Melarang Anak Bermain Dengan Pembuli Bukan Satu – Satunya Solusi

Standard

Assalaamu’alaikum wr. wb.

Beberapa hari belakangan ini di Indonesia sedang ramai pembicaraan mengenai kasus bullying dan kekerasan sesama pelajar. Pada tulisan kali ini saya ga akan bahas tentang kasus itu sih, tapi kebetulan masih bersinggungan dengan tema yang sama, yaitu bullying.

Dua hari yang lalu, di sebuah grup whatsApp khusus ibu-ibu (Indonesia, domisili Bandung) yang saya ikuti ada seorang ibu, sebut saja ibu Mawar yang curhat tentang anak tetangganya (usia 5th) yang berlaku kasar ketika bermain dengan anaknya (usia 3.5th) di rumah si ibu Mawar. Lalu ibu Mawar ini meminta saran, apa langkah yang harus dilakukan berikutnya, apakah lebih baik anaknya dilarang main saja sama si anak yang kasar ini?

Sesuai ekspektasi saya, tidak sedikit yang menyarankan untuk menjauhi saja anak kasar itu, jangan main sama dia lagi. Saya bilang sesuai ekspektasi, karena sebelumnya di sebuah grup facebook ibu-ibu terjadi diskusi kasus yang mirip-mirip dan banyak yang menyarankan hal yang sama. Jangan main sama anak itu lagi. Kala itu di facebook, dan kemudian juga di wag kemarin, saya selalu berpendapat bahwa melarang anak kita bermain dengan pembuli bukan satu-satunya solusi. Lebih jauh lagi menurut saya hal tersebut bukanlah solusi yang tepat. Mengapa? Akan saya ceritakan panjang lebar di bawah ini.

Disclaimer

Sekedar info. Satu, saya bukan praktisi parenting, pendapat saya murni berdasarkan pengalaman saya membesarkan anak selama 7 tahun, di mana 6 tahun terakhir kiblat utama saya adalah para orang tua di New Zealand, tempat kami tinggal 6 tahun terakhir hingga Februari lalu. Dua, kasus bullying yang akan saya bicarakan terbatas pada range anak usia 0-7 tahun, karena saya belum punya pengalaman terkait konflik untuk usia lebih tua dari 7 tahun. Di atas usia 7 tahun, apalagi usia anak remaja dan lanjutannya biasanya lebih kompleks dan tidak menutup kemungkinan memerlukan penanganan yang berbeda.

Feel free untuk berdiskusi, dan it’s okay kalau ada yang ga sependapat sama saya. Saya sadar bahwa pendapat saya ini mungkin lebih popular dilakukan di NZ daripada di Indo. Tapi di situlah alasan utama saya menulis ini, membantu menambah wawasan dan melebarkan sudut pandang. Kalau pandangan kita berbeda, boleh loh ditulis di blog juga plus kabari saya biar saya bisa baca. Ohya tulisan ini bakal panjang banget ya. Don’t say I didn’t warn you. Semoga bermanfaat!

What to do when bullying happens

Apa sih yang sebaiknya para orang tua lakukan ketika ada konflik antar anak terjadi di rumah kita? Perhatikan kedua frase kunci yang di-bold ya.

Satu, konflik antar anak. Yang saya maksud dengan antar anak di sini bukan hanya anak kita dengan teman mainnya, namun juga sesama anak kita, alias kakak beradik. Kalau kita terbiasa mendisiplinkan anak kita yang saling bertengkar, jangan takut untuk melakukan hal yang sama kepada teman dari anak kita. Konsisten itu penting. Semua anak mendapat perlakuan yang sama, di rumah kita.

Ini kunci kedua. Saya hanya bahas konflik yang terjadi di rumah saya di bawah supervisi saya sebagai satu-satunya orang dewasa ya, bukan di ruang publik karena itu akan berbeda lagi pembahasannya. Our house, our rule. Sesimple itu. Anak orang pun, kalau mainnya di rumah kita, mau tidak mau harus ikut aturan yang ada di rumah kita. Aturannya seperti apa, berikut sharing saya di wag tersebut.

Saya mau sharing aja ya.. mgkn jg ada yg udh tahu atau ngelakuin hal yg sama.. di sekolah anak sy dl muridnya diencourage untuk bersuara, bilang “stop it i dont like it” kalau ada teman yg mengganggu (fisik maupun verbal). Kalau diomongin ga mempan, murid lapor guru, guru bertindak. Sistem ini berlaku juga di rumah klo ada temen anak saya main. Klo anak sy bilang stop msh ga mempan, anak sy (atau bahkan temennya) lapor saya, sy tindak. Jelasin baik2 salahnya si anak apa. Kalau kaya kasus2 di atas tegasin aja “stop tidak baik berkata kata buruk/memukul seperti itu. Kata2/pukulan itu menyakiti hati/badan x. Di rumah ini aturannya tidak boleh menyakiti sesama teman, harus bermain dengan baik dan saling sayang. Kalau tidak bisa mengikuti aturan kamu tidak boleh main di sini.” Alhmdlh selama ini manjur sih. Walau bs smp nangis jg si anak yg salah pas sy tegasin.. abis itu suruh dia minta maaf, terus kedua anak yg konfliknya pelukan abis itu main lagi deh..

Imho ga mesti dipeluk jg yg penting di stop dulu klo perlu dipegang dua lengannya face to face.. dan dipastikan dia tahu salahnya bagian mana.. jgn lupa jg diimbangi apresiasi/pujian sesering mgkn ketika mereka bermain baik…

Jadi aturan utamanya adalah: Bahwa di rumah ini sesama anak/teman harus bermain baik bersama (termasuk di dalamnya saling berbagi dan bergiliran), saling menyayangi dan tidak saling menyakiti. Udah itu aja. Lantas apa yang seharusnya dilakukan jika aturan tersebut dilanggar (khususnya terkait poin tidak saling menyakiti/bullying)?

  1. Aksi bullying harus dihentikan. Ajarkan anak kita untuk speak up, berkata “Stop lakukan itu. Saya tidak suka. Hal itu tidak baik. Hal itu menyakiti saya”. Tanamkan pada anak kita bahwa satu-satunya keputusan yang tepat adalah untuk bersuara ketika merasa disakiti atau melihat orang lain disakiti. Ajarkan juga kepada anak untuk melapor jika bullying terus terjadi walau anak sudah berusaha speak up.
  2. Pembuli harus diberi tahu/diingatkan bahwa apa yang dia lakukan salah. Ketika konflik tetap berlangsung walau korban sudah melakukan poin no 1, saatnya supervisor yakni guru/orang tua bertindak. Orang tua harus secara tegas (bukan marah, ya) menjelaskan pada pembuli bahwa apa yang dia lakukan itu salah. Contoh kalimat yang bisa digunakan bisa dilihat pada kutipan sharing wag saya di atas.
  3. Pembuli harus meminta maaf kepada korban dan berjanji tidak mengulanginya lagi. Setelah pembuli menyadari kesalahannya, fasilitasi pembuli dan korban agar saling meminta maaf dan memaafkan.

What we should do next

Oke kembali lagi ke ibu Mawar. Berikut saran yang saya tulis kepada ibu Mawar di wag, fokus untuk interaksi antar pembuli dan korban ke depannya:

Klo menurut sy mah jangan dilarang teh.. berikutnya disupervisi lbh ketat aja sama sering2 diapresiasi keduanya, dipuji terus menerus hal2 baik yg terjadi pas lg main.. “wah kalian pinter main bareng ya bla bla bla”.. agak aneh sih emg bhs indo klo di englishnya semacam “I love that you being really gentle with X today, good to see you guys playing really well, good job!”..

Supervisi dan apresiasi. Kalau anak kita masih ingin bermain dengan si pembuli, tidak perlu dilarang namun boleh dibatasi. Contohnya, memperbolehkan mereka bermain dengan syarat main di rumah kita sehingga bisa dengan mudah kita awasi juga apresiasi. Apresiasi ini tidak kalah penting loh. Di NZ saya belajar, apresiasi tulus dan tepat sasaran yang dilakukan sesering mungkin, tidak peduli sekecil apapun usaha yang kita apresiasi, pasti akan terasa manfaatnya. Sering-seringlah mengapresiasi interaksi positif yang terjadi di antara anak. Apresiasi tersebut tidak hanya berfungsi sebagai reward, namun juga reminder pada anak seperti apakah interaksi baik yang seharusnya mereka lakukan ketika bermain bersama.

Why we should let them keep playing together

Jadi ibu-ibu, jangan takut ya membiarkan anak kita bermain dengan teman yang pernah membulinya. Tiga hal utama mengapa saya rasa melarang anak bermain dengan pembuli bukanlah solusi yang tepat adalah:

1. Dunia ini keras kawan. Hari ini kamu lari dari pembuli, bisa jadi besok datang pembuli yang lain lagi. Apa kamu akan terus berlari? Membentuk bubble duniamu sendiri?

2. Say no to labelling. Ketika orangtua melarang anak bermain dengan temannya, biasanya kita akan berkata, “Jangan main dengan si A, dia anak nakal”. Secara tidak langsung kita melakukan labelling, pada anak yang bahkan pertumbuhan otaknya belum sempurna, yang bisa jadi belum rutin terpapar nilai kebaikan di usianya yang baru beberapa tahun saja. Dalam Islam dikatakan “jangan benci orangnya, benci lah perbuatan buruknya”. Maka janganlah melabeli dan membenci anaknya, namun jelaskan pada anak yang berkonflik, di mana letak kesalahan perbuatannya.

3. It takes a village to raise a child. Daripada mengeluarkan si pembuli dari “village” kita, lebih baik kita sebagai orang tua menjadi support system dengan membantu si pembuli menjadi anak yang lebih baik dalam “village” kita bersama.

Terkait hal ini, berikut sharing saya lainnya di wag..

pengalaman sy di playcentre di nz, ada satu anak usia 2-3th yg kasar sm anak lain.. pas after session parent meeting, orgtuanya curhat.. minta maaf kalau anaknya kasar.. dia cerita di rumah udh ngelakuin segala cara ngajarin si anak.. tp emang anaknya energinya agak berlebih dan komunikasinya blm maksimal.. jd si ibu itu begging ke orgtua lain ikut bantu supervisi dan mengingatkan si anak selama di playcentre kalau pas anaknya lg ga main sama si ibu.. krn dia merasa udh kewalahan dan melakukan semua yg bs dilakukan, dg support dr ibu2 lain diharapkan bs membantu mengontrol si anak..

akhirnya sesama ortu playcentre sepakat, si anak rancangan kegiatannya fokus di keg motorik kasar, yg bisa menyalurkan energi, kemudian lebih awas ketika para ortu ngeliat si anak main dekat2 anak lain, siap2 jaga dan ngingetin.. alhmdlh lama2 si anak bisa main baik dg anak lain..

Dr situ sy br tau bahwa mmg ada, anak yg bermasalah krn ortu bermasalah. Tp ada jg anak yg jd ujian buat ortunya yg sdh berusaha maksimal.. ada jg anak yg mmg berkebutuhan khusus.. kasus sangat beragam, kita ga bs langsung ngejudge anak bermasalah bisa dipastikan ortu bermasalah tanpa tau fakta di lapangan (rumah si anak)..

Ketika sesama orang tua memilih untuk saling support alih-alih saling judging, yang kemudian tercipta adalah “village” yang nyaman untuk membesarkan anak bersama-sama dalam nilai kebaikan.

“Tapi ini Indonesia. Perlu kendali intrapersonal karena orang tuanya pada baperan”, katanya.

Oh well, tidak dapat dipungkiri ada perbedaan dalam culture NZ dan Indonesia. Di NZ orangnya lebih straight forward dan ga pake baper, ga kaya sebagian orang Indo. Menurut saya yang penting jangan marah-marah aja ya buibu saling mengingatkannya. Dengan cara sebaik-baiknya. Tegas, tapi tidak kasar. Kalau marah-marah ke si pembuli sih ya wajar aja kalau ortunya ikutan marah-marah.

Tapi bagaimanapun juga sifat dari kebanyakan orang Indo, saya memilih untuk optimis, bahwa masih ada orang tua Indonesia di luar sana yang sepaham dengan saya, open mind dan terbuka, bisa menerima saran dan tidak takut mengakui jika anaknya melakukan kesalahan. Hal yang tentunya harus lebih dahulu saya terapkan sebelum berharap orang tua lain melakukan hal yang sama. Insya Allah, saya yakin para Ayah dan para ibu di Indonesia pasti bisa. Bisa, demi anak kita yang lebih bahagia, demi anak-anak Indonesia berakhlak mulia. Insya Allah!

Wassalaamu’alaikum wr. wb.

Advertisements

One response »

  1. Mbaaaaa, really I agree with you. Sedang menanamkan ini jg sama Nahla. Selama umur 1-7 th, ajaran baik yg ditanamkan pada anak apa benar2 tertanam dalm interaksi sosial mereka? Saya baru balik Indo dan sedang Meraba jenis interaksi anak saya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s