Daily Archives: February 8, 2020

3P yang Menghambat Pemulihan

Standard

Assalamu’alaikum wr. wb.

Judul di atas merupakan topik yang dibahas pada Bab I buku Option B: Facing Adversity, Building Resilience, and Finding Joy, yang ditulis oleh Sheryl Sandberg dan Adam Grant. Sheryl Sandberg merupakan Chief Operating Officer (COO) dari Facebook, yang tentunya sudah tidak asing lagi bagi para pegiat teknologi dan media sosial. Adam Grant merupakan teman dari Sheryl yang juga seorang profesor psikologi di Wharton School of the University of Pennsylvania.

Penulisan buku tersebut termotivasi dari tragedi kematian mendadak suami dari Sheryl Sandberg, Dave Goldberg, pada tanggal 1 Mei 2015 ketika mereka sedang menikmati liburan keluarga. Dave ditemukan di ruangan gym dalam keadaan tidak sadar, terbaring di atas mesin eliptis dan tak lama kemudian meninggal dunia. Penyebab kematiannyaΒ  kemudian diketahui disebabkan karena cardiac arrhythmia.

Sheryl dan Adam mencoba membagikan pengalaman dan pengetahuannya bagaimana bertahan dan bangkit kembali dari keterpurukan karena ditinggalkan oleh seseorang yang dicintai pada buku tersebut.

Terima kasih kepada dua orang teman yang merekomendasikan buku ini ke saya. Saya sendiri belum sepenuhnya selesai membaca semuanya. Namun sejauh ini apa yang dibagikan cukup bermanfaat buat saya yang baru saja ditinggal istri, untuk mencoba kembali lagi ke jalur normal.

Pada kesempatan ini saya hanya akan membahas apa yang saya pelajari dari Bab I buku tersebut, yaitu mengenai 3P: (1) Personalization, (2) Pervasiveness, dan (3) Permanence.

Tentunya sulit sekali untuk keluar dari kesedihan yang mendalam akibat ditinggal mati seseorang yang sangat dicintai. Emosi bercampur aduk antara syok, marah, rasa tidak percaya, rasa bersalah, dan sebagainya, yang apabila berlarut-larut dapat mengganggu kesehatan diri dan sulit untuk berfungsi secara normal.

Namun, menurun Martin Seligman, pemulihan dari duka akan menjadi lebih sulit apabila kita terjebak pada 3P yang disebutkan sebelumnya. Apa yang dimaksud dari masing-masing terminologi tersebut?

  1. Personalization: pemikiran bahwa kita sepenuhnya bersalah atas tragedi yang menimpa orang yang dicintai
  2. Pervasiveness: pemikiran bahwa tragedi yang terjadi akan mempengaruhi dan berdampak negatif pada semua aspek kehidupan kita
  3. Permanence: pemikiran bahwa penderitaan setelah terjadinya suatu tragedi akan selamanya dirasakan

Harus diakui saya terjebak pada 3P tersebut, terutama di 1 – 2 minggu pertama setelah kepergian Syva, terlebih-lebih di 3 hari pertama dimana saya hampir tidak bisa tidur. Perasaan bersalah dan menyesal terus menghantui. Saya merasa menjadi suami yang paling buruk sedunia. Mengapa selama ini tidak begitu memperhatikan kondisi kesehatan Syva. Mengapa tidak memberikan perhatian dan dukungan penuh kita awalnya Syva didiagnosa sebagai Bell’s Palsy. Dan berbagai bentuk perasaan bersalah lainnya.

Saya pun merasa setelah tragedi ini kehidupan saya dan keluarga tidak akan seindah dulu lagi. Mungkin saya juga tidak bisa lagi berfungsi sebagaimana mestinya. Terasa sekali kepedihan membayangkan anak-anak tidak akan pernah mendapatkan kasih sayang bundanya lagi hingga mereka dewasa.

Bagaimana caranya bisa keluar dari jebakan 3P tersebut?

Salah satu hal yang disarankan adalah mencoba untuk berhenti menyalahkan dan berdamai dengan diri sendiri. Banyak hal-hal yang memang di luar kontrol dan kuasa kita sehingga kita tidak perlu menyalahkan diri sendiri. Seorang dokter pun tidak mampu mengidentifikasi di awal bahwa kejadian Bell’s Palsy yang dialami Syva itu sebenarnya bukan Bell’s Palsy namun tumor yang bersemayam di otaknya, apalagi saya sendiri.

Mengurangi perasaan menyesal ini bagi saya cukup manjur. Paling tidak, perlahan-lahan membuat durasi tidur kembali normal.

Cara lain yang sepertinya lebih ampuh adalah meningkatkan rasa syukur terhadap hal-hal baik yang sudah diberikan. Bersyukur bahwa saya dan anak-anak masih dalam keadaan sehat wal afiat. Bersyukur masih memiliki keluarga besar dari pihak saya dan Syva yang selalu hadir dan memberikan dukungan. Bersyukur masih memiliki teman dan kerabat yang begitu perhatian baik bertemu langsung maupun dari jauh lewat media telekomunikasi. Bersyukur bahwa situasi finansial masih dalam keadaan aman.

Pada intinya, masih banyak nikmat-nikmat Allah yang dapat disyukuri namun terkadang itu tertutupi akibat kesombongan diri ataupun terlalu berlebihan menyikapi tragedi — hal terakhir mungkin ada kaitannya dengan negativity bias.

Alhamdulillah, tentunya rasa syukur yang mendalam pernah ditemani Syva semasa hidup di dunia ini, bahkan sepeninggalnya pun saya tetap diingatkan untuk terus bersyukur melalui tulisan ini. Ditambah pula dengan kejutan tulisan “tersembunyi”, yang baru saja saya temukan kemarin di buku catatan pribadi saya.

Syva yang telah tiada pun masih memberikan semangat dan won’t let me down, seakan-akan sebelumnya sudah mempersiapkan untuk membantu saya untuk keluar dari jebakan 3P ini.

Wassalamu’alaikum wr. wb