pemiliknya orang Indonesia loh! Nama kafenya D-LOX cafe (gambar di bawah ini), pemiliknya namanya Mba Mila dan Mas Dwi. Katanya kadang kalau Sabtu beliau atau suaminya suka jagain kafenya, jadi jangan lupa mampir ke sana dan menyapa kalau bertemu ya. Sekian dan selamat berbelanja! ๐Ÿ˜Š

baca juga: Life in Wellington the Series Part 17: Before Departure and After Arrival

Wassalaamu’alaikum wr. wb.

Life in Wellington the Series Part 17: Before Departure and After Arrival

Standard

Assalaamu’alaikum wr. wb.

Gak kerasa udah akhir Januari lagi. Sebentar lagi semester pertama tahun akademik 2018 di New Zealand akan dimulai, yang berarti saatnya kedatangan para mahasiswa baru baik lokal maupun internasional, termasuk juga dari Indonesia. Mr. Ghifary sendiri menjejakkan kaki pertama kali di Wellington tanggal 28 Januari 2013. Sometimes we couldn’t believe it’s been 5 years ago and we’re still here! It’s actually something beyond our expectation and imagination. ๐Ÿ™‚

Anyway, kali ini saya mau kasih tips2 mengenai apa yang sebaiknya dilakukan sebelum berangkat ke dan setelah sampai di Wellington, khususnya buat para student baru yang akan kuliah di Victoria University of Wellington (VUW). Ohya di sini asumsinya udah pada dapat akomodasi ya.. Sekilas tentang housing bisa di lihat di tulisan saya sebelumnya..

Baca:ย Life in Wellington Part the Series Part 16: Housing

Before departure

1. Book arrival meeting service

Bagi mahasiswa Victoria Uni, ada layanan gratis penjemputan International student yang baru datang untuk pertama kalinya. Sangat disarankan untuk menggunakan layanan ini, karena selain menghemat biaya transportasi, Anda setidaknya akan bertemu kenalan baru baik student lama yang bertugas menjemput, maupun sesama international student baru saja datang. Ohya dapat bonus starter pack juga loh, isinya lumayan banget di antaranya sim card mobile phone dan snapper card (kartu untuk pembayaran bis umum). So, jangan lewatkan kesempatan emas ini! Lebih lanjut infonya bisa dilihat di sini.

2. Join Oztransfer [bukan iklan]

Oztransfer adalah usaha jasa kirim uang dari dan ke Indonesia, New Zealand, Amerika, pemiliknya warga negara Indonesia. Selama lebih dari 4 tahun terakhir, saya dan Mr. Ghifary selalu menggunakan jasa ini untuk mengirim uang dari dan ke Indonesia-New Zealand, dan alhamdulillaah kami merasa sangat puas dengan layanannya selama ini.

Bagi yang baru datang ke New Zealand, pasti ada kalanya butuh kiriman uang dari Indonesia. Saya sangat merekomendasikan untuk join dan buat account Oztransfer sebelum keberangkatan. Karena layanan ini menurut saya paling menguntungkan dibandingkan layanan kirim uang lainnya (bank trasnfer, western union), baik dari sisi biaya maupun lama waktu pengiriman. Namun begitu pembuatan accountnya butuh melalui beberapa proses, akan lebih memudahkan jika dilakukan saat masih di Indonesia, sehingga di New Zealand account sudah siap digunakan untuk transfer. Untuk informasi lebih lanjut, silahkan join fb page Oztransfer kemudian bisa message langsung adminnya untuk bantuan pembuatan account.

3. Check google street view

Sebetulnya ini tips penting ga penting, haha. Jadi alam kota Wellington itu lengkap, pantai ada, bukit ada, gunung ada. Kontur daratannya juga beragam, ada yang rata namun tidak sedikit area berbukit naik-turunnya. Kampus VUW area Kelburn misalnya, jalanannya utamanya adalah tanjakan. Jadi menurut saya, biar ada bekal dikit bolehlah ngecek kontur area jajahan di google street view. Biar ga kaget, lihat di map “ah cuma sekian km”, taunya nanjak terjal kan lumayan juga tuh hehehe..

4. Makanan

Agar memudahkan Anda di masa kedatangan, saat-saat di mana tempat berbelanja pun Anda belum tahu, saya sarankan untuk membawa mi/bubur instan dan berbagai makanan siap santap. Makanan siap santap yang bisa Anda bawa (baca: lolos imigrasi) di antaranya adalah: abon ayam/sapi, kering tempe, kering kentang kacang teri, serundeng. Jika koper masih kosong, tidak ada salahnya membawa rice cooker ukuran kecil, karena di sini kebanyakan rice cookernya (yang murah, ala student) mode warmernya kurang oke. Abis itu tinggal minta beras dan telor sama flatmate, and voila! your emergency dinner is solved ๐Ÿ˜‰

Baca: Life in Wellington the Series Part 7: Luggage

After arrival

1. Cek daerah jajahan

Tempat-tempat penting yang perlu dikuasai di awal kedatangan di antaranya adalah kampus, supermarket, halal meat butcher, masjid dan tempat jajan hehe. Transportasi dari dan ke kampus ataupun lokasi lainnya bisa dicek di situs metlink.org.nz, dengan mengisi form plan dan klik show my journey. Supermarket yang umum dijumpai adalah New World dan Countdown. Selain supermarket, bisa juga tanya dengan flatmates mengenai convenience store/minimarket terdekat, karena tidak semua suburb memiliki supermarket, namun hampir dipastikan ada minimarket di setiap suburb. Harga minimarket tentu sedikit lebih mahal dari supermarket, namun cukup praktis untuk beli kebutuhan kalau lagi urgent, juga bisa beli dan top up snapper card dan mobile sim card.

convenience store

2. Beli mobile sim card

Poin kedua dan ketiga ini khusus buat yang ga pakai layanan VUW arrival meeting. Tentunya penting sekali untuk punya no hp New Zealand. Harga sim card “cuma” $5 saja kok, bisa dengan mudah dibeli di supermarket (New World, Countdown) atau minimarket. Beli sim card provider apa? Sebagai pengguna setia 2 degrees, saya saranin beli 2 degrees aja. Ohya, $5 sim card itu belum ada pulsanya ya. Beli pulsa bisa online di situs 2degrees, atau bisa juga sekalian minta balance top up sama mba kasir supermarket. Minimum top up nya sebesar $20. Nanti sama mba nya dikasih struk nomor top up, semacam di alfamart gitu lah. Setelah punya balance $20, bagi pengguna 2 degrees, PLEASE jangan langsung pake telpon atau sms, tapi langsung beli paket Carry combo seharga $19, yang mana jauh menguntungkan karena tarif dasar telpon itu mahal. Sementara si Carry combo ini gratis nelpon sms ke manapun (well ada kuotanya but trust me its more than enough it feels like free tak berbatas), gratis 1.25gb mobile data semuanya selama sebulan. Cara beli paketnya? Cukup kirim message BUY 19CARRY ke 233.

3. Beli snapper card

Seperti yang saya sebut di atas,

Theย Snapper cardย is a contactless electronic ticketingย cardย used to pay for bus fares and other everyday items, such as taxis, food and coffee, in New Zealand”.

Secara harga, lebih menguntungkan bayar tarif bis dengan snapper card, karena lebih murah. Jadi ada baiknya sebelum Anda bepergian dengan bis, beli dan isi ulang dulu kartu snapper Anda. Snapper card bisa dibeli di minimarket. Tapi untuk balance top upnya selain bisa dilakukan di tempat beli kartu, bisa juga di mesin khusus snapper top up. Mesin ini bisa ditemui di: kampus, Wellington Central Library, Wellington I-Visite information centre. Untuk balance top up snapper tidak ada nilai minimum, tapi kartu snapper hanya bisa digunakan jika tersedia balance setidaknya $1.66 (seharga tarif 1 zone).

4. Buka rekening

Ada beberapa bank di New Zealand seperti ASB, Westpac, tapi entah mengapa dari pengamatan saya yang mahasiswa Indonesia umumnya menggunakan bank ANZ, mungkin karena ada cabangnya di kampus ya. Sebagai pemilik rekening ANZ, saya merekomendasikan bank ini karena kami pribadi sangat puas dengan layanannya baik offline maupun online. Proses pembuatan rekening ANZ pun cepat sekali dan mudah. Saran saya buat kartu kreditnya sekalian, dan bagi yang sering kehilangan barang ada baiknya kartu debitnya bukan yang tipe paywave (bayar hanya dengan sentuhan kartu tanpa nomor pin). Lebih lanjutnya bisa langsung datang ke kantor cabangnya ya, di mana saja bisa tidak perlu di daerah tempat Anda tinggal.

5. Transfer uang via oztransfer

Nah, kalau udah punya rekening bisa langsung coba layanan Oztransfer deh. Untuk kursnya bisa tanya langsung sama staffnya via fb/wa. Biayanya sendiri gratis kalau dari Indonesia ke New Zealand, sedangkan dari New Zealand ke Indonesia ada charge $7 setiap pengiriman. Try it and thank me later! ๐Ÿ˜‰

6. Jalan-jalan!

Sudah sampai, sudah selesai urusan kedatangan di kampus, sudah tau di mana tempat-tempat penting, tapi perkuliahan belum dimulai? Waktunya Anda jalan-jalan! There are too many things too do and see here in the coolest little capital city in the world. Bahkan saya yang udah hampir 5 tahun di sini aja belum khatam semua daerah/aktivitas. But for the start, you can read and follow my previous post below ๐Ÿ˜€

Baca: Life in Wellington the Series Part 12: Where to Go?ย 

Oke deh, segitu dulu tipsnya semoga membantu para student baru untuk settle ya.. Jangan lupa kalau ketemu saya say hi yaa… Saya seneng banget kalau ada student baru yang pernah mampir blog saya terus menyapa di Wellington. Tapi sayang kok udah lama ga ada ya hahahaha… See you in Wellington! ๐Ÿ™‚

Baca juga: Life in Wellington the Series Part 16: Housing

Wassalaamu’alaikum wr. wb.

Life in Wellington the Series Part 16: Housing

Standard

Assalaamu’alaikum wr. wb.

Sudah sebulan lebih sejak saya kembali ke Wellington dan tinggal di rumah kontrakan yang baru. Rumah ini adalah rumah kontrakan ke-4 bagi saya, dan ke-6 bagi Mr. Ghifary selama kami tinggal di Wellington. Duluuu sekali, ketika masih tinggal di rumah yang pertama, seorang teman student berkata, “Ada anekdot yang bilang, tinggal di Wellington itu minimal tinggal di 4 rumah yang berbeda”. Saat itu saya ga percaya, mostly karena saya males sering2 pindah. Ah masa sih, ga akan pindah sering2 deh, pikir saya ketika itu. 4 tahun kemudian, saya pindah untuk ketiga kalinya, dan akhirnya merasakan juga, tinggal di 4 rumah berbeda.

Karena udah cukup makan asam garam di ranah rumah dan pindahan, kali ini saya mau cerita tentang housing di Wellington. Saya akan ceritakan tahapan proses mendapatkan rumah, namun initial statenya si pencari rumah sudah berlokasi di Wellington yaaa..

1. Cari iklan rumah

Situs paling mumpuni untuk pencarian rumah (dan barang lainnya) di New Zealand adalah situs trademe.co.nz/property. Tinggal cari rumah yang diinginkan sesuai dengan kriteria Anda, akan langsung keluar pilihannya. Pastikan Anda memasukan kriteria sedetail mungkin, untuk membatasi hasil pencarian. Baca baik-baik iklannya, pastikan sesuai dengan kondisi Anda (jumlah tenant, hewan peliharaan, dsb). Buka google maps (fitur bawaan trademe) untuk memastikan lokasi rumah, mengecek jarak rumah dari bus stop, memastikan ketinggian jalanan (apakah berbukit atau tidak).

Jika ada rumah yang diminati, hubungi kontak yang tersedia untuk membuat janji waktu viewing (melihat rumah). Saran saya, semakin banyak viewing rumah, semakin bagus. Karena kecil kemungkinan Anda berjodoh dengan rumah yang pertama kali di-view (didatangi).

2. Viewing

Pada hari H viewing, datanglah sepagi mungkin. Besar kemungkinan Anda bukanlah satu-satunya orang yang viewing. Beberapa landlord (yang menyewakan rumah) ada yang menggunakan metode first come first served jika kandidat penyewa ada banyak yang cocok dengan kriteria landlord, jadi ga ada salahnya datang paling awal. Tanya sebanyak-banyaknya dan sedetail-detailnya semua pertanyaan yang dimiliki ke landlord. Pertanyaan yang biasa saya ajukan saat viewing:

  • masa kontrak minimum, dan apakah fleksibel bisa tiba2 berhenti atau tidak
  • besarnya bond (uang jaminan, akan dikembalikan ketika kontrak rumah selesai, besarnya tergantung kndisi rumah saat kita tinggalkan)
  • letting fee (komisi agen yang mnyewakan rumah)
  • jumlah maksimal tenant
  • apakah boleh ada anak kecil
  • whiteware furniture included apa aja
  • insulated (metode terbaru penghangatan rumah) atau tidak
  • all day sun atau tidak
  • cara apply rumah

3. Aplikasi

Jika merasa cocok dengan rumah yang telah di-view, saatnya untuk meng-apply. Untuk ini kita butuh application form, yang bentuknya tidak seragam, tergantung masing-masing landlord. Ada landlord yang meminta apply via online, tapi lebih banyak landlord yang saat viewing membawa application form dalam bentuk kertas. Untuk form kertas, umumnya landlord meminta kita mengisi di rumah kemudian dikirim hasil scannya melalui email, tapi ada juga yang meminta kita mengisi form langsung pada saat viewing.

Hal yang cukup penting saat mengisi aplikasi adalah referensi. Anda akan diminta untuk memberikan minimal 2 nomor telp reference. Reference pertama, landlord Anda sebelumnya (jika ada). Reference sisanya adalah nama orang lain (bisa siapa saja kenalan Anda). Landlord akan melakukan kroscek terhadap orang yang nomornya Anda masukan sebagai reference. Jadi sebaiknya Anda lebih dahulu menghubungi teman Anda yang nomor teleponnya dimasukkan sebagai reference.

4. Pemilihan oleh Landlord

Seperti yang saya tulis sekilas di atas, umumnya peminat dari rumah itu ada banyak. Dari sekian banyak yang viewing, memang tidak semuanya akan mengisi form aplikasi, tapi biasanya akan lebih dari satu. Jika yang mengisi form aplikasi lebih dari satu, maka landlord akan melakukan pemilihan berdasarkan kriterianya sendiri. Di rumah saya yang ke2, landlord memilih saya dan teman2 saat itu murni karena kami datang paling awal. Di rumah yang ketiga, sepertinya kami terpilih karena profile keluarga kami paling cocok dengan kriteria landlord, dibandingkan dengan saingan kami yang lain. Namun begitu, tidak sedikit juga aplikasi form kami yang tidak diterima oleh landlord (rejected). Oleh karena itu jangan sedih kalau memang belum terpilih, karena memang ini hal yang biasa terjadi. Ohya proses dari pengisian formulir hingga kabar terpilih bisa berbeda-beda lamanya, tapi biasanya hanya butuh 1-3hari saja.

5. Kontrak dan Pembayaran

Jika Anda sudah dikabari terpilih oleh landlord, maka proses berikutnya adalah tanda tangan kontrak dan pembayaran. Ada beberapa elemen pembayaran yang harus dibayarkan dalam menyewa rumah di New Zealand.

  • Letting Fee, yakni komisi bagi agen. Besaran letting fee umumnya sebesar harga sewa satu minggu ditambah pajak. Biaya ini bisa tiada jika landlord merupakan owner rumah langsung dan tidak menggunakan agen.
  • Bond. Uang jaminan. Besarannya antara 2-4 x harga sewa rumah satu minggu
  • Rent in Advanced. Umumnya landlord akan meminta bayaran sewa sebesar 2minggu pertama dibayarkan di muka.

Seapes-apesnya, Anda harus siap uang sebesar 7x harga sewa per minggu supaya bisa resmi mengontrak rumah yang diinginkan (1week utk letting fee + 4week utk bond + 2week rent in advanced). Setelah selesai pembayaran, Anda akan diminta tanda tangan kontrak, bisa tatap muka bisa juga kirim lewat email. Done! Selamat menikmati rumah baru. ๐Ÿ™‚

Ohya, di awal saya bilang proses ini untuk mereka para pencari yang sudah berlokasi di Wellington. Kenapa? Pertama, account Trademe hanya bisa dibuat oleh mereka yang berlokasi di New Zealand. Kedua, untuk bisa deal kontrak rumah di sini, viewing adalah suatu keharusan. Jadi bagi Anda yang masih tinggal di Indonesia atau luar New Zealand, hampir tidak mungkin untuk tekan kontrak jika Anda belum masuk New Zealand. Kalau begitu bagaimana cara para mahasiswa baru (dari Indonesia) dapat akomodasi? Jawabannya adalah tinggal di akomodasi sementara, sambil mencari tempat tinggal tetap. Beberapa pilihan akomodasi sementara:

  1. Airbnb
  2. Motel atau backpacker hotel
  3. Mengisi kamar kosong sementara (biasanya ditinggal owner liburan atau ambil data)

Paling menguntungkan tentu pilihan nomor 3. Selain karena biasanya lebih ramah kantong, menempati kamar dari flatshare berarti bertemu student lain yang telah tinggal lebih dahulu di Wellington. Tentu tinggal dengan “senior” memberi berbagai keuntungan bagi para newbie. Untuk info kamar kosong, ada baiknya Anda bertanya di fb page Perhimpunan Pelajar Indonesia – Wellington atau dengan kenalan sesama student yang sudah lebih dahulu tinggal di Wellington.

Ohya ada satu lagi opsi, yaitu di rumah saya. ๐Ÿ˜€ Kebetulan saya akan pindah ke rumah 3 kamar per 1 feb 2018, dan ada satu kamar kosong bisa kami sewakan bagi yang benar2 butuh banget akomodasi karena ga dapet di mana2 misalnya. Buat short term aja sih karena rumah kami tidak terlalu dekat dengan area kampus. Untuk info lebih lanjut email saya aja ke twindania@gmail.com ๐Ÿ™‚

Kembali ke housing. Dari sudut pandang student, harga rumah di New Zealand tentu tidak murah. Baik Anda yang single maupun berkeluarga, menurut saya flatsharing adalah pilihan yang reasonable. Suatu saat ada yang pernah tanya kenapa saya flatsharing. Saya jawab, “Saat ini ada rejekinya rejeki flatsharing. Kalau ada rejeki rumah sendiri tentu saya akan sewa rumah sendiri sekeluarga”. Karena dengan flatsharing, berbagai beban seperti bond, letting fee, biaya internet, listrik bisa ditanggung bersama. Dan tentu biaya sewa bisa ditekan hingga 50% nya. Saya dan suami sudah pernah flat sharing di 2 rumah yang berbeda, kedua rumah kami cari bersama dengan flatmates kami yang lain. Khusus tentang flat sharing pernah saya tulis di sini.

Satu tips terakhir yang ingin saya berikan adalah, bagi Anda yang berkeluarga (terutama jika bawa anak), saya sarankan supaya suami atau istri yang akan kuliah untuk datang duluan. Sedangkan pasangan dan anak menyusul kemudian paling cepat 3-4 minggu kemudian. Alasannya karena keseluruhan proses pencarian rumah ini tidak mudah. Paling cepat butuh 1-2minggu untuk mendapatkan rumah (Mr. Ghifary butuh 10hari hingga pindah ke rumah kami saat ini), namun bisa juga sampai 1 bulan kalau lagi kurang beruntung. Sudah dapat rumah pun, Anda hampir pasti harus mengisi rumah dengan furniture, karena rumah di sini hampir semuanya disewakan unfurnished. Akan lebih memudahkan bagi keluarga terutama anak, jika pindah ke Wellington ketika tempat tinggalnya sudah fix dan sudah siap untuk ditempati.

Sekian dulu tulisan saya kali ini, semoga bermanfaat dan selamat mencari rumah! ๐Ÿ™‚

Baca juga: Life in Wellington the Series Part 15: Dissapointed

Wassalaamu’alaikum wr. wb.

Life in Wellington the Series Part 15: Disappointed

Standard

Assalaamu’alaikum wr. wb.

Warning: tulisannya campur2 indo-inggris suka2 penulis, karena ada yang lebih dapet feelnya kalau ditulis bahasa inggris, ataupun enakan bahasa indo karena saya bingung bahasa inggrisnya apa. Harap dimaklumi dan dimaafkan. Salim.

Tinggal selama 4 tahun lebih di Wellington, alhamdulillaah saya betah. Banyak faktor yang buat saya betah, yang mungkin cukup tergambar dari beragam tulisan saya selama ini tentang kehidupan di sini. Tapi salah satu faktor yang sepertinya belum pernah saya ceritakan di sini adalah, betapa saya sangat puas dengan kinerja pemerintah kota Wellington dalam mengurus kotanya. Dalam memanjakan penduduknya.

I feel really really spoiled as a Wellington City citizen. I always thought, Wellington city goverment is like an unreal ideal boyfriend. This boyfriend who always try hard to impress you, to comfort you, to provide the best in everything for you even if you don’t ask for it, even if you didn’t realized before that they are able to do/provide it, the boyfriend who always makes you feel loved, and makes you love him more and more. Aww, I sound too melodramatic, aye? Blame the romcom part of me (and kdrama!). ๐Ÿ˜‰

In not a romance way, I’d say that the Wellington City government has done, and still is doing a great job for their citizen, and what they’ve been doing keep making me wants to stay here in Wellington longer and longer. I just love this coolest little capital city in the world! Even though for some kiwis, things might felt a bit different. Of course there are still rooms for people to complain, but coming from a developing country, so far Wellington city goverment’s works for me is beyond my expectation.

Back to boyfriend analogy. So for the past 4 years, this boyfriend never fail to amaze me. This boyfriend never stop to amuse me. Never have I ever been dissapointed because of this boyfriend, until yesterday.

Yesterday morning, Naisha, Rumi and I were on our way to the bus stop from our house when suddenly Naisha wanted to pee. I checked the nearest plunket (posyandu), buy it was closed. So we thought we’ll just go to the public toilet near the bus stop.

Fyi, the bus stop we’re going to is located in our suburb shopping area. In Wellington, there should be public toilets available in every suburb, usually located in shopping area. All toilets in Wellington city, wherever the suburb is have the same feel or atmosphere, though some of them have more update technology (i.e. audio guide, braille guide, etc) than the others. But overall the toilets are clean and good enough especially for moms with children like me (they have baby seat!).

Yesterday was the first time we tried our local public toilet since moving to our new suburbs 3weeks ago. Since I was rushing Naisha so that she’d safe from pee accident, I didnt realized that there was a sign saying toilet out of order. I just opened the toilet door straight away when we arrives. And it finally happened. The first time I get disappointed by the boyfriend.

The sight of the toilet was horrible. Its not really easy to describe it here. Not only the toilet not working (can’t flush, no toilet paper), but also trashes and curse writing (first time I’ve ever seen) was all over the toilet. I was like, oh my, Wellington. What have you done? For me, the chaos inside was not like something that happened just last night. It felt like it has been like that for at least a few days. That was actuallyย  what upset me. The sign clearly saying it’s out of order, but why it still is out of order until now?

Mungkin kedengeran lebay banget ya, toilet rusak aja kecewa. Tapi mengingat waktu itu Naisha kebelet banget sementara itu toilet satu2nya, sebagai kota yang dikit2 selalu minta masukan warganya, yang tanpa ditanya atau diminta selalu menyediakan kemudahan berkehidupan sehari2 bagi warganya, agak janggal ada public toilet yang dibiarkan rusak berhari2. Why Wellington, why?? Akhirnya Naisha terpaksa tetep pipis di situ dong huhuhuhu…

Still a bit upset and disappointed, saat itu juga saya langsung search buat layanan komplain/saran ke pemkot Wellington. Tentunya info tersebut dengan mudah tersedia di website, dengan beberapa pilihan jalur komunikasi. Saya memilih untuk sms aja, gratis kirim smsnya.

I texted, “Hi, the only public toilet in Strathmore Park Shop is out of order. I hope you can help fix it asap. Cheers”. 5 menit kemudian, sms saya dibalas. “Thank you for your text. Yes we are aware of this. The toilet was recently vandalised.ย  I will follow this up for you now”.

See, they already knew about the problem. Whyyyy still not fixed yet?? And yes, someone vandalised the toilet, that explained the chaos sight. Which made me upset about something else. To the person who did that. Why Wellingtonian, why??? 4 years and never I have seen any vandalism everywhere I go. Why you did this?? No more, never please.

So yeah that happened yesterday. This morning we passed by the public toilet, and guess what? Someone was there doing cleaning and fixing! Yayyy!! I was so happy, I felt like the boyfriend really listened to what I said, he cares :’-). #terharu Tapi emang defaultnya Wellington tuh emang begitu seharusnya, quick following up and do their best. Makanya sayah baper dan kecewa berat pas anak lagi kebelet2nya nemu toilet satu2nya rusak berantakan.

Agak sorean saya naik mobil ngelewatin lagi si public toilet, dan alhamdulillaah udah ga ada tulisan out of order, walaupun saya belum sempet ngecek dalemnya.

Yah begitulah kisah saya pertama kali kecewa sama Wellington (govt). Tapi alhamdulillaah happy ending. Jadi pengen cerita lebih jauh tentang sweet things this unreal ideal boyfriend ever did to its citizen sampe segitunya perasaan saya sama dia. Insya Allah kapan2 ya!

Baca juga: Life in Wellington the Series Part 14: 9 Must Knows Before Moving to Wellington

Wassalaamu’alaikum wr. wb.

Life in Wellington the Series Part 14: 9 Must Knows Before Moving to Wellington

Standard

Assalaamu’alaikum wr. wb.

Beberapa waktu yang lalu, teman Indo sesama istri student di Welly menampilkan print screen dari sebuah artikel tentang ‘8 Must knows before you even think about moving to New Zealand’ di facebook page nya. Dengan sedikit bercanda, dia berkata “just found this article today.. a little bit too late haha…”. Setelah saya baca artikelnya, saya rasa isinya memang penting diketahui buat mereka yang ingin/akan pindah menetap ke Wellington khususnya, dan New Zealand pada umumnya. Ohya, sebetulnya saya pernah bikin post ini degan judul mirip2 sih. Tapi bedanya artikel ini lebih ke poin2 negatifnya New Zealand. Siapa tau abis baca artikel ini yang tadinya udah semangat pengen pergi jadi tiba2 mikir 2 kali, hehe..

Berhubung artikelnya udah keren dan saya seorangย pemalas, jadi saya ga akan nulis ulang isi artikelnya ya. Langsung aja cek ke TKP..ย Loh, di artikel cuma ada 8 poin, tapi kok di judul post ini ada 9? Well, 8 poin tersebut jelas berlaku di kota Wellington. Namun sepertinya saya ingin kasih satu poin tambahan dari sudut pandang saya pribadi, tentang hal ga kalah penting yang harus Anda ketahui sebelum pindah *khususnya* ke Wellington.

9. Welly is a No Glam City. Jangan harap Welly kaya Jakarta dengan segala gemerlap kota besarnya ya. Yang segala ada, selalu nyala. Sayangnyaย ga ada mirip2nya. Di Wellington city mah mall aja ga ada. Apalagi MANGO, ZARA, IKEA. *ini saya sok2an nyebut merk padahal beli aja ga pernah*. Mall terdekat dari city? Jam 6 sore udah tutup saudara-saudara. Pokoknya klo cari hingar bingar gaulnya kehidupan kota metropolitan, turn around mate, it’s just not the place.

Gimana, kira2 jadi pindah ke Welly atau nggak nih? ๐Ÿ˜€ Meminjam kalimat di forum website pada link artikel di atas, It is cold, it is ย a bit pricey. But living in Welly, “I feel like a rich man in everything except money.” ๐Ÿ™‚

Baca juga: Life in Wellington the Series Part 13: The Wellington Way

Wassalaamu’alaikum wr. wb.