Rumi: The Pregnancy Story

Standard

Assalaamu’alaikum wr. wb.

Time surely flies! Setahun sudah berlalu, sejak saya melahirkan anak ke2 saya, Rumi Averrous Muhammad Shadiq pada tanggal 30 Oktober 2016. Dan sejak saya hamil hingga saat ini belum pernah sekalipun saya nulis tentang proses kehamilan Rumi. Maafkan bundamu ini nak huhu.. #tutupmuka Better late than never lah ya… Baiklah..

Beberapa tahun lalu, ketika Naisha umur 2 tahunan, sejujurnya saya sudah ingin nambah anak kedua. Tetapi ga dapat approval dari pemilik saham, haha. Mr. Ghifary maunya kalau udah beres studi S3nya baru mulai program tambah anak. Well, masuk di akal sih. Jaman Mr. Ghifary kuliah itu kan kita masih tinggal bareng 3 keluarga lain di satu rumah, duit beasiswa juga tidak terlalu banyak berlebih, belum lagi beban kuliah S3 yang menyita waktu Mr, Ghifary. Agak ga reasonable memang kalau nambah anak di saat itu.

Akhir 2015, saya dan Mr. Ghifary kembali ngobrol tentang program nambah anak. Menurut rencana, Desember 2015 Mr. Ghifary sudah submit final thesis, dan akan memulai internship di Weta Digital pada Februari 2016 yang berarti statusnya bisa dibilang berubah dari student menjadi professional (pegawai). Keputusan kami pada saat itu, awal tahun 2016 kami akan memulai program menambah anak kedua. Btw, yang kami maksud program di sini bukan berarti ke dokter ya, tapi memang diniatin punya anak, kalau sebelumnya kan sebaliknya, diniatin ga punya anak.

Alhamdulillaah, kami mulai program di Januari, saya positif hamil di bulan Maret. Ternyata yang senang bukan kami saja, tapi juga Naisha karena dia sudah lama bilang pengen punya adik. Setelah cukup yakin dengan hasil tes, saya pun mulai browsing tentang midwife.

Di New Zealand, secara umum fasilitator melahirkan itu ada 3, dokter kandungan/obgyn private hospital, dokter kandungan public hospital dan yang paling umum digunakan adalah jasa Midwife. Kalau diterjemahkan ke bahasa Indonesia, midwife itu artinya bidan. Tapi pada prakteknya tugas midwife lebih banyak daripada bidan di Indonesia pada umumnya.

Biaya jasa obgyn private hospital tentu saja tidak gratis dan lebih mahal daripada biaya midwife. Obgyn (private maupun public) juga tidak memberikan jasa post natal care. Sedangkan obgyn public hospital tidak bisa dipilih secara khusus. Obgyn public hospital hanya melayani pasien midwife yang masuk kategori butuh penanganan khusus, misalnya pasien dengan histori Thalasemia, pasien dengan gestational diabetes, atau pasien dengan kondisi yang mengharuskan bayi dilahirkan secara caesar. Pada akhirnya, pilihan saya tentunya jatuh pada opsi midwife, yang alhamdulilllaahnya biayanya gratis all in, karena saya memenuhi kriteria untuk mendapatkan layanan kehamilan gratis dari pemerintah. Ada sejumlah kriteria yang seluruhnya dapat dibaca di website kementrian kesehatan, namun untuk kasus saya, saya bisa dapat gratis layanan kesehatan karena saya dan suami adalah pemegang work visa, dan sudah tinggal di NZ lebih dari 2 tahun.

Sedikit info tentang midwife dulu ya. Midwife itu perannya sebagai pendamping dan fasilitator ibu hamil selama hamil, proses kelahiran, hingga 6 winggu post natal care. Jadi seperti halnya ibu hamil di Indo yang rutin berkunjung ke obgyn, ibu hamil di sini juga rutin visit midwife setiap bulannya, hingga makin intense 2minggu sekali sampai seminggu sekali jelang kelahiran. Bedanya, midwife di sini dibatasi hanya boleh membantu melahirkan 3-4 ibu hamil dalam sebulan. Oleh karena itu, ketika cari midwife hal yang paling penting untuk kita ketahui adalah bulan perkiraan due date, karena midwife harus mengecek availability mereka di bulan itu. Kalau midwife sudah punya 4 klien di dbulan ue date yang sama dengan kita, maka dia tidak akan menerima kita sebagai kliennya.

Sekilas kok dikit banget ya, cuma bantu ngelahirin 3-4 orang sebulan, lowong juga kerjanya. Eits nggak juga ternyata. Menurut hipotesa saya, diadakannya kuota klien karena peranan midwife cukup krusial pada post natal care. Di 2 minggu pertama setelah bayi lahir, midwife akan datang ke rumah klien 2-3 hari sekali untuk mengecek ibu dan bayi. Itu di luar tugas sehari2nya kontrol klien lain yang masih hamil. Kebayang kalau ada 10 klien pasti akan work overload dan jadi tidak fokus pada tiap-tiap klien. Nah, ini poin yang saya paling senang dari midwife di sini, yaitu fokus. 

Dengan terbatasnya jumlah klien, midwife akan fokus secara detail dalam menangani kliennya, kemudian terjalin bonding kuat antara midwife dan klien, hal yang sangat saya rasakan selama kehamilan saya. Sejujurnya, saya tahu bahwa tidak semua midwife menjalin hubungan sebaik yang saya dan midwife saya lakukan. Contohnya teman saya (Indonesia), ga ada feeling khusus tuh ketika midwifenya selesai post natal care. Beda dengan saya yang sedih saking sayangnya sama midwife saya yang penuh perhatian terhadap  keluarga kami, hingga saya menitikkan air mata di akhir pertemuan kami. Namun berdasarkan pengamatan saya di grup fb ibu2 di sini, di luaran sana masih lebih banyak midwife yang menjalin bonding seperti midwife saya, dibanding seperti midwife teman saya.

Kembali ke pencarian midwife. Situs yang biasa digunakan untuk mencari midwife adalah findamidwife.org.nz. Di situ kita tinggal memasukkan area tempat tinggal dan bulan due date, kemudian akan muncul daftar midwife yang available. Kebetulan, midwife saya selain terdaftar di situs tersebut juga memiliki website pribadi. Dan ternyata hanya beliau beserta partner midwifenya (adiknya sendiri, midwife juga) yang buka praktek midwife di suburb saya. Jadi saya ga susah2, akhirnya saya kontak via website mereka. Midwife saya yang membalas duluan (bukan adiknya), and kid, that’s how I met your midwife.

Di tiap pertemuan kontrol kandungan, midwife akan mengecek tekanan darah, menimbang berat badan serta meminta saya mengecek urin untuk melihat kandungan protein dan darah. Midwife juga bertanya panjang lebar tentang kondisi saya, untuk kemudian memberi solusi untuk problem yang dihadapi. Contohnya beliau memberi beberapa saran untuk mual dan muntah saya. Juga meresepkan obat untuk heartburn saya, serta menawarkan merujuk saya ke fisioterapi ketika kaki saya kram dan ngilu. Midwife saya kemudian akan menulis tangan semua catatan kotrol hari itu, di buku kehamilan saya. Catatannya panjang2, sangat detail. Ohya, untuk pengecekan perutnya sendiri, hanya dilakukan pengecekan dengan doppler untuk mendengar detak jantung, lalu pengukuran panjang perut yang dilanjutkan pengecekan manual posisi bayi. Jadi, tidak ada pengecekan usg pada kontrol dengan midwife.

USG bayi di New Zealand, bagi ibu hamil dengan kondisi normal hanya dilakukan maksimal 3 kali yaitu pada usia kandungan 8 week, 12 week dan 20 week. Seluruh usg dilakukan di lab radiologi, terpisah dari kontrol kandungan. Hasil analisa usg oleh radiolog kemudian dikirim via email kepada midwife. USG ini seharusnya gratis bagi resident dan citizen. Saya sendiri waktu itu usg pertama sempat bayar ($40), namun dua kali sisanya gratis.

Selanjutnya saya akan bercerita mengenai kehamilan saya per trimester yaa…

Trimester pertama

Dibandingkan kehamilan Naisha, hamil rumi ini jauh lebih mual. Waktu hamil Naisha mual juga, tapi ga sering sehingga saya bertahan untuk ga muntah. Namun kali ini saya ga maksain nahan mual, jadinya muntah berkali-kali dalam sehari, bisa sampai 7 kali. Tapi abis muntah itu mualnya ilang loh, yang ada malah laper lagi. 😀 untungnya saya ga anti dengan makanan tertentu, apa aja yang biasa saya makan sebelum hamil masih bisa saya makan ketika hamil.

Di trimester pertama ini, saya pertama kali ngerasain usg di sini. Selain usg saya juga diminta untuk cek darah 2 kali. Pertama di usia 8week (blood group, antibody screen, rubella HIV, HB, Iron Level), kemudian di usia 12week berbarengan dengan usg 12w. Tujuan utamanya untuk pengecekan down syndrome pada kehamilan.

Trimester kedua

Memasuki 3 bulan ke dua, sesungguhnya pas banget dengan memasuki musim dingin. Dan hamil di musim dingin itu ga enak ternyata. Walau sudah disuntik vaksinasi flu, tetap saja saya beberapa kali kenal batuk pilek. Sembuh sebentar, kemudian sakit lagi, hiks. Belum lagi sakit kepala sering kambuh dan mengganggu. Sampai akhirnya saya periksa ke dokter, hal yang jarang sekali saya lakukan di sini. Tapi ya, ujung2nya “cuma” diresepin paracetamol. Begitulah dokter sini, pelit obat. Tapi alhamdulillaah walau lanjut ke trimester 3, lama2 si batuk pilek ini hilang juga.

Di trimester 2 ini ada satu kali usg anatomy scan di 20week. Di usg ini kami akhirnya tahu jenis kelamin sang jabang bayi. Hasilnya, Naisha nangis aja gitu di ruang periksa usg, karena pengennya adik perempuan bukan laki2.. ^_^’ Cek darah juga dilakukan di usia 28week, utamanya untuk pengecekan blood sugar dan kecenderungan diabetes.

Trimester 3

Berhubung Rumi lahir 5 week lebih awal, jadi sebetulnya trimester kedua ini saya cuma ngerasain 2 bulan aja. Alhamdulillaah overall trimester terakhir ini ga ada problem yang cukup berarti, malah sebulan terakhir saya bisa nemenin mama papa jalan2, bahkan naik ke snow mountain. Mama saya sih berteori pecah ketuban dini saya diakibatkan saya yang terlalu banyak gerak, terlalu sering jalan-jalan. 

Saya sendiri, punya hipotesa berbeda. Di trimester 3 ini, ada tambalan gigi saya yang copot dan tidak saya urus ke dokter gigi. Menurut hasil browsing saya, saya berkesimpulan ada kemungkinan terjadi infeksi bakteri yang masuk melalui tambalan gigi yang terbuka, hingga akhirnya mengganggu kehamilan dan menyebabkan pecah ketuban dini. Tapi sekali lg, wallaahu ‘alam, itu hanya hipotesa ala saya.

Hanya berselang 5 hari dari kepulangan mama saya balik ke Indo, ketuban saya pecah. Dua hari kemudian, lahirlah putra kami Rumi, yang menandakan selesainya perjalanan kehamilan anak kedua saya.

Wah panjang juga ternyata ya ga kerasa. Okelah saya sudahi dulu ya, namun insya Allah dalam rangka ulang tahun pertama Rumi, saya masih ada rencana nulis beberapa postingan lag. Tunggu dan doakan ya! 😉

Wassalaamu’alaikum wr. wb.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s