Category Archives: Cerita Bapak Ghifary

Diskusi Panel Tentang Kecerdasan Buatan

Standard

Assalamualaikum wr. wb.

Akhirnya pertama kali menulis terkait tentang pekerjaan di blog ini.

Salah satu kegiatan terkait pekerjaan yang menjadi sering dijalani sepulangnya ke Indonesia adalah menjadi pembicara di berbagai kuliah tamu, konferensi, meet-up, sharing session, diskusi panel, dan sebagainya. Semasa sebelumnya berkarir di New Zealand, tidak banyak kegiatan yang terkait menjadi pembicara / memberikan presentasi.

Ini mungkin juga menunjukkan bahwa topik terkait bidang keahlian saya, yaitu kecerdasan buatan (artificial intelligence / AI), juga sedang naik daun di Indonesia. Akhir-akhir ini cukup banyak acara dan kegiatan bertema AI. Dan cukup banyak pula undangan-undangan untuk menjadi pembicara yang tidak bisa saya penuhi.

Kamis minggu lalu (13/02/2020) merupakan “penampilan” pertama menjadi narasumber di sebuah diskusi panel sepeninggal Syva. Sebelumnya hampir saja saya membatalkan undangannya karena merasa belum siap lahir dan batin. Masih merasa tingkat kegelisahan berada di titik tertinggi dan tingkat kepercayaan diri di titik terendah.

Namun setelah dipertimbangkan ulang dan juga saran-saran dari teman ataupun berbagai sumber bacaan, sebaiknya “dipaksakan” saja untuk kembali kepada rutinitas agar pemulihan batin berjalan lebih cepat.

Acara diskusi panel tersebut diselenggarakan oleh cognixy.ai, salah satu startup di bidang AI di Indonesia, bekerja sama dengan STEI ITB dengan tema “AI for Indonesia: The Hope and Challenges”.

Di awal sesi masing-masing pembicara diminta untuk menyampaikan presentasi singkat sebagai pembuka. Saya ingin sedikit mengulas di sini apa saja yang saya sampaikan pada presentasi tersebut.

Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence)

Saat ini, AI mungkin sebuah bidang ilmu/teknologi yang sudah tidak asing lagi bagi banyak orang. Pendek kata, AI merupakan segala hal yang berkaitan dengan pembuatan mesin/program komputer yang dapat meniru aktifitas kecerdasan yang biasanya dilakukan oleh manusia. Bidang ini bermula dari motivasi untuk memahami kemampuan kognitif manusia lebih jauh.

Kecerdasan manusia sendiri pun merupakan hal yang sangat kompleks, yang memiliki sejarah kajian yang sangat panjang baik secara biologis, psikologis, maupun filosofis. Namun, paling tidak, kecerdasan manusia mencakup aspek belajar, bernalar, inferensi, prediksi, melakukan perencanaan, dan memecahkan masalah.

Kecerdasaan buatan pun bukan barang yang sepenuhnya baru — telah menjadi disiplin ilmu tersendiri sejak tahun 1950an. Bidang ini telah mengalami siklus naik dan turun, dimana pada suatu periode mendapatkan antusiasme yang tinggi namun pada periode lainnya mengalami pesimisme. Masa pesimisme ini dikenal dengan periode AI winter.ย 

Singkat cerita, terutama sebelum tahun 2010, perkembangan AI dominan pada proyek penelitian di laboratorium dan tidak banyak produk kecerdasaan buatan yang dapat dimanfaatkan di ranah praktis.

Pemelajaran Mesin (Machine Learning)

Saat ini dapat dikatakan situasinya berbeda. Banyak terobosan pada teknologi AI yang dampaknya signifikan pada ranah aplikasi, terutama di bidang computer vision dan natural language processing.

Terobosan-terobosan tersebut dicapai melalui sub-bidang dari AI yang dikenal dengan istilah pemelajaran mesin (machine learning), yang merupakan aspek belajar dari AI. Belajar yang dimaksud yaitu kemampuan program komputer atau model untuk meningkatkan performa melalui data, yang mayoritas dilakukan dengan pendekatan statistik.

Pemelajaran mesin juga merupakan bidang ilmu yang hampir sama usianya dengan AI itu sendiri. Alasan utama mengapa pemelajaran mesin sukses mencapai terobosan-terobosan sekarang ini disebabkan, paling tidak, oleh 2 hal:

  1. Ketersediaan data yang berlimpah
  2. Perkembangan komputasi hardware

Dahulu, kedua hal tersebut merupakan bottleneck bagi metode pemelajaran mesin untuk bekerja dengan baik.

Terdapat beberapa paradigma pada pemelajaran mesin: supervised learning, unsupervised learning, reinforcement learning, dan sebagainya. Di antara paradigma-paradigma tersebut, supervised learning merupakan yang saat ini paling berhasil pada ranah aplikasi. Dapat dikatakan sekitar 80-90% dari pemanfaatan pemelajaran mesin dicapai melalui supervised learning.

Supervised Learning

Cara kerja dari supervised learning pada dasarnya mencari mempelajari / membentuk sebuah model atau fungsi matematis diberikan sejumlah besar data (dapat berjumlah jutaan) dalam bentuk input-output yang telah terdefinisi dengan jelas. Model yang sudah belajar dari data tersebut kemudian akan dipergunakan untuk melakukan prediksi: memberikan output yang tepat dari suatu input, yang boleh jadi belum ada pada data yang digunakan untuk belajar. Salah satu model yang sangat efektif untuk melakukan prediksi semacam itu adalah deep learning network.

Dengan ide sesederhana itu, banyak sekali problem-problem dunia nyata yang dapat dipecahkan, antara lain:

Spam filtering

  • Input: metadata pada pesan email (judul, subyek, isi, dsb)
  • Output: spam atau bukan spam

Machine translation

  • Input: teks dalam suatu bahasa (contoh: B. Inggris)
  • Output: pasangan teks dalam bahasa lain (contoh: B. Indonesia)

dan sebagainya.

Sebagian kalangan, terutama yang bukan dari latar belakang teknis komputasi, ketika menyebut tentang AI, yang sebenarnya dia maksud adalah supervised learning. Cakupan AI sebenarnya jauh lebih luas dari supervised learning.

Perkembangan Riset Fundamental tentang AI Buatan

Walaupun supervised learning telah berhasil melakukan berbagai terobosan, komunitas AI terus melakukan upaya untuk melakukan perbaikan dan peningkatan terhadap kemampuan AI. Paling tidak, ada dua hal yang saat ini membatasi pengembangan AI yang lebih powerful: i) ketergantungan terhadap data yang berformat input-output berjumlah besar, ii) kemampuan prediksi yang masih cukup sederhana.

Baru-baru ini, tiga penerima Turing Award tahun 2019 (semacam Nobel Prize untuk bidang komputasi), Geoffrey Hinton, Yann Lecun, dan Yoshua Bengio, memberikan presentasi di konferensi AAAI 2020 yang dapat disimak di https://www.youtube.com/watch?v=UX8OubxsY8w. Kurang lebih apa yang mereka sampaikan itulah yang menggambarkan keadaan teknologi atau kemampuan AI saat ini.

Mengutip apa yang disampaikan oleh Yann Lecun, terdapat 3 problem yang sedang dikaji oleh para ilmuwan AI:

  1. Belajar melalui data yang lebih sedikit
  2. Belajar untuk melakukan penalaran
  3. Belajar untuk membentuk perencanaan dalam bentuk rangkaian aksi / instruksi

dimana manusia mampu melakukan hal tersebut jauh lebih baik daripada AI.

Pengembangan AI untuk Ekonomi Berkembang

Semua cukup sepakat bahwa teknologi AI saat ini akan berkontribusi menghasilkan disrupsi teknologi yang berpotensi menawarkan masa depan yang lebih baik bagi umat manusia, sekaligus memiliki resiko atau tantangan.

Pertanyaan besar untuk kemajuan Indonesia: bagaimana kita seharusnya mengembangkan dan memanfaatkan AI?

Salah satu tantangan terbesar dari ekonomi berkembang dibandingkan ekonomi yang telah maju untuk mengadopsi AI adalah kesiapan data digital dan juga infrastruktur komputasi. Negara-negara seperti U.S., Kanada, Australia, dan sebagian negara-negara di Eropa telah lama memiliki ekosistem data digital dan komputasi yang sudah dewasa. Ditambah lagi dari sisi pengembangan fundamental AI, mereka sejak lama telah memulainya.

Namun demikian, bukan berarti negara berkembang tidak ada kans sama sekali untuk memanfaatkan AI demi kemajuan negara. Secara umum, ekosistem AI secara global sendiri belum bisa dikatakan di level yang matang. Masih banyak peluang, permasalahan, atau area yang belum terjamah oleh teknologi AI. Oleh karena itu, hal pertama yang dapat dilakukan adalah dengan terus mencari dan menciptakan nilai guna yang unik dimana AI dapat bermain di sana.

Salah satu contoh nilai guna unik yang semestinya kita sendiri yang mengembangkan adalah model bahasa natural (NLP model) yang efektif, spesifik untuk menangani pemrosesan bahasa Indonesia beserta berbagai variasinya dan juga menangani bahasa lokal. Problem ini unik karena kitalah yang benar-benar mengerti domain bahasa domestik kita sendiri dibandingkan pemain-pemain dari luar. Bayangkan kita memiliki mesin translasi untuk menerjemahkan bahasa apapun ke dalam bahasa Indonesia dengan akurasi yang cukup tinggi, ataupun menerjemahkan semua bahasa lokal yang kita miliki satu sama lain, baik melalui teks maupun melalui audio.

Hal kedua yang dapat dilakukan adalah berfokus pada sektor-sektor tertentu yang benar-benar menjadi keunggulan kita atau yang benar-benar ingin kita selesaikan permasalahannya. Kita tidak harus sepenuhnya mengikuti jejak pengembangan AI yang sudah dilakukan pada negara maju, yang pendekatannya cenderung holistik mengarah penemuan dan eksplorasi pada berbagai aspek. Yang perlu dilakukan adalah memposisikan teknologi AI sebagai katalis untuk mendorong percepatan sektor-sektor tertentu, meminjam prinsip yang disampaikan oleh Jim Collins pada bukunya yang berjudul Good To Great.

Yang ketiga adalah dengan memperkuat sinergi antara institusi privat dan publik dalam pengembangan AI. Hal ini mungkin tidak hanya berlaku khusus pengembangan AI saja, melainkan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada umumnya. Sudah bukan jamannya lagi masing-masing institusi untuk berjalan sendiri-sendiri karena yang akan dihasilkan hanyalah perlambatan kemajuan.

AI untuk Pengembangan Manusia

Menurut saya, aspek yang sangat penting yang harus kita selesaikan adalah pengembangan manusia itu sendiri, yang mencakup kesehatan, pendidikan, dan standar ekonomi/pendapatan perkapita. Pengembangan AI mesti diselaraskan dengan quick wins apa yang mau dicapai dan juga strategi nasional pada aspek pengembangan manusia yang dapat mengakselerasi peningkatan human development index (HDI).

Contoh quick win yang dapat dilakukan dengan AI dan langsung mengarah kepada peningkatan HDI misalnya mengarah kepda aspek usia harapan hidup bayi yang baru lahir. Salah satu penyebab kematian bayi adalah birth asphyxia, kondisi dimana bayi mengalami kekurangan oksigen yang terjadi dalam waktu yang cukup lama hingga mengakibatkan gangguan fisik terutama pada otak.

Pada daerah terutama di luar kota besar, seringkali akses terhadap sumber daya kesehatan sangat terbatas dan kurangnya pengetahuan dari masyarakat sehingga birth asphyxia sulit untuk dideteksi sejak dini. Dengan penetrasi internet dan telepon seluler, kita dapat mengembangkan aplikasi berbasis AI yang dapat dipasang pada telepon seluler untuk mendeteksi birth asphyxia melalui suara tangisan bayi sebagai indikator. Salah satu start-up dari Nigera sudah memulai pengembangan ini. Inisiatif semacam inilah yang perlu didorong lebih kencang oleh institusi pemerintah mauapun privat.

Tentunya masih banyak lagi problem-problem pada pengembangan manusia dimana AI berpotensi untuk membantu penyelesaiannya.

Pada dasarnya peran AI sama halnya dengan teknologi yang sudah diciptakan sebelumnya seperti listrik, mesin uap, dan lain-lain, yang dapat memicu terjadinya revolusi industri. Sifatnya pun netral, dalam artian teknologi itu sendiri tidak menentukan bagaimana skenario yang terjadi pada kehidupan manusia akibat munculnya teknologi tersebut: apakah terjadi skenario utopia, distopia, ataupun di tengah-tengah.

Hasrat kolektif kitalah yang lebih kuat untuk menentukan skenario apa yang ingin kita jalani dengan penggunaan AI. Menurut saya, kita kembalikan pengembangan AI kepada motivasi awalnya, yaitu untuk memahami kita sendiri agar meningkatkan kemampuan kita sebagai manusia baik secara individu maupun kolektif.

Wassalamualaikum wr. wb.

3P yang Menghambat Pemulihan

Standard

Assalamu’alaikum wr. wb.

Judul di atas merupakan topik yang dibahas pada Bab I buku Option B: Facing Adversity, Building Resilience, and Finding Joy, yang ditulis oleh Sheryl Sandberg dan Adam Grant. Sheryl Sandberg merupakan Chief Operating Officer (COO) dari Facebook, yang tentunya sudah tidak asing lagi bagi para pegiat teknologi dan media sosial. Adam Grant merupakan teman dari Sheryl yang juga seorang profesor psikologi di Wharton School of the University of Pennsylvania.

Penulisan buku tersebut termotivasi dari tragedi kematian mendadak suami dari Sheryl Sandberg, Dave Goldberg, pada tanggal 1 Mei 2015 ketika mereka sedang menikmati liburan keluarga. Dave ditemukan di ruangan gym dalam keadaan tidak sadar, terbaring di atas mesin eliptis dan tak lama kemudian meninggal dunia. Penyebab kematiannyaย  kemudian diketahui disebabkan karena cardiac arrhythmia.

Sheryl dan Adam mencoba membagikan pengalaman dan pengetahuannya bagaimana bertahan dan bangkit kembali dari keterpurukan karena ditinggalkan oleh seseorang yang dicintai pada buku tersebut.

Terima kasih kepada dua orang teman yang merekomendasikan buku ini ke saya. Saya sendiri belum sepenuhnya selesai membaca semuanya. Namun sejauh ini apa yang dibagikan cukup bermanfaat buat saya yang baru saja ditinggal istri, untuk mencoba kembali lagi ke jalur normal.

Pada kesempatan ini saya hanya akan membahas apa yang saya pelajari dari Bab I buku tersebut, yaitu mengenai 3P: (1) Personalization, (2) Pervasiveness, dan (3) Permanence.

Tentunya sulit sekali untuk keluar dari kesedihan yang mendalam akibat ditinggal mati seseorang yang sangat dicintai. Emosi bercampur aduk antara syok, marah, rasa tidak percaya, rasa bersalah, dan sebagainya, yang apabila berlarut-larut dapat mengganggu kesehatan diri dan sulit untuk berfungsi secara normal.

Namun, menurun Martin Seligman, pemulihan dari duka akan menjadi lebih sulit apabila kita terjebak pada 3P yang disebutkan sebelumnya. Apa yang dimaksud dari masing-masing terminologi tersebut?

  1. Personalization: pemikiran bahwa kita sepenuhnya bersalah atas tragedi yang menimpa orang yang dicintai
  2. Pervasiveness: pemikiran bahwa tragedi yang terjadi akan mempengaruhi dan berdampak negatif pada semua aspek kehidupan kita
  3. Permanence: pemikiran bahwa penderitaan setelah terjadinya suatu tragedi akan selamanya dirasakan

Harus diakui saya terjebak pada 3P tersebut, terutama di 1 – 2 minggu pertama setelah kepergian Syva, terlebih-lebih di 3 hari pertama dimana saya hampir tidak bisa tidur. Perasaan bersalah dan menyesal terus menghantui. Saya merasa menjadi suami yang paling buruk sedunia. Mengapa selama ini tidak begitu memperhatikan kondisi kesehatan Syva. Mengapa tidak memberikan perhatian dan dukungan penuh kita awalnya Syva didiagnosa sebagai Bell’s Palsy. Dan berbagai bentuk perasaan bersalah lainnya.

Saya pun merasa setelah tragedi ini kehidupan saya dan keluarga tidak akan seindah dulu lagi. Mungkin saya juga tidak bisa lagi berfungsi sebagaimana mestinya. Terasa sekali kepedihan membayangkan anak-anak tidak akan pernah mendapatkan kasih sayang bundanya lagi hingga mereka dewasa.

Bagaimana caranya bisa keluar dari jebakan 3P tersebut?

Salah satu hal yang disarankan adalah mencoba untuk berhenti menyalahkan dan berdamai dengan diri sendiri. Banyak hal-hal yang memang di luar kontrol dan kuasa kita sehingga kita tidak perlu menyalahkan diri sendiri. Seorang dokter pun tidak mampu mengidentifikasi di awal bahwa kejadian Bell’s Palsy yang dialami Syva itu sebenarnya bukan Bell’s Palsy namun tumor yang bersemayam di otaknya, apalagi saya sendiri.

Mengurangi perasaan menyesal ini bagi saya cukup manjur. Paling tidak, perlahan-lahan membuat durasi tidur kembali normal.

Cara lain yang sepertinya lebih ampuh adalah meningkatkan rasa syukur terhadap hal-hal baik yang sudah diberikan. Bersyukur bahwa saya dan anak-anak masih dalam keadaan sehat wal afiat. Bersyukur masih memiliki keluarga besar dari pihak saya dan Syva yang selalu hadir dan memberikan dukungan. Bersyukur masih memiliki teman dan kerabat yang begitu perhatian baik bertemu langsung maupun dari jauh lewat media telekomunikasi. Bersyukur bahwa situasi finansial masih dalam keadaan aman.

Pada intinya, masih banyak nikmat-nikmat Allah yang dapat disyukuri namun terkadang itu tertutupi akibat kesombongan diri ataupun terlalu berlebihan menyikapi tragedi — hal terakhir mungkin ada kaitannya dengan negativity bias.

Alhamdulillah, tentunya rasa syukur yang mendalam pernah ditemani Syva semasa hidup di dunia ini, bahkan sepeninggalnya pun saya tetap diingatkan untuk terus bersyukur melalui tulisan ini. Ditambah pula dengan kejutan tulisan “tersembunyi”, yang baru saja saya temukan kemarin di buku catatan pribadi saya.

Syva yang telah tiada pun masih memberikan semangat dan won’t let me down, seakan-akan sebelumnya sudah mempersiapkan untuk membantu saya untuk keluar dari jebakan 3P ini.

Wassalamu’alaikum wr. wb

Goresan Tinta Terakhir

Standard

Assalamu’alaikum wr. wb.

Aku ingin sedikit bercerita dan mendokumentasikan tulisan-tulisan terakhir Syva yang dilakukan semasa rawat inap di RS Premier Bintaro pasca operasi Kraniotomi yang dilakukan pada hari Sabtu, 21 Desember 2019. Selama rawat inap berlangsung, aku menjaganya hampir penuh waktu ditemani sofa yang cukup nyaman yang berada di samping kirinya. Beberapa hari setelah operasi, kondisi fisik Syva sebenarnya sempat membaik: bisa berbicara normal, bisa jalan sendiri bolak-balik dari tempat tidur ke kamar mandir, bisa jalan-jalan di sepanjang koridor RS sambil dituntun, dan bisa menulis di atas kertas.

Di suatu waktu Syva meminta untuk dibelikan minimal 4 buah buku tulis, yang rencananya: 1 untuk dirinya sendiri dan 3 yang lainnya masing-masing untuk menuliskan pesan kepadaku, Naisha, dan Rumi. Sempat terlintas dipikiran aku apakah ini tanda-tanda atau firasat bahwa dia akan pergi jauh. Tapi dasar hatiku ini yang keras dan penuh penyangkalan, aku cenderung bersikap denial terhadap pemikiran tersebut.

Dari keempat buku tersebut hanya 1 yang berhasil Syva tulis. Selebihnya belum sempat tergores dengan tinta 1 garis pun.

Aku abadikan goresan-goresan tinta terakhir Syva di sini untuk berjaga-jaga apabila terjadi sesuatu pada buku fisiknya (rusak atau hilang).

Tulisan 1 (30 Des 2019)

Tulisan di bawah ini dibuat oleh Syva di pagi hari, mencoba merekam perkembangan medisnya setelah operasi kraniotomi. Suasana di kamar RS pagi itu cukup positif dan ceria bagi kita berdua, melihat perkembangan kesehatan Syva di hari-hari sebelumnya yang juga terlihat semakin membaik. Dan juga salah satu dokter sempat mengisyaratkan mudah-mudahan bisa pulang ke rumah sebelum tahun baru.

 

Each day is a new history

Day 1 post op – Alhamdulillah I’m still alive! So I started 2 rakaat tahajud on my ICU bed. One mean nurse caught me crying and said, “Stop it, will ya! It won’t help urself doing this”. To her I replied, “I was praying, you know. It’s not even shubub. I’m praying tahajud”. These are not tears of sadness. They are tears of grateful

Day 2 post op – Alhamdulillaah I can stand up!

Day 3 post op – Alhamdulillaah I can roam around in a wheel chair

Day 4 post op – Alhamdulillaah I can walk and the corridor by my own foot, leaning to the love of my life

Day 5 post op – Alhmdh I can pooped by my own
You see, each day is a new history.
It’s all about perspective and how you appreciate all the little things happened in your life.

Day 10 post op – Alhmdlh I can still write!

Hanya ada satu indikasi medis negatif yang cukup kentara: pandangan Syva yang menurutnya terlihat ganda apabila membuka kedua matanya. Dia bisa melihat lebih jelas apabila salah satu matanya ditutup. Ini yang menyebabkan dokter syarafnya merujuk untuk dilakukan MRI scan kembali, membandingkan hasil sebelum dan sesudah operasi. Tidak lama setelah Syva membuat tulisan di atas, pagi itu aku mengantar Syva ke bagian radiologi untuk menjalani MRI scan.

Tulisan 2 (30 Desember 2019)

Di hari yang sama, pada sore harinya aku dipanggil oleh dokter syaraf untuk keluar dari kamar rawat sebentar. Perasaanku sudah agak tidak enak dengan dipanggilnya keluar, karena berarti ada hal yang harus dokter sampaikan secara privat kepadaku terlebih dahulu sebelum ke pasien, yang biasanya itu kabar yang tidak mengenakkan.

Dan ternyata memang demikian. Hasil MRI yang kedua ini jelas menunjukkan bahwa tumornya kembali membesar, bahkan terkesan lebih besar dibandingkan sebelum operasi. Namun pada saat itu dokter belum memberikan vonis apapun mengenai seganas apa tumornya. “Tunggu saja dulu hasil resmi dari biopsi, dan sebaiknya masih tetap dirawat inap di sini hingga hasil biopsinya keluar. “, hanya itu perkataan penutup yang diucapkan dokter.

Aku dan dokter kemudian balik menuju ke kamar rawat untuk menyampaikan kabar ini ke Syva.

Selama dokter menjelaskan, aku dan Syva dalam keadaan hening. Hanya saling menatap dan kemudian disusul dengan tetesan air mata.

Syva memecah keheningan dengan mengatakan: “I’m sorry”.

Lalu dilanjutkan dengan: “I’m sorry if I’m such a burden for you. Aku bisa berjuang sendiri. Kamu dan anak-anak lanjut aja hidup seperti biasanya. Bila perlu bawa anak-anak ke tempat yang jauh, yang lebih sehat. Tolong jaga anak-anak. ”

Di saat yang sebenarnya dia punya segala alasan untuk memikirkan diri sendiri, yang dia pikirkan ternyata aku dan anak-anak ๐Ÿ˜ฆ

Di malam harinya Syva pun menulis lagi. Sepanjang malam aku sendiri hanya melamun dan merenung, kenapa hal ini bisa terjadi padanya. Apa yang memicu adanya tumor di kepalanya, yang sepertinya bukan tumor jinak berdasarkan hasil MRI scan terbaru. Kenapa aku tidak bisa menjaganya dengan baik selama ini.

Asslmkm wr. wb.

I have a monster inside of me which I can’t control, unfortunately.

But do you know WHO has the unlimited power, WHO is the best of the best controller, WHO has everything in this world within His reach?

He is Allah The Almighty. My one and only God, whom I love so dearly.

I believe one day, He’ll kill the monster for me. Insya Allah. You just wait and see.

Asslmkm wr. wb.

Don’t pity them, don’t pity me.

I know some of you would say.

They’re just 7 and 3, and she’s only a couple years over 30.

Don’t pity them, don’t pity me.

Just keep us in your prayers every day, endlessly, effortlessly.

It definitely means so much to me.

Tulisan 3 (31 Desember 2019)

Sesuai perintah dokter, kita masih lanjut berada di kamar inap, di hari yang sebelumnya kita harapkan untuk bisa pulang.ย Di hari itu aku hanya mencoba bersikap normal, berusaha terus menghiburnya, dan optimis kalau dia akan sembuh.

Namun aku dapat merasakan sekali mood / keadaan emosinya yang bercampur aduk. Syva masih menyempatkan untuk menulis di sesi-sesi terpisah, yang menggambarkan penggalan-penggalan apa yang dia rasakan di hari itu.

Asslmkm wr. wb.

The day I knew I still have thing 2.

It was not easy to describe.

All you need to know is that I cried even more than the day I found out how much Snape loved Lily & Harry.

Asslmkm wr. wb.

They keep saying “your wound dries great”, “your headshapes better now”.

I kept thinking “I nailed the surgery”.

But who am I kidding.

The result was never up to me.

“Don’t you remember, Syva? Allah kicked out Iblis because of their arrogance?”

Asslmkm wr. wb.

I’ll stop crying today.

I’m a fighter.

I’m a survivor.

But fighters & survivors do cry too, don’t they?

I’m still crying at the moment.

But I promise I’ll stop crying later, today.

When I see myself in the mirror.

I no longer find my long black hair.

I don’t even remember how it looked before.

But that’s okay.

As I said to my best friend, getting bald is the last thing I’d worry about the surgery.

When I see myself in the mirror

I always hear Christina’s song

“You are beautiful, no matter what they say

No words can’t bring you down.

Don’t you bring me down today.”

When I see myself in the mirror.

The one thing popped out in my mind is “Dear head, why did you bring me down, today?”

But again, another song came out.

It was Destiny’s Child,

“I’m a survivor. I’m not gonna give up.

I will survive, I’m gonna work harder.

I’m a survivor, I’m not gonna give up.

I will survive, I’ll keep on surviving.”

You are the Renesmee to my Jacob

You mesmerize me

You are the Lily to my Severus

You are my only reason

You are the chair to my Sheldon

I can’t live without you

You’re the klopp to my kopp

You helped me win everything big in life which all came down to one grandeur priceless prize.

The great honor to be called Mummy by both of you

You are the Dongbaek to my Yong Sin

You make my life bloom

You complete me dear love, Naisha & Rumi.

I’ll be healthy for you. I’ll fight for you.

Tulisan 4 (3 Januari 2020)

Tibalah kita di hari vonis: pemberitahuan hasil biopsi. Waktu dimana yang selalu kita doakan dan harapkan agar memberikan ketenangan dan meningkatkan optimisme kita semua, yakni tumor tersebut tidak ganas.

Dan yang terdengar adalah kabar yang paling tidak ingin kita dengar: bahwa tumor yang bersemayam di kepalanya berjenis Glioblastoma multiforme (Grade IV) yang merupakan jenis paling ganas dari tumor otak. Optimisme yang sempat muncul sebelumnya pun runtuh seketika.

Setelah itu, sambil menangis Syva kembali mengatakan “I’m sorry. And I love you” berulang-ulang. Aku tetap berusaha tampak tegar dan tersenyum untuk menghiburnya, dan bilang ke dia untuk tidak perlu meminta maaf, walaupun di balik dada ini aku pun merasakan “patah hati”. Di malam harinya ketika dia tertidur, barulah aku tidak menahan lagi air mata untuk keluar sambil berbaring di sofa.

Sebelum tertidur, Syva terus memanjatkan doa. Tulisan pada hari ini sebenarnya bagian dari doa-doa yang dia panjatkan.

Insya Allah

Bersih Bersih Bersih Bersih Bersih Bersih

Sehat Sehat Sehat Sehat Sehat Sehat

Sembuh Sembuh Sembuh Sembuh Sembuh Sembuh

Kuat Kuat Kuat Kuat Kuat Kuat

…….

Insya Allah ku yakin

Aku akan sehat, aku akan sembuh, aku akan pulang

Allah akan sehatkan, Allah akan sembuhkan, Allah akan izinkan ku pulang menuntaskan jihadku sbg ibu & istri

…….

Tulisan 5 (5 Januari 2020) – Pulang

Hari ini merupakan hari kepulangan kita dari RS ke rumah bintaro. Tentunya bukan kepulangan yang menenangkan. Namun kepulangan untuk melanjutkan perjuangan kita ke tahap selanjutnya, yaitu menjalani radioterapi dan kemoterapi di RSCM.

Di pagi hari sebelum pulang, Syva masih sempat menggoreskan pena pada buku tulisnya. Dan goresan kali ini ditujukan kepadaku. Namun siapa yang menyangka ini menjadi goresan tinta terakhir darinya untuk selama-lamanya.

To the amazing man I proudly call as my husband.

I am so sorry. I thank you. I love you.

There’s not a day went by without me being grateful to have you in my life.

You’re just too good to be true. I wish I can’t take my eyes off of you. But my eyes are not so cooperative at the moment.

You are too good for me.

You don’t deserve my “now” me.

I’m broken. I’m not who I used to be.

I’m sick. But I believe I’ll be fixed.

Insya Allah

I’ll fight for you. I’ll be healthy for you.

I love you with all my heart.

Tulisan yang sangat menyentuhku dan penuh dengan cinta. Namun betapa bodohnya diriku. Aku belum sempat membalas tulisan itu dengan tulisan berenergi yang sama dengan dia tulis, yang bisa membahagiakan dan menguatkannya.

Setelah membaca tulisan itu, aku hanya merespon singkat dengan mengatakan “thank you, love”.ย  Aku tidak tahu apa bisa menutup rasa penyesalan ini di kemudian hari karena hanya memberikan respon tersebut. She did not deserve to have me as her husband. I should have written my love expression and got her read it. I should have given to her my full attention and not doing anything else.

Hari-hari berikutnya merupakan sejarah yang pilu bagiku sekeluarga. Tidak lama setelah menjalani beberapa sesi awal radioterapi dan kemoterapi, kondisi fisiknya menurun drastis, tanda bahwa Syva sebenarnya menanti kepulangannya yang lain. Kepulangan menuju rumah yang sebenarnya, yang insya Allah dijauhkan dari segala rasa sakit baik fisik maupun batin.

In Memoriam: Twindania Namiesyva (28 Juli 1987 – 14 Januari 2020)

Wassalamu’alaikum wr. wb.

A Day in the City

Image

Assalaamu’alaikum wr. wb.

Sabtu lalu, keluarga Ghifary jalan-jalan ke tengah kota Wellington. Senangnya! ^^ย Yup, we had a great time last Saturday. Sudah hampir 7 bulan di sini, tapi belum semua tempat populer di Welly berhasil saya kunjungi. Mudah2an sebelum pulang ke Indo sudah terjamah semuanya ya.. ๐Ÿ˜€ Tujuan utama kami hari itu adalah: City Gallery, Central Library, Frank Kitts Park, Museum of Wellington City & Sea, Musholla VUW, Cinta Restaurant. Let’s Go!

Karena satu dan lain hal, kami menggunakan bis untuk berjalan2. Kebetulan ada family pass, beli sekali saja ke supir bis ketika naik bis pertama kali. Dengan harga $21 bisa untuk 2 adult 2 children atau 3 adult 1 children, bisa naik bus ke mana saja di Wellington all day (weekend).

bus_stop

Waiting the bus @ Richmond shelter, Karori. The nearest bus shelter to our house.

in_the_bus

Inside the bus. Can you see Naisha sitting on her stroller in the bus? ๐Ÿ™‚

First bus stop: Lambton Quay. Lambton Quay ini salah satu jalan di daerah pusat kota Wellingtondengan dengan banyak pertokoan di kanan kiri jalan. Tapi yaaaa, sedihnya di Wellington itu ga ada Mall! *geleng geleng kepala* Yang ada toko2 berderet di kanan kiri jalan. Atau paling banter shopping arcade deh, tapi itu juga isinya hanya sedikit toko dan restaurant. Ga ada tuh mall macam PIM, GI, Sency, dll. Hikss… *edisi kangen mall :(*

street

Sekilas lambton Quay. Gedung2 tinggi dengan toko berderet di pinggir jalan, dan kantor2 di lantai atasnya.

oldbank

Old Bank Shopping Arcade. Mall “seuprit”.

Dari Lambton Quay kita mampir dulu ke supermarket, beli cemilan. Kemudian lanjut jalan kaki sedikit ke tujuan pertama kita: City Gallery. City Gallery ini bisa dibilang satu komplek sama Central Library, dan Wellington Town Hall. Ketiga bangunan terletak saling bersebrangan, mengelilingi sebuah lapangan luas di tengah2nya. Naisha seneng banget lari2 di lapangannya, sambil melihat burung2 berkeliaran. City Gallery masuknya gratis, kalau ga salah buka setiap hari (kecuali public holiday). Sayangnya saya ga berjiwa seni ya, jadi ga ngerti sama sekali apa yang di pamerkan. Dan ga boleh foto2 juga, jadi ga ada dokumentasinya deh..

city_gallery

city_gallery5

ki-ka: City Gallery – Wellington Town Hall – Central Library

city_gallery3

Naisha puas lari2 dan lihat burung.

city_gallery.2 jpg

Dari City Gallery kita menuju Waterfront. Waterfront ini, apa ya, pokoknya satu lokasi di pinggir laut (tapi ga ada pantai dan pasirnya ya), yang dikondisikan untuk jadi tempat berkumpul orang2, terutama ketika ada acara2 tertentu, misal kembang api. Jadi ada bagian di mana kita bisa nyemplung ke (seperti) kolam, padahal itu airnya air laut dan masih nyambung ke laut. Haduh bingung jelasinnya, hehehe..

waterfront

Atas: Jembatan menuju waterfront, dari City Gallery
Bawah kiri&kanan: Sekilas waterfront

Dari waterfront kita jalan lagi menyusuri dermaga pinggir laut (tanpa pantai) menuju Frank Kitts Park, salah satu Wellington Top 10 Playground. Taman ini cukup unik, karena di satu sisi bersinggungan dengan laut, sedang di sisi lain bersebelahan dengan jalanan kota. Anginnya lumayan kencang saat itu, dan sayangnya perosotan yang paling tinggi, tangganya agak sulit dinaiki oleh Naisha, jadi Naisha hanya naik perosotan rendah saja. Saya tetep naik perosotan tinggi sih, hehehe..

playarea

Frank Kitts Park Play Area
Kiri atas: terlihat gedung dan bangunan tinggi
Kiri bawah: terlihat sekilas air laut

park

Frank Kitts Park – grass area

Puas main di taman, kita jalan kaki balik ke arah Central Library. Sempat ketemu sejumlah “Santa”, sepertinya mereka habis “dinas” :D. Oh setelah itu kita sempet mau ambil foto bertiga pakai timer kamera, tapi ada seorang ibu muda dan anaknya yang dengan baik hati menawarkan diri jadi fotografer. Thanks a lot to you Ma’am, whoever you are! ๐Ÿ™‚

IMG_1394

Group of Santa!

harbour

Mejeng di pinggir laut

Sebelum sampai ke Central Library, kami mampir dulu di Wellington Underground Market. Jadi banyak yang jualan seperti di Gasibu Bandung, tapi lokasinya seperti di basement. Kebanyakan yang dijual adalah produk made in New Zealand, terutama yang berbau handmade. Sayang harga barangnya mahal2.. $_$

ug_market

Wellington Underground Market

Di Central Library Mr. Ghifary meminjam sejumlah buku, selain itu kami juga beli buku bekas seharga $1 saja untuk 3 buah buku, yay! ๐Ÿ™‚

library

Wellington Central Library

Dari Library kami naik bus lagi menuju kampusnya Mr. Ghifary, VUW Kelburn Campus, numpang sholat di mushollanya Vic Muslim. Ketika nunggu bis untuk ke Kelburn, ada kakek2 yang mengira kami turis kesasar kemudian memberi tahu kami arah jalan ke Kelburn, hihihi. Memang sih waktu itu kita buka2 peta bis mulu, dikiranya ga tau jalan kayanya.. hehehe

musholla

Musholla Vic Muslim

Selepas sholat kami lanjut lagi jalan kaki ke Cuba Street, rencananya menuju restoran Cinta Malaysia. Tadinya mau naik bis, tapi berhubung hari semakin sore, bis yang lewat semakin jarang. Ternyata jalan kaki ga terlalu jauh, dan pemandangannya pun menarik.

vuw

@ VUW Kelburn Campus

VUW Kelburn Campus "backyard" view

VUW Kelburn Campus “backyard” view. Naisha ga keliatan, hehehe..

Cuba Street. Jalan dengan pertokoan bertebaran. Di antara toko dan restoran, masih ada nyempil arena bermain anak2.

cuba

cuba2

Dan ternyata restoran Cinta Malaysia TUTUP saudara2! Fyi, ini kali ke3 saya ke Cinta Malaysia, semuanya berakhir dengan hanya melihat papanย CLOSEDย di pintunya. Yang pertama karena salah jam, yang kedua jamnya benar tapi salah hari, yang ketiga empunya resto lagi liburan. Piring cantik! :p Yaudah lah kita makan diย malaysian cuisineย yang lain. Menunya ayam hainan danย fish curry.

IMG_1437

Nasi Ayam Hainan & Fish Curry

Setelah makan, pulang deh kita. Sempat agak nyasar dikit nyari halte bis yang dilewati bis kami. Bahkan ada petugas yang ngasih kami peta yang menurut dia lebih baik daripada peta yang dia lihat kita buka2 terus. ๐Ÿ˜€ Fyi, Wellington jam7malem tuh udah sepi! Toko aja tutup jam 5:30pm.. *tepok jidat*

street2

atas: Wellington City jam6-an pm
bawah: Wellington City jam7-an pm

Whooaa akhirnya beres juga nulis postย  jalan2nya.. Overallย kami (saya sih terutama) sangat hepi! Walau sebetulnya ada tujuan yang kelupaan didatengin: Wellington Museum City & Sea. Plus ternyata family pass bus nya kurang maksimal penggunaannya. Maklum sih karena area jalan2nya masih dekat satu sama lain.

Cape juga yaa nulis post panjang dengan banyak foto.. *elap keringet* dari tadi siang bikin collage foto, lanjut upload foto sore2, bikin tulisan dan ngerapiin malem2 sambil diseling naisha nyusu, akhirnya kelar juga. Baiklah, saatnya tidur. Nite all! ๐Ÿ™‚ *it’s 12:34 am now*

Happy Holiday!

Standard

Assalaamu’alaikum wr. wb.

Holiday Season is here! How’s your holiday guys? Ours have been great! Me likey! :* Terhitung sejak Jumat (20/12/13) lalu, hampir setiap hari saya, Naisha dan Mr. Ghifary kerjanya jalan2 dan makan2 menikmati si holiday season. *yay* Di sini, summer berlangsung antara bulan Desember-Februari. Karena summer dan juga ditambah natal plus tahun baru, jadilah liburannya lumayan panjang, terutama untuk anak sekolahan. Kampus Mr. Ghifary diliburkan sejak tanggal 22/12/13 hingga 6/1/14. Dan berkat kerja keras Mr. Ghifary selama ini (well done, superb husband!), beliau disuruh supervisornya buat menikmati liburan aja, ga usah kerja dulu selama summer holiday. (setuju mister! ;))

Karena buanyak yang mau diceritakan, nanti beberapa saya buat postnya satu per satu aja kayanya yaaa.. Soalnya mau “ngespam” foto, hehe.. Kalau semuanya masuk satu post, nanti ngescroll page nya ga abis2.. :p Tapi pengen juga ngecheck list udah ke mana aja selama seminggu belakangan. Here we go..

1. Jumat (20/12) Main ke rumah Kak Rose di Taranaki (masih di Wellington City). Makan ikan, ayam bakar, jalakote (pastel makassar, aduh maaf ga tau tulisan benernya). Pulang2 super kekenyangan. Sayang ga ada fotonya, jadi ga bisa dibuat postingan tersendiri, hehe :p

2. Sabtu (21/12) Muter2 di Kota! Seharian jalan2 ke sejumlah tempat di daerah sentral Wellington yang belum pernah saya kunjungin sebelumnya. Tunggu postnya ya! Here’s a sneak peak..

At Cuba Street, Wellington

At Cuba Street, Wellington

3. Minggu (22/12) Jalan jalan dan kesasar di Wainuiomata! Piknik di Rimutaka forest, a lovely place with beautiful landscape. Definitely gonna make a post about this trip, tapi nunggu foto2 dulu dari kamera temen, hehe..

4. Senin (23/12) Main dan piknik di Avalaon Park, lanjut berenang di Naenae Pool. It was Mr. Ghifary’s first Avalon Park visit and Naisha’s first swimming. We really enjoyed that day. ๐Ÿ™‚

At Avalon Park

At Avalon Park

5. Selasa (24/12) Hari nyantai dulu di rumah. Ga ke mana2, malah nemu tontonan lucu baru di youtube: ILK. Nonton deh, dijamin lucu! ๐Ÿ˜€

6. Rabu (25/12) Hari makan2. Dapat 2 undangan makan2 di rumah teman, satu di Karori satu lagi di Upper Hutt. Maknyos.. :9

7. Kamis (26/12) Boxing Day! Jalan2 liat “ramai”nya boxing day di sini.. Plus main ke Freyberg Beach Play Area. Love it!

Oke deh ditunggu aja yang sabar ya postingan lengkapnya.. *ge er beneerr* Sepertinya akan ada 3 atau 4 post tentang si minggu liburan ini. Till the next post everyone! Have a happy jolly holiday! ๐Ÿ™‚

enjoy holiday! ^^,

enjoy holiday! ^^,

Wassalaamu’alaikum wr. wb.