Goresan Tinta Terakhir

Standard

Assalamu’alaikum wr. wb.

Aku ingin sedikit bercerita dan mendokumentasikan tulisan-tulisan terakhir Syva yang dilakukan semasa rawat inap di RS Premier Bintaro pasca operasi Kraniotomi yang dilakukan pada hari Sabtu, 21 Desember 2019. Selama rawat inap berlangsung, aku menjaganya hampir penuh waktu ditemani sofa yang cukup nyaman yang berada di samping kirinya. Beberapa hari setelah operasi, kondisi fisik Syva sebenarnya sempat membaik: bisa berbicara normal, bisa jalan sendiri bolak-balik dari tempat tidur ke kamar mandir, bisa jalan-jalan di sepanjang koridor RS sambil dituntun, dan bisa menulis di atas kertas.

Di suatu waktu Syva meminta untuk dibelikan minimal 4 buah buku tulis, yang rencananya: 1 untuk dirinya sendiri dan 3 yang lainnya masing-masing untuk menuliskan pesan kepadaku, Naisha, dan Rumi. Sempat terlintas dipikiran aku apakah ini tanda-tanda atau firasat bahwa dia akan pergi jauh. Tapi dasar hatiku ini yang keras dan penuh penyangkalan, aku cenderung bersikap denial terhadap pemikiran tersebut.

Dari keempat buku tersebut hanya 1 yang berhasil Syva tulis. Selebihnya belum sempat tergores dengan tinta 1 garis pun.

Aku abadikan goresan-goresan tinta terakhir Syva di sini untuk berjaga-jaga apabila terjadi sesuatu pada buku fisiknya (rusak atau hilang).

Tulisan 1 (30 Des 2019)

Tulisan di bawah ini dibuat oleh Syva di pagi hari, mencoba merekam perkembangan medisnya setelah operasi kraniotomi. Suasana di kamar RS pagi itu cukup positif dan ceria bagi kita berdua, melihat perkembangan kesehatan Syva di hari-hari sebelumnya yang juga terlihat semakin membaik. Dan juga salah satu dokter sempat mengisyaratkan mudah-mudahan bisa pulang ke rumah sebelum tahun baru.

 

Each day is a new history

Day 1 post op – Alhamdulillah I’m still alive! So I started 2 rakaat tahajud on my ICU bed. One mean nurse caught me crying and said, “Stop it, will ya! It won’t help urself doing this”. To her I replied, “I was praying, you know. It’s not even shubub. I’m praying tahajud”. These are not tears of sadness. They are tears of grateful

Day 2 post op – Alhamdulillaah I can stand up!

Day 3 post op – Alhamdulillaah I can roam around in a wheel chair

Day 4 post op – Alhamdulillaah I can walk and the corridor by my own foot, leaning to the love of my life

Day 5 post op – Alhmdh I can pooped by my own
You see, each day is a new history.
It’s all about perspective and how you appreciate all the little things happened in your life.

Day 10 post op – Alhmdlh I can still write!

Hanya ada satu indikasi medis negatif yang cukup kentara: pandangan Syva yang menurutnya terlihat ganda apabila membuka kedua matanya. Dia bisa melihat lebih jelas apabila salah satu matanya ditutup. Ini yang menyebabkan dokter syarafnya merujuk untuk dilakukan MRI scan kembali, membandingkan hasil sebelum dan sesudah operasi. Tidak lama setelah Syva membuat tulisan di atas, pagi itu aku mengantar Syva ke bagian radiologi untuk menjalani MRI scan.

Tulisan 2 (30 Desember 2019)

Di hari yang sama, pada sore harinya aku dipanggil oleh dokter syaraf untuk keluar dari kamar rawat sebentar. Perasaanku sudah agak tidak enak dengan dipanggilnya keluar, karena berarti ada hal yang harus dokter sampaikan secara privat kepadaku terlebih dahulu sebelum ke pasien, yang biasanya itu kabar yang tidak mengenakkan.

Dan ternyata memang demikian. Hasil MRI yang kedua ini jelas menunjukkan bahwa tumornya kembali membesar, bahkan terkesan lebih besar dibandingkan sebelum operasi. Namun pada saat itu dokter belum memberikan vonis apapun mengenai seganas apa tumornya. “Tunggu saja dulu hasil resmi dari biopsi, dan sebaiknya masih tetap dirawat inap di sini hingga hasil biopsinya keluar. “, hanya itu perkataan penutup yang diucapkan dokter.

Aku dan dokter kemudian balik menuju ke kamar rawat untuk menyampaikan kabar ini ke Syva.

Selama dokter menjelaskan, aku dan Syva dalam keadaan hening. Hanya saling menatap dan kemudian disusul dengan tetesan air mata.

Syva memecah keheningan dengan mengatakan: “I’m sorry”.

Lalu dilanjutkan dengan: “I’m sorry if I’m such a burden for you. Aku bisa berjuang sendiri. Kamu dan anak-anak lanjut aja hidup seperti biasanya. Bila perlu bawa anak-anak ke tempat yang jauh, yang lebih sehat. Tolong jaga anak-anak. ”

Di saat yang sebenarnya dia punya segala alasan untuk memikirkan diri sendiri, yang dia pikirkan ternyata aku dan anak-anak 😦

Di malam harinya Syva pun menulis lagi. Sepanjang malam aku sendiri hanya melamun dan merenung, kenapa hal ini bisa terjadi padanya. Apa yang memicu adanya tumor di kepalanya, yang sepertinya bukan tumor jinak berdasarkan hasil MRI scan terbaru. Kenapa aku tidak bisa menjaganya dengan baik selama ini.

Asslmkm wr. wb.

I have a monster inside of me which I can’t control, unfortunately.

But do you know WHO has the unlimited power, WHO is the best of the best controller, WHO has everything in this world within His reach?

He is Allah The Almighty. My one and only God, whom I love so dearly.

I believe one day, He’ll kill the monster for me. Insya Allah. You just wait and see.

Asslmkm wr. wb.

Don’t pity them, don’t pity me.

I know some of you would say.

They’re just 7 and 3, and she’s only a couple years over 30.

Don’t pity them, don’t pity me.

Just keep us in your prayers every day, endlessly, effortlessly.

It definitely means so much to me.

Tulisan 3 (31 Desember 2019)

Sesuai perintah dokter, kita masih lanjut berada di kamar inap, di hari yang sebelumnya kita harapkan untuk bisa pulang. Di hari itu aku hanya mencoba bersikap normal, berusaha terus menghiburnya, dan optimis kalau dia akan sembuh.

Namun aku dapat merasakan sekali mood / keadaan emosinya yang bercampur aduk. Syva masih menyempatkan untuk menulis di sesi-sesi terpisah, yang menggambarkan penggalan-penggalan apa yang dia rasakan di hari itu.

Asslmkm wr. wb.

The day I knew I still have thing 2.

It was not easy to describe.

All you need to know is that I cried even more than the day I found out how much Snape loved Lily & Harry.

Asslmkm wr. wb.

They keep saying “your wound dries great”, “your headshapes better now”.

I kept thinking “I nailed the surgery”.

But who am I kidding.

The result was never up to me.

“Don’t you remember, Syva? Allah kicked out Iblis because of their arrogance?”

Asslmkm wr. wb.

I’ll stop crying today.

I’m a fighter.

I’m a survivor.

But fighters & survivors do cry too, don’t they?

I’m still crying at the moment.

But I promise I’ll stop crying later, today.

When I see myself in the mirror.

I no longer find my long black hair.

I don’t even remember how it looked before.

But that’s okay.

As I said to my best friend, getting bald is the last thing I’d worry about the surgery.

When I see myself in the mirror

I always hear Christina’s song

“You are beautiful, no matter what they say

No words can’t bring you down.

Don’t you bring me down today.”

When I see myself in the mirror.

The one thing popped out in my mind is “Dear head, why did you bring me down, today?”

But again, another song came out.

It was Destiny’s Child,

“I’m a survivor. I’m not gonna give up.

I will survive, I’m gonna work harder.

I’m a survivor, I’m not gonna give up.

I will survive, I’ll keep on surviving.”

You are the Renesmee to my Jacob

You mesmerize me

You are the Lily to my Severus

You are my only reason

You are the chair to my Sheldon

I can’t live without you

You’re the klopp to my kopp

You helped me win everything big in life which all came down to one grandeur priceless prize.

The great honor to be called Mummy by both of you

You are the Dongbaek to my Yong Sin

You make my life bloom

You complete me dear love, Naisha & Rumi.

I’ll be healthy for you. I’ll fight for you.

Tulisan 4 (3 Januari 2020)

Tibalah kita di hari vonis: pemberitahuan hasil biopsi. Waktu dimana yang selalu kita doakan dan harapkan agar memberikan ketenangan dan meningkatkan optimisme kita semua, yakni tumor tersebut tidak ganas.

Dan yang terdengar adalah kabar yang paling tidak ingin kita dengar: bahwa tumor yang bersemayam di kepalanya berjenis Glioblastoma multiforme (Grade IV) yang merupakan jenis paling ganas dari tumor otak. Optimisme yang sempat muncul sebelumnya pun runtuh seketika.

Setelah itu, sambil menangis Syva kembali mengatakan “I’m sorry. And I love you” berulang-ulang. Aku tetap berusaha tampak tegar dan tersenyum untuk menghiburnya, dan bilang ke dia untuk tidak perlu meminta maaf, walaupun di balik dada ini aku pun merasakan “patah hati”. Di malam harinya ketika dia tertidur, barulah aku tidak menahan lagi air mata untuk keluar sambil berbaring di sofa.

Sebelum tertidur, Syva terus memanjatkan doa. Tulisan pada hari ini sebenarnya bagian dari doa-doa yang dia panjatkan.

Insya Allah

Bersih Bersih Bersih Bersih Bersih Bersih

Sehat Sehat Sehat Sehat Sehat Sehat

Sembuh Sembuh Sembuh Sembuh Sembuh Sembuh

Kuat Kuat Kuat Kuat Kuat Kuat

…….

Insya Allah ku yakin

Aku akan sehat, aku akan sembuh, aku akan pulang

Allah akan sehatkan, Allah akan sembuhkan, Allah akan izinkan ku pulang menuntaskan jihadku sbg ibu & istri

…….

Tulisan 5 (5 Januari 2020) – Pulang

Hari ini merupakan hari kepulangan kita dari RS ke rumah bintaro. Tentunya bukan kepulangan yang menenangkan. Namun kepulangan untuk melanjutkan perjuangan kita ke tahap selanjutnya, yaitu menjalani radioterapi dan kemoterapi di RSCM.

Di pagi hari sebelum pulang, Syva masih sempat menggoreskan pena pada buku tulisnya. Dan goresan kali ini ditujukan kepadaku. Namun siapa yang menyangka ini menjadi goresan tinta terakhir darinya untuk selama-lamanya.

To the amazing man I proudly call as my husband.

I am so sorry. I thank you. I love you.

There’s not a day went by without me being grateful to have you in my life.

You’re just too good to be true. I wish I can’t take my eyes off of you. But my eyes are not so cooperative at the moment.

You are too good for me.

You don’t deserve my “now” me.

I’m broken. I’m not who I used to be.

I’m sick. But I believe I’ll be fixed.

Insya Allah

I’ll fight for you. I’ll be healthy for you.

I love you with all my heart.

Tulisan yang sangat menyentuhku dan penuh dengan cinta. Namun betapa bodohnya diriku. Aku belum sempat membalas tulisan itu dengan tulisan berenergi yang sama dengan dia tulis, yang bisa membahagiakan dan menguatkannya.

Setelah membaca tulisan itu, aku hanya merespon singkat dengan mengatakan “thank you, love”.  Aku tidak tahu apa bisa menutup rasa penyesalan ini di kemudian hari karena hanya memberikan respon tersebut. She did not deserve to have me as her husband. I should have written my love expression and got her read it. I should have given to her my full attention and not doing anything else.

Hari-hari berikutnya merupakan sejarah yang pilu bagiku sekeluarga. Tidak lama setelah menjalani beberapa sesi awal radioterapi dan kemoterapi, kondisi fisiknya menurun drastis, tanda bahwa Syva sebenarnya menanti kepulangannya yang lain. Kepulangan menuju rumah yang sebenarnya, yang insya Allah dijauhkan dari segala rasa sakit baik fisik maupun batin.

In Memoriam: Twindania Namiesyva (28 Juli 1987 – 14 Januari 2020)

Wassalamu’alaikum wr. wb.

7 responses »

  1. She has a truly beautiful soul. She’s now in a better place I believe.. And I also believe that you, Naisha and Rumi are strong.

    She once told me (in NICU whanau’s room) that she loves you so much and she knows that you love her too.

    Stay strong, Mas Ghifary! Do’a kami selalu untuk kalian.

    -Fifi, Hanif, Hunafa-

  2. Pingback: I Love You with All My Heart : Bukan Merayakan Valentine - Wiwid Story

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s