Diskusi Panel Tentang Kecerdasan Buatan

Standard

Assalamualaikum wr. wb.

Akhirnya pertama kali menulis terkait tentang pekerjaan di blog ini.

Salah satu kegiatan terkait pekerjaan yang menjadi sering dijalani sepulangnya ke Indonesia adalah menjadi pembicara di berbagai kuliah tamu, konferensi, meet-up, sharing session, diskusi panel, dan sebagainya. Semasa sebelumnya berkarir di New Zealand, tidak banyak kegiatan yang terkait menjadi pembicara / memberikan presentasi.

Ini mungkin juga menunjukkan bahwa topik terkait bidang keahlian saya, yaitu kecerdasan buatan (artificial intelligence / AI), juga sedang naik daun di Indonesia. Akhir-akhir ini cukup banyak acara dan kegiatan bertema AI. Dan cukup banyak pula undangan-undangan untuk menjadi pembicara yang tidak bisa saya penuhi.

Kamis minggu lalu (13/02/2020) merupakan “penampilan” pertama menjadi narasumber di sebuah diskusi panel sepeninggal Syva. Sebelumnya hampir saja saya membatalkan undangannya karena merasa belum siap lahir dan batin. Masih merasa tingkat kegelisahan berada di titik tertinggi dan tingkat kepercayaan diri di titik terendah.

Namun setelah dipertimbangkan ulang dan juga saran-saran dari teman ataupun berbagai sumber bacaan, sebaiknya “dipaksakan” saja untuk kembali kepada rutinitas agar pemulihan batin berjalan lebih cepat.

Acara diskusi panel tersebut diselenggarakan oleh cognixy.ai, salah satu startup di bidang AI di Indonesia, bekerja sama dengan STEI ITB dengan tema “AI for Indonesia: The Hope and Challenges”.

Di awal sesi masing-masing pembicara diminta untuk menyampaikan presentasi singkat sebagai pembuka. Saya ingin sedikit mengulas di sini apa saja yang saya sampaikan pada presentasi tersebut.

Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence)

Saat ini, AI mungkin sebuah bidang ilmu/teknologi yang sudah tidak asing lagi bagi banyak orang. Pendek kata, AI merupakan segala hal yang berkaitan dengan pembuatan mesin/program komputer yang dapat meniru aktifitas kecerdasan yang biasanya dilakukan oleh manusia. Bidang ini bermula dari motivasi untuk memahami kemampuan kognitif manusia lebih jauh.

Kecerdasan manusia sendiri pun merupakan hal yang sangat kompleks, yang memiliki sejarah kajian yang sangat panjang baik secara biologis, psikologis, maupun filosofis. Namun, paling tidak, kecerdasan manusia mencakup aspek belajar, bernalar, inferensi, prediksi, melakukan perencanaan, dan memecahkan masalah.

Kecerdasaan buatan pun bukan barang yang sepenuhnya baru — telah menjadi disiplin ilmu tersendiri sejak tahun 1950an. Bidang ini telah mengalami siklus naik dan turun, dimana pada suatu periode mendapatkan antusiasme yang tinggi namun pada periode lainnya mengalami pesimisme. Masa pesimisme ini dikenal dengan periode AI winter.Β 

Singkat cerita, terutama sebelum tahun 2010, perkembangan AI dominan pada proyek penelitian di laboratorium dan tidak banyak produk kecerdasaan buatan yang dapat dimanfaatkan di ranah praktis.

Pemelajaran Mesin (Machine Learning)

Saat ini dapat dikatakan situasinya berbeda. Banyak terobosan pada teknologi AI yang dampaknya signifikan pada ranah aplikasi, terutama di bidang computer vision dan natural language processing.

Terobosan-terobosan tersebut dicapai melalui sub-bidang dari AI yang dikenal dengan istilah pemelajaran mesin (machine learning), yang merupakan aspek belajar dari AI. Belajar yang dimaksud yaitu kemampuan program komputer atau model untuk meningkatkan performa melalui data, yang mayoritas dilakukan dengan pendekatan statistik.

Pemelajaran mesin juga merupakan bidang ilmu yang hampir sama usianya dengan AI itu sendiri. Alasan utama mengapa pemelajaran mesin sukses mencapai terobosan-terobosan sekarang ini disebabkan, paling tidak, oleh 2 hal:

  1. Ketersediaan data yang berlimpah
  2. Perkembangan komputasi hardware

Dahulu, kedua hal tersebut merupakan bottleneck bagi metode pemelajaran mesin untuk bekerja dengan baik.

Terdapat beberapa paradigma pada pemelajaran mesin: supervised learning, unsupervised learning, reinforcement learning, dan sebagainya. Di antara paradigma-paradigma tersebut, supervised learning merupakan yang saat ini paling berhasil pada ranah aplikasi. Dapat dikatakan sekitar 80-90% dari pemanfaatan pemelajaran mesin dicapai melalui supervised learning.

Supervised Learning

Cara kerja dari supervised learning pada dasarnya mencari mempelajari / membentuk sebuah model atau fungsi matematis diberikan sejumlah besar data (dapat berjumlah jutaan) dalam bentuk input-output yang telah terdefinisi dengan jelas. Model yang sudah belajar dari data tersebut kemudian akan dipergunakan untuk melakukan prediksi: memberikan output yang tepat dari suatu input, yang boleh jadi belum ada pada data yang digunakan untuk belajar. Salah satu model yang sangat efektif untuk melakukan prediksi semacam itu adalah deep learning network.

Dengan ide sesederhana itu, banyak sekali problem-problem dunia nyata yang dapat dipecahkan, antara lain:

Spam filtering

  • Input: metadata pada pesan email (judul, subyek, isi, dsb)
  • Output: spam atau bukan spam

Machine translation

  • Input: teks dalam suatu bahasa (contoh: B. Inggris)
  • Output: pasangan teks dalam bahasa lain (contoh: B. Indonesia)

dan sebagainya.

Sebagian kalangan, terutama yang bukan dari latar belakang teknis komputasi, ketika menyebut tentang AI, yang sebenarnya dia maksud adalah supervised learning. Cakupan AI sebenarnya jauh lebih luas dari supervised learning.

Perkembangan Riset Fundamental tentang AI Buatan

Walaupun supervised learning telah berhasil melakukan berbagai terobosan, komunitas AI terus melakukan upaya untuk melakukan perbaikan dan peningkatan terhadap kemampuan AI. Paling tidak, ada dua hal yang saat ini membatasi pengembangan AI yang lebih powerful: i) ketergantungan terhadap data yang berformat input-output berjumlah besar, ii) kemampuan prediksi yang masih cukup sederhana.

Baru-baru ini, tiga penerima Turing Award tahun 2019 (semacam Nobel Prize untuk bidang komputasi), Geoffrey Hinton, Yann Lecun, dan Yoshua Bengio, memberikan presentasi di konferensi AAAI 2020 yang dapat disimak di https://www.youtube.com/watch?v=UX8OubxsY8w. Kurang lebih apa yang mereka sampaikan itulah yang menggambarkan keadaan teknologi atau kemampuan AI saat ini.

Mengutip apa yang disampaikan oleh Yann Lecun, terdapat 3 problem yang sedang dikaji oleh para ilmuwan AI:

  1. Belajar melalui data yang lebih sedikit
  2. Belajar untuk melakukan penalaran
  3. Belajar untuk membentuk perencanaan dalam bentuk rangkaian aksi / instruksi

dimana manusia mampu melakukan hal tersebut jauh lebih baik daripada AI.

Pengembangan AI untuk Ekonomi Berkembang

Semua cukup sepakat bahwa teknologi AI saat ini akan berkontribusi menghasilkan disrupsi teknologi yang berpotensi menawarkan masa depan yang lebih baik bagi umat manusia, sekaligus memiliki resiko atau tantangan.

Pertanyaan besar untuk kemajuan Indonesia: bagaimana kita seharusnya mengembangkan dan memanfaatkan AI?

Salah satu tantangan terbesar dari ekonomi berkembang dibandingkan ekonomi yang telah maju untuk mengadopsi AI adalah kesiapan data digital dan juga infrastruktur komputasi. Negara-negara seperti U.S., Kanada, Australia, dan sebagian negara-negara di Eropa telah lama memiliki ekosistem data digital dan komputasi yang sudah dewasa. Ditambah lagi dari sisi pengembangan fundamental AI, mereka sejak lama telah memulainya.

Namun demikian, bukan berarti negara berkembang tidak ada kans sama sekali untuk memanfaatkan AI demi kemajuan negara. Secara umum, ekosistem AI secara global sendiri belum bisa dikatakan di level yang matang. Masih banyak peluang, permasalahan, atau area yang belum terjamah oleh teknologi AI. Oleh karena itu, hal pertama yang dapat dilakukan adalah dengan terus mencari dan menciptakan nilai guna yang unik dimana AI dapat bermain di sana.

Salah satu contoh nilai guna unik yang semestinya kita sendiri yang mengembangkan adalah model bahasa natural (NLP model) yang efektif, spesifik untuk menangani pemrosesan bahasa Indonesia beserta berbagai variasinya dan juga menangani bahasa lokal. Problem ini unik karena kitalah yang benar-benar mengerti domain bahasa domestik kita sendiri dibandingkan pemain-pemain dari luar. Bayangkan kita memiliki mesin translasi untuk menerjemahkan bahasa apapun ke dalam bahasa Indonesia dengan akurasi yang cukup tinggi, ataupun menerjemahkan semua bahasa lokal yang kita miliki satu sama lain, baik melalui teks maupun melalui audio.

Hal kedua yang dapat dilakukan adalah berfokus pada sektor-sektor tertentu yang benar-benar menjadi keunggulan kita atau yang benar-benar ingin kita selesaikan permasalahannya. Kita tidak harus sepenuhnya mengikuti jejak pengembangan AI yang sudah dilakukan pada negara maju, yang pendekatannya cenderung holistik mengarah penemuan dan eksplorasi pada berbagai aspek. Yang perlu dilakukan adalah memposisikan teknologi AI sebagai katalis untuk mendorong percepatan sektor-sektor tertentu, meminjam prinsip yang disampaikan oleh Jim Collins pada bukunya yang berjudul Good To Great.

Yang ketiga adalah dengan memperkuat sinergi antara institusi privat dan publik dalam pengembangan AI. Hal ini mungkin tidak hanya berlaku khusus pengembangan AI saja, melainkan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada umumnya. Sudah bukan jamannya lagi masing-masing institusi untuk berjalan sendiri-sendiri karena yang akan dihasilkan hanyalah perlambatan kemajuan.

AI untuk Pengembangan Manusia

Menurut saya, aspek yang sangat penting yang harus kita selesaikan adalah pengembangan manusia itu sendiri, yang mencakup kesehatan, pendidikan, dan standar ekonomi/pendapatan perkapita. Pengembangan AI mesti diselaraskan dengan quick wins apa yang mau dicapai dan juga strategi nasional pada aspek pengembangan manusia yang dapat mengakselerasi peningkatan human development index (HDI).

Contoh quick win yang dapat dilakukan dengan AI dan langsung mengarah kepada peningkatan HDI misalnya mengarah kepda aspek usia harapan hidup bayi yang baru lahir. Salah satu penyebab kematian bayi adalah birth asphyxia, kondisi dimana bayi mengalami kekurangan oksigen yang terjadi dalam waktu yang cukup lama hingga mengakibatkan gangguan fisik terutama pada otak.

Pada daerah terutama di luar kota besar, seringkali akses terhadap sumber daya kesehatan sangat terbatas dan kurangnya pengetahuan dari masyarakat sehingga birth asphyxia sulit untuk dideteksi sejak dini. Dengan penetrasi internet dan telepon seluler, kita dapat mengembangkan aplikasi berbasis AI yang dapat dipasang pada telepon seluler untuk mendeteksi birth asphyxia melalui suara tangisan bayi sebagai indikator. Salah satu start-up dari Nigera sudah memulai pengembangan ini. Inisiatif semacam inilah yang perlu didorong lebih kencang oleh institusi pemerintah mauapun privat.

Tentunya masih banyak lagi problem-problem pada pengembangan manusia dimana AI berpotensi untuk membantu penyelesaiannya.

Pada dasarnya peran AI sama halnya dengan teknologi yang sudah diciptakan sebelumnya seperti listrik, mesin uap, dan lain-lain, yang dapat memicu terjadinya revolusi industri. Sifatnya pun netral, dalam artian teknologi itu sendiri tidak menentukan bagaimana skenario yang terjadi pada kehidupan manusia akibat munculnya teknologi tersebut: apakah terjadi skenario utopia, distopia, ataupun di tengah-tengah.

Hasrat kolektif kitalah yang lebih kuat untuk menentukan skenario apa yang ingin kita jalani dengan penggunaan AI. Menurut saya, kita kembalikan pengembangan AI kepada motivasi awalnya, yaitu untuk memahami kita sendiri agar meningkatkan kemampuan kita sebagai manusia baik secara individu maupun kolektif.

Wassalamualaikum wr. wb.

3P yang Menghambat Pemulihan

Standard

Assalamu’alaikum wr. wb.

Judul di atas merupakan topik yang dibahas pada Bab I buku Option B: Facing Adversity, Building Resilience, and Finding Joy, yang ditulis oleh Sheryl Sandberg dan Adam Grant. Sheryl Sandberg merupakan Chief Operating Officer (COO) dari Facebook, yang tentunya sudah tidak asing lagi bagi para pegiat teknologi dan media sosial. Adam Grant merupakan teman dari Sheryl yang juga seorang profesor psikologi di Wharton School of the University of Pennsylvania.

Penulisan buku tersebut termotivasi dari tragedi kematian mendadak suami dari Sheryl Sandberg, Dave Goldberg, pada tanggal 1 Mei 2015 ketika mereka sedang menikmati liburan keluarga. Dave ditemukan di ruangan gym dalam keadaan tidak sadar, terbaring di atas mesin eliptis dan tak lama kemudian meninggal dunia. Penyebab kematiannyaΒ  kemudian diketahui disebabkan karena cardiac arrhythmia.

Sheryl dan Adam mencoba membagikan pengalaman dan pengetahuannya bagaimana bertahan dan bangkit kembali dari keterpurukan karena ditinggalkan oleh seseorang yang dicintai pada buku tersebut.

Terima kasih kepada dua orang teman yang merekomendasikan buku ini ke saya. Saya sendiri belum sepenuhnya selesai membaca semuanya. Namun sejauh ini apa yang dibagikan cukup bermanfaat buat saya yang baru saja ditinggal istri, untuk mencoba kembali lagi ke jalur normal.

Pada kesempatan ini saya hanya akan membahas apa yang saya pelajari dari Bab I buku tersebut, yaitu mengenai 3P: (1) Personalization, (2) Pervasiveness, dan (3) Permanence.

Tentunya sulit sekali untuk keluar dari kesedihan yang mendalam akibat ditinggal mati seseorang yang sangat dicintai. Emosi bercampur aduk antara syok, marah, rasa tidak percaya, rasa bersalah, dan sebagainya, yang apabila berlarut-larut dapat mengganggu kesehatan diri dan sulit untuk berfungsi secara normal.

Namun, menurun Martin Seligman, pemulihan dari duka akan menjadi lebih sulit apabila kita terjebak pada 3P yang disebutkan sebelumnya. Apa yang dimaksud dari masing-masing terminologi tersebut?

  1. Personalization: pemikiran bahwa kita sepenuhnya bersalah atas tragedi yang menimpa orang yang dicintai
  2. Pervasiveness: pemikiran bahwa tragedi yang terjadi akan mempengaruhi dan berdampak negatif pada semua aspek kehidupan kita
  3. Permanence: pemikiran bahwa penderitaan setelah terjadinya suatu tragedi akan selamanya dirasakan

Harus diakui saya terjebak pada 3P tersebut, terutama di 1 – 2 minggu pertama setelah kepergian Syva, terlebih-lebih di 3 hari pertama dimana saya hampir tidak bisa tidur. Perasaan bersalah dan menyesal terus menghantui. Saya merasa menjadi suami yang paling buruk sedunia. Mengapa selama ini tidak begitu memperhatikan kondisi kesehatan Syva. Mengapa tidak memberikan perhatian dan dukungan penuh kita awalnya Syva didiagnosa sebagai Bell’s Palsy. Dan berbagai bentuk perasaan bersalah lainnya.

Saya pun merasa setelah tragedi ini kehidupan saya dan keluarga tidak akan seindah dulu lagi. Mungkin saya juga tidak bisa lagi berfungsi sebagaimana mestinya. Terasa sekali kepedihan membayangkan anak-anak tidak akan pernah mendapatkan kasih sayang bundanya lagi hingga mereka dewasa.

Bagaimana caranya bisa keluar dari jebakan 3P tersebut?

Salah satu hal yang disarankan adalah mencoba untuk berhenti menyalahkan dan berdamai dengan diri sendiri. Banyak hal-hal yang memang di luar kontrol dan kuasa kita sehingga kita tidak perlu menyalahkan diri sendiri. Seorang dokter pun tidak mampu mengidentifikasi di awal bahwa kejadian Bell’s Palsy yang dialami Syva itu sebenarnya bukan Bell’s Palsy namun tumor yang bersemayam di otaknya, apalagi saya sendiri.

Mengurangi perasaan menyesal ini bagi saya cukup manjur. Paling tidak, perlahan-lahan membuat durasi tidur kembali normal.

Cara lain yang sepertinya lebih ampuh adalah meningkatkan rasa syukur terhadap hal-hal baik yang sudah diberikan. Bersyukur bahwa saya dan anak-anak masih dalam keadaan sehat wal afiat. Bersyukur masih memiliki keluarga besar dari pihak saya dan Syva yang selalu hadir dan memberikan dukungan. Bersyukur masih memiliki teman dan kerabat yang begitu perhatian baik bertemu langsung maupun dari jauh lewat media telekomunikasi. Bersyukur bahwa situasi finansial masih dalam keadaan aman.

Pada intinya, masih banyak nikmat-nikmat Allah yang dapat disyukuri namun terkadang itu tertutupi akibat kesombongan diri ataupun terlalu berlebihan menyikapi tragedi — hal terakhir mungkin ada kaitannya dengan negativity bias.

Alhamdulillah, tentunya rasa syukur yang mendalam pernah ditemani Syva semasa hidup di dunia ini, bahkan sepeninggalnya pun saya tetap diingatkan untuk terus bersyukur melalui tulisan ini. Ditambah pula dengan kejutan tulisan “tersembunyi”, yang baru saja saya temukan kemarin di buku catatan pribadi saya.

Syva yang telah tiada pun masih memberikan semangat dan won’t let me down, seakan-akan sebelumnya sudah mempersiapkan untuk membantu saya untuk keluar dari jebakan 3P ini.

Wassalamu’alaikum wr. wb

Goresan Tinta Terakhir

Standard

Assalamu’alaikum wr. wb.

Aku ingin sedikit bercerita dan mendokumentasikan tulisan-tulisan terakhir Syva yang dilakukan semasa rawat inap di RS Premier Bintaro pasca operasi Kraniotomi yang dilakukan pada hari Sabtu, 21 Desember 2019. Selama rawat inap berlangsung, aku menjaganya hampir penuh waktu ditemani sofa yang cukup nyaman yang berada di samping kirinya. Beberapa hari setelah operasi, kondisi fisik Syva sebenarnya sempat membaik: bisa berbicara normal, bisa jalan sendiri bolak-balik dari tempat tidur ke kamar mandir, bisa jalan-jalan di sepanjang koridor RS sambil dituntun, dan bisa menulis di atas kertas.

Di suatu waktu Syva meminta untuk dibelikan minimal 4 buah buku tulis, yang rencananya: 1 untuk dirinya sendiri dan 3 yang lainnya masing-masing untuk menuliskan pesan kepadaku, Naisha, dan Rumi. Sempat terlintas dipikiran aku apakah ini tanda-tanda atau firasat bahwa dia akan pergi jauh. Tapi dasar hatiku ini yang keras dan penuh penyangkalan, aku cenderung bersikap denial terhadap pemikiran tersebut.

Dari keempat buku tersebut hanya 1 yang berhasil Syva tulis. Selebihnya belum sempat tergores dengan tinta 1 garis pun.

Aku abadikan goresan-goresan tinta terakhir Syva di sini untuk berjaga-jaga apabila terjadi sesuatu pada buku fisiknya (rusak atau hilang).

Tulisan 1 (30 Des 2019)

Tulisan di bawah ini dibuat oleh Syva di pagi hari, mencoba merekam perkembangan medisnya setelah operasi kraniotomi. Suasana di kamar RS pagi itu cukup positif dan ceria bagi kita berdua, melihat perkembangan kesehatan Syva di hari-hari sebelumnya yang juga terlihat semakin membaik. Dan juga salah satu dokter sempat mengisyaratkan mudah-mudahan bisa pulang ke rumah sebelum tahun baru.

 

Each day is a new history

Day 1 post op – Alhamdulillah I’m still alive! So I started 2 rakaat tahajud on my ICU bed. One mean nurse caught me crying and said, “Stop it, will ya! It won’t help urself doing this”. To her I replied, “I was praying, you know. It’s not even shubub. I’m praying tahajud”. These are not tears of sadness. They are tears of grateful

Day 2 post op – Alhamdulillaah I can stand up!

Day 3 post op – Alhamdulillaah I can roam around in a wheel chair

Day 4 post op – Alhamdulillaah I can walk and the corridor by my own foot, leaning to the love of my life

Day 5 post op – Alhmdh I can pooped by my own
You see, each day is a new history.
It’s all about perspective and how you appreciate all the little things happened in your life.

Day 10 post op – Alhmdlh I can still write!

Hanya ada satu indikasi medis negatif yang cukup kentara: pandangan Syva yang menurutnya terlihat ganda apabila membuka kedua matanya. Dia bisa melihat lebih jelas apabila salah satu matanya ditutup. Ini yang menyebabkan dokter syarafnya merujuk untuk dilakukan MRI scan kembali, membandingkan hasil sebelum dan sesudah operasi. Tidak lama setelah Syva membuat tulisan di atas, pagi itu aku mengantar Syva ke bagian radiologi untuk menjalani MRI scan.

Tulisan 2 (30 Desember 2019)

Di hari yang sama, pada sore harinya aku dipanggil oleh dokter syaraf untuk keluar dari kamar rawat sebentar. Perasaanku sudah agak tidak enak dengan dipanggilnya keluar, karena berarti ada hal yang harus dokter sampaikan secara privat kepadaku terlebih dahulu sebelum ke pasien, yang biasanya itu kabar yang tidak mengenakkan.

Dan ternyata memang demikian. Hasil MRI yang kedua ini jelas menunjukkan bahwa tumornya kembali membesar, bahkan terkesan lebih besar dibandingkan sebelum operasi. Namun pada saat itu dokter belum memberikan vonis apapun mengenai seganas apa tumornya. “Tunggu saja dulu hasil resmi dari biopsi, dan sebaiknya masih tetap dirawat inap di sini hingga hasil biopsinya keluar. “, hanya itu perkataan penutup yang diucapkan dokter.

Aku dan dokter kemudian balik menuju ke kamar rawat untuk menyampaikan kabar ini ke Syva.

Selama dokter menjelaskan, aku dan Syva dalam keadaan hening. Hanya saling menatap dan kemudian disusul dengan tetesan air mata.

Syva memecah keheningan dengan mengatakan: “I’m sorry”.

Lalu dilanjutkan dengan: “I’m sorry if I’m such a burden for you. Aku bisa berjuang sendiri. Kamu dan anak-anak lanjut aja hidup seperti biasanya. Bila perlu bawa anak-anak ke tempat yang jauh, yang lebih sehat. Tolong jaga anak-anak. ”

Di saat yang sebenarnya dia punya segala alasan untuk memikirkan diri sendiri, yang dia pikirkan ternyata aku dan anak-anak 😦

Di malam harinya Syva pun menulis lagi. Sepanjang malam aku sendiri hanya melamun dan merenung, kenapa hal ini bisa terjadi padanya. Apa yang memicu adanya tumor di kepalanya, yang sepertinya bukan tumor jinak berdasarkan hasil MRI scan terbaru. Kenapa aku tidak bisa menjaganya dengan baik selama ini.

Asslmkm wr. wb.

I have a monster inside of me which I can’t control, unfortunately.

But do you know WHO has the unlimited power, WHO is the best of the best controller, WHO has everything in this world within His reach?

He is Allah The Almighty. My one and only God, whom I love so dearly.

I believe one day, He’ll kill the monster for me. Insya Allah. You just wait and see.

Asslmkm wr. wb.

Don’t pity them, don’t pity me.

I know some of you would say.

They’re just 7 and 3, and she’s only a couple years over 30.

Don’t pity them, don’t pity me.

Just keep us in your prayers every day, endlessly, effortlessly.

It definitely means so much to me.

Tulisan 3 (31 Desember 2019)

Sesuai perintah dokter, kita masih lanjut berada di kamar inap, di hari yang sebelumnya kita harapkan untuk bisa pulang.Β Di hari itu aku hanya mencoba bersikap normal, berusaha terus menghiburnya, dan optimis kalau dia akan sembuh.

Namun aku dapat merasakan sekali mood / keadaan emosinya yang bercampur aduk. Syva masih menyempatkan untuk menulis di sesi-sesi terpisah, yang menggambarkan penggalan-penggalan apa yang dia rasakan di hari itu.

Asslmkm wr. wb.

The day I knew I still have thing 2.

It was not easy to describe.

All you need to know is that I cried even more than the day I found out how much Snape loved Lily & Harry.

Asslmkm wr. wb.

They keep saying “your wound dries great”, “your headshapes better now”.

I kept thinking “I nailed the surgery”.

But who am I kidding.

The result was never up to me.

“Don’t you remember, Syva? Allah kicked out Iblis because of their arrogance?”

Asslmkm wr. wb.

I’ll stop crying today.

I’m a fighter.

I’m a survivor.

But fighters & survivors do cry too, don’t they?

I’m still crying at the moment.

But I promise I’ll stop crying later, today.

When I see myself in the mirror.

I no longer find my long black hair.

I don’t even remember how it looked before.

But that’s okay.

As I said to my best friend, getting bald is the last thing I’d worry about the surgery.

When I see myself in the mirror

I always hear Christina’s song

“You are beautiful, no matter what they say

No words can’t bring you down.

Don’t you bring me down today.”

When I see myself in the mirror.

The one thing popped out in my mind is “Dear head, why did you bring me down, today?”

But again, another song came out.

It was Destiny’s Child,

“I’m a survivor. I’m not gonna give up.

I will survive, I’m gonna work harder.

I’m a survivor, I’m not gonna give up.

I will survive, I’ll keep on surviving.”

You are the Renesmee to my Jacob

You mesmerize me

You are the Lily to my Severus

You are my only reason

You are the chair to my Sheldon

I can’t live without you

You’re the klopp to my kopp

You helped me win everything big in life which all came down to one grandeur priceless prize.

The great honor to be called Mummy by both of you

You are the Dongbaek to my Yong Sin

You make my life bloom

You complete me dear love, Naisha & Rumi.

I’ll be healthy for you. I’ll fight for you.

Tulisan 4 (3 Januari 2020)

Tibalah kita di hari vonis: pemberitahuan hasil biopsi. Waktu dimana yang selalu kita doakan dan harapkan agar memberikan ketenangan dan meningkatkan optimisme kita semua, yakni tumor tersebut tidak ganas.

Dan yang terdengar adalah kabar yang paling tidak ingin kita dengar: bahwa tumor yang bersemayam di kepalanya berjenis Glioblastoma multiforme (Grade IV) yang merupakan jenis paling ganas dari tumor otak. Optimisme yang sempat muncul sebelumnya pun runtuh seketika.

Setelah itu, sambil menangis Syva kembali mengatakan “I’m sorry. And I love you” berulang-ulang. Aku tetap berusaha tampak tegar dan tersenyum untuk menghiburnya, dan bilang ke dia untuk tidak perlu meminta maaf, walaupun di balik dada ini aku pun merasakan “patah hati”. Di malam harinya ketika dia tertidur, barulah aku tidak menahan lagi air mata untuk keluar sambil berbaring di sofa.

Sebelum tertidur, Syva terus memanjatkan doa. Tulisan pada hari ini sebenarnya bagian dari doa-doa yang dia panjatkan.

Insya Allah

Bersih Bersih Bersih Bersih Bersih Bersih

Sehat Sehat Sehat Sehat Sehat Sehat

Sembuh Sembuh Sembuh Sembuh Sembuh Sembuh

Kuat Kuat Kuat Kuat Kuat Kuat

…….

Insya Allah ku yakin

Aku akan sehat, aku akan sembuh, aku akan pulang

Allah akan sehatkan, Allah akan sembuhkan, Allah akan izinkan ku pulang menuntaskan jihadku sbg ibu & istri

…….

Tulisan 5 (5 Januari 2020) – Pulang

Hari ini merupakan hari kepulangan kita dari RS ke rumah bintaro. Tentunya bukan kepulangan yang menenangkan. Namun kepulangan untuk melanjutkan perjuangan kita ke tahap selanjutnya, yaitu menjalani radioterapi dan kemoterapi di RSCM.

Di pagi hari sebelum pulang, Syva masih sempat menggoreskan pena pada buku tulisnya. Dan goresan kali ini ditujukan kepadaku. Namun siapa yang menyangka ini menjadi goresan tinta terakhir darinya untuk selama-lamanya.

To the amazing man I proudly call as my husband.

I am so sorry. I thank you. I love you.

There’s not a day went by without me being grateful to have you in my life.

You’re just too good to be true. I wish I can’t take my eyes off of you. But my eyes are not so cooperative at the moment.

You are too good for me.

You don’t deserve my “now” me.

I’m broken. I’m not who I used to be.

I’m sick. But I believe I’ll be fixed.

Insya Allah

I’ll fight for you. I’ll be healthy for you.

I love you with all my heart.

Tulisan yang sangat menyentuhku dan penuh dengan cinta. Namun betapa bodohnya diriku. Aku belum sempat membalas tulisan itu dengan tulisan berenergi yang sama dengan dia tulis, yang bisa membahagiakan dan menguatkannya.

Setelah membaca tulisan itu, aku hanya merespon singkat dengan mengatakan “thank you, love”.Β  Aku tidak tahu apa bisa menutup rasa penyesalan ini di kemudian hari karena hanya memberikan respon tersebut. She did not deserve to have me as her husband. I should have written my love expression and got her read it. I should have given to her my full attention and not doing anything else.

Hari-hari berikutnya merupakan sejarah yang pilu bagiku sekeluarga. Tidak lama setelah menjalani beberapa sesi awal radioterapi dan kemoterapi, kondisi fisiknya menurun drastis, tanda bahwa Syva sebenarnya menanti kepulangannya yang lain. Kepulangan menuju rumah yang sebenarnya, yang insya Allah dijauhkan dari segala rasa sakit baik fisik maupun batin.

In Memoriam: Twindania Namiesyva (28 Juli 1987 – 14 Januari 2020)

Wassalamu’alaikum wr. wb.

My Bell’s Palsy Diary: 2 Weeks In

Standard

Assalaamu’alaikum wr. wb.

In a way, I think for me, writing is a therapy. Two days ago I had a bad day, a cummulation of a bad week. Then I remember I had these kind of bad days before, and I wrote some blog posts ehen it hsppened, which I think helped me through the days. Reading the posts tod

2 days ago when I felt really down, I looked for those posts, and I read them. so glad re

The past week has ben tough. Then I remember I had some rough weeks too before where I just realized that there’s such thing as up and downs in Bells Palsy. After feeling better day by day in week 1, my condition went downhill in week 2, something that I did not know csn happen. I thought you ca only get better each day with the therapy. I know better now.

The past week (week 2) I started to losemy taste again, somwthing that I tought I already regained. I

Wassalaamu’alaikum wr. wb.


Assalamu’alaikum wr. wb.

Mr. Ghifary’s now here …

Above is the very last blog draft that Syva was about to prepare before she passed away. She started writing it at 16 Dec 2019 via her mobile phone. It’s unfinished, even the title, but I just posted it as is to reminisce about her struggle. At that time, we both still thought that it was Bell’s palsy effects, according to the diagnosis outcome that we got from a doctor in Bandung weeks before.

Although we can see that some parts of the contents are incomplete, she wrote perfect opening and closing salaam.Β Her habit when writing a blog post was that she always began with salaam, even before writing the title. She ever told me that that really meant to greet and pray for all the readers for their safety and welfare before everything else, showing how caring and selfless she was.

I remember that she confided her health situation to me that she got:

  • unusual headache, especially after some physical work
  • often generate typos when typing
  • loss her taste on food even her favourite ones, which was really not so her
  • moderately loss her articulation when talking

My fault that I perhaps will always feel guilty, I didn’t act proactively to further figure out what’s really going on — the fact that it was diagnosed as Bell’s palsy made me complacent and careless. I could take some days on-leave and put my full support and attention for her, could keep pushing the doctor/hospital to check more rigorously and asking for CT / MRI scan much earlier, could consult with other doctors for second opinion.

3 days later after the date when this draft was created, we visited a neurologist at RS Premier Bintaro, got her MRI scan, and found that her sickness was not just Bell’s palsy. It’s something much worse, a little monster in the right side of her brain that is notoriously very stubborn to fight against.

Obviously after that she did not get a chance to operate laptop or only interact with mobile phone in a very minimal occasion so that she could not continue any blog write-up.Β Β And the rest has been a fate that we must accept, although it’s very hard. She still managed to scratch and write though, but with paper and pen. I plan to document some of them in this blog as well some time later.

My takeaway on this is that please give a full support and attention for your love one when he/she really needs it, especially related to the health. Keep being skeptical for any health diagnosis outcome. Being a man, I cannot be so careless like this.

Wassalamu’alaikum wr. wb.

To my wife sent from and back to heaven

Standard

Assalamu’alaikum wr. wb.

Hi, I’m Ghifary, the one whose name is embedded in this blog but never left any single word before here although my late lovely wife, Syva, the main author of this blog always encouraged me to write and share stories from my perspective. But I kept being selfish, stubborned, and reluctant so it never happened… until Syva’s gone for good from this world.

To continue her legacy, I’ll try my best to be the main author of this blog and to post regularly here, with the same spirit as hers: share simple stories while you can. Those could mean a lot for other people although it might seem trivial for you. She always reminded me not to be too overthinking and too focused on “my stuff” — I’m used to writing through https://ghif.github.io/ or https://ghifar.wordpress.com/.

I’m now in great grief and sorrow since her passing. Perhaps writing here could help me as well as a therapy to go through and live with it.

Since the author changes, the writing style and content are not gonna be the same anymore– heck, my life is not gonna be the same as well. So I’m sorry for readers who still expect Syva’s style.

Let me start my therapy by posting a note that I wrote for her, the shorter version of which I posted in instagram a few days ago: https://www.instagram.com/p/B7ZU_nKhe4_/?utm_source=ig_web_button_share_sheet.

The following is the original one.


Hey love, I hope that now you are in a peaceful, safe and the best place ever, since Allah is now taking care of you directly.

It’s been only about 8 years and 9 months I spent time with you raising a family with 2 lovely kids, much much shorter than the time since the last time Liverpool FC (a football club that you’re crazy about) won the premier league.

Despite the very short time, it was the most beautiful moment in my life. I still remember vividly the moment when I went to your parent’s house for the first time, when we got married, when I hastily picked you up at Wellington airport to start our new life in NZ and to show you how cool Wellington is, when we wrote some songs together, when we went to our favourite parks and beaches, and many more. Then we came back for good to Indonesia, but it was not in my slightest mind that it’s also the moment you came back for good to The Creator not long after.

To me you’re not only my life partner but also already part of my soul. You’re the most loving, caring, cheerful, and selfless human being that I have ever known, to everyone without exception. I cant imagine how bad I could become as a person without you on my side. You always reminded me not to be selfish and to always share with others whatever advantages or privileges we have, and be grateful.

You had many goals that you wanted to achieve, but they’re always not about you. You wanted to replicate NZ early childhood playcentre concept in Indonesia so that more kids can have playgroup-style education for free. You wanted every stuffs to be eco-friendly to save the earth. You wanted that every new mom after the delivery goes with ease by providing free foods.

One that made me always touched was that you said, “my most important goal is to help you achieve your goals”, which was my fuel to live my life to the fullest. Even when you’re struggling with the little monster in your head, what you cared the most were me and the kids. Look how selfless human being you were.

What does it feel like without you now? I won’t deny that I’m in great grief. Whenever I try to redirect my mind to something else, there’s always you but I can’t reach you. The sweetest memories become the most bitter ones. So many regrets and what-ifs come up. What if we stayed in NZ longer for healthier environment. What if the little monster could be detected and cured earlier. Why I couldn’t be with you and said a proper goodbye and expressed how much I love you during the last minutes of your life.

I’m really sorry if I could not be a good husband for you. Sometime I could not be a good listener when you needed me to talk to. I regret that I did not express my love to you as much as you did to me. I’m so sorry if I did not treat you well.

But we who remain here longer than you must stay strong. We will try to rise up and move forward to get busy living rather than busy dying. Following your life principle, we should be grateful to whatever comfort we have and stay grateful even if it goes away, and believe that there will be better things to come.

You left us with a great legacy. Your life and writings have inspired so many people. You’re so loved such that we don’t stop receiving love and thoughts from everyone before, now, and then. Many people ran for you to finish another 5K running session that you wished to complete last year #5kforsyva.

You should be very proud with yourselves for what you have achieved in your life. I am and will always be a very proud husband of yours. Naisha and Rumi are and will be very proud to ever have a mom like you.

Your spirit will always live in our heart and thoughts. We will try our best to continue your legacy and the good deeds you did, and to complete your unfinished goals.

May Allah grant you jannah.

Innalillahi wa innailaihi rojiun. Rest in peace my angel, Naisha’s and Rumi’s mom sent from heaven

Twindania Namiesyva binti Goenarso (28 July 1987 – 14 January 2020)

Wassalamu’alaikum wr.wb.

Heartbroken

Standard

Assalaamu’alaikum wr. wb.

Yesterday was weird. One second I shed a tear on the physioteraphy bed, and the next second I smirked.

Short story, last week I was diagnosed with Bell’s Palsy and I have done 4 therapy sesssions ever since, consisted of laser therapy with my doctor (physiatrist) and infrared + electro therapy with my physiotherapist both done at hospital. And I still have at least 2 more of those sessions coming up before the doctor evaluate my progress next week.

Read: Ketika Nikmat Itu Berhenti

Yesterday was one of my therapy day. After the laser session, I asked my doctor if I could run my 4th 5k race this Sunday and the answer was NO. Then I proceed to the physiotherapy room to get the infrared + electro therapy when that weird thing happened.

I was laying down on the bed while waiting for the therapist to get ready, when I suddenly felt really really sad.

“Did the doctor just tell me that I can not run my race?? I’m seriously not permitted to run by my doc?”.

Oh crap! Apparently that truth hurt me bad that my left eye dropped a tear.

Then the next second I just realize that it was so funny, me being sad for not being allowed to do sport. And it was run, of all sports!! I mean, I was never a sport addict let alone a fan of running. But apparently now I am.

But to be honest the saddest part was knowing I have to be satisfied with “only” 3 medals this year. I know I know, that’s already a big achievement for me. But still, knowing that I am actually able to get my fourth but I must not do it, left me heartbroken.

But life must go on. Heartbroken or not.

So congratulation Syva, for your 3 5k medals this year. What an achievement!! Let’s hope for a healthier and happier running year in 2020! Insya Allah aamiin!

Wassalaamu’alaikum wr. wb.

Ketika Nikmat Itu Berhenti

Standard

Assalaamu’alaikum wr. wb.

Jumat 29 November minggu lalu, sepulang lari bersama anak ke-dua saya Rumi (3th) di areal SPORT Jabar tidak jauh dari rumah, entah mengapa saya merasa mual sekali, hingga terasa ingin muntah. Awalnya saya pikir mungkin karena pagi itu saya sarapan alpukat sebelum berlari, sesuatu yang tidak pernah saya lakukan sebelumnya.

“Ah, mungkin alpukat memicu asam lambung kali ya”, pikir saya sok tahu kala itu sembari tidak ingin terlalu memikirkan mual yang masih terus menerus terrasa.

Pasca mual hilang di hari yang sama, yang kemudian terjadi adalah ada rasa tidak nyaman setiap kali saya makan. Yang mana anomali dari kebiasaan saya, si penyuka makan. Entah kenapa makan apa saja rasanya jadi tidak senikmat biasanya. Bahkan makanan yang biasanya saya suka sekali, seperti dimsum Sigaragara yang sudah berkali-kali repeat order di grabfood, misalnya. Yang ada malah semakin dimakan semakin tidak nafsu. Semua makanan rasanya aneh, kaya ada pahitnya, ga nikmat pokoknya.

Baca: 7 rekomendasi makanan Grabfood/Gofood Area Arcamanik

Hari-hari berlalu tetapi semua makanan bahkan makanan kondangan pun masih terasa aneh dan tidak nikmat di lidah saya. Namun begitu sebagai foodie yang selalu mengklaim diri sebagai orang yang menghormati makanan, saya selalu menghabiskan makanan yang ada di piring saya, walau rasanya aneh sekalipun. Bingung banget sebetulnya, kok rasa ga enak makan ini ga kelar-kelar. Sampai saya sempet mikir jangan-jangan saya hamil hahahah (Nope I’m not pregnant). Namun semua kebingungan saya kemarin (Selasa, 3 Desember) akhirnya terjawab sudah.

Kemarin pagi itu sekitar jam 5.30 WIB saya duduk bersama anak pertama saya Naisha (7th) di sofa di ruang keluarga. Tiba-tiba saya cegukan. Setelah berusaha menahan nafas beberapa kali, cegukan saya tidak hilang juga, akhirnya saya putuskan untuk meminum air.

Entah mengapa ketika meminum air tiba-tiba saya merasa seakan-akan ada serat lidah saya yang tersangkut di sela-sela gigi bawah sebelah kiri sehingga lidah saya tidak bisa bergerak seperti biasa. Yang lebih mengherankan lagi, air yang saya minum tidak bisa tertelan malah keluar lagi mengalir begitu saja dari mulut, membasahi baju saya.

It felt unreal, kejadiannya begitu cepat dan terasa seperti mimpi. Setelah melihat raut muka Naisha yang sangat khawatir dan berkali-kali bilang “Mama kenapa?”, saya baru ngeh ini bukan mimpi, lalu saya buru-buru menuju kamar dan mengaca, memastikan apa benar lidah saya masih nyangkut di gigi bagian kiri.

Ternyata menyangkut itu hanya perasaan saya saja, tapi lidah miring ke kiri dan tidak bisa dikontrol balik ke posisi semula itu benar adanya. Sedikit mulai panik namun mencoba untuk keep calm, saya balik duduk di sofa ruang keluarga dan meminum air lagi. Terjadi lagi, air tidak bisa tertelan dan ngeces begitu saja seperti sebelumnya. Namun saya rasa lidah saya sudah bisa digerakkan. Saya coba lagi minum untuk ketiga kalinya, dan air tetap keluar mulut tanpa bisa tertelan.

Raut muka Naisha yang semakin terlihat khawatir meyakinkan saya bahwa ada sesuatu yang salah dengan diri saya, dan ini adalah hal serius yang harus segera ditangani. Saya pun langsung meminta Naisha memanggil Mr. Ghifary yang saat itu sedang berada di kamar anak-anak di lantai dua.

Tidak lama kemudian Mr. Ghifary turun dan menanyakan apa yang terjadi. Saya pun coba menceritakan apa yang saya rasakan, dibantu Naisha yang ikut ribut memperagakan mulut dan lidah saya miring ke kiri.

Belum selesai cerita saya, Mr. Ghifary memotong dan mengatakan “Ngomong kamu aneh, kita ke dokter sekarang”. Jujur saja dengar komen itu saya kaget sekali. Karena saya hanya sadar lidah tidak bisa dikontrol tanpa ngeh kalau artikulasi saya tidak normal. Saya pikir saya berbicara biasa saja. Dan pikiran pertama yang terlintas di kepala saya adalah, “Apakah saya stroke?”.

Mr. Ghifary pun lanjut mengajak untuk bersiap-siap ke rumah sakit, di saat yang sama beragam pikiran terus menerus berkecamuk di kepala saya. Apa benar saya stroke, kalau benar bagaimana nasib anak-anak nantinya. Hari ini pun Naisha harus tetap ke sekolah karena ada ujian, dsb.

Akhirnya saya putuskan untuk langsung mempersiapkan Naisha supaya kondisinya siap diantar ke sekolah untuk ujian, dengan seragam lengkap tak lupa tas dan bekalnya. Botol minum Naisha yang saya masukkan ke dalam tas sempat tumpah di dalam tas, yang membuat saya berpikir lagi, apa saya benar-benar stroke, kok bisa tidak terkontrol gini, botol minum aja bisa tumpah.

Seketika saya pun langsung terpikir untuk memanggil Rumi, menawarkan menggendongnya, dengan ajakan “Huggie”, yang disambutnya dengan semangat seperti biasa. Saat itu saya pikir, kalau benar saya stroke harusnya saya tidak bisa mengangkat dan menggendong Rumi. Alhamdulillaah saya bisa melakukan keduanya dengan mudah. Sepertinya bukan stroke, kalaupun iya mungkin stroke ringan.

Setelah semua siap, kita langsung berangkat ke RS Hermina Arcamanik. Berhubung Mr. Ghifary harus jaga anak-anak, sejak daftar hingga masuk IGD saya urus sendiri. Sebetulnya kala itu saya tidak merasa sakit apa-apa sih. Lidah juga sepertinya sudah normal, semua anggota badan saya berfungsi seperti biasa, tidak demam atau terasa sakit di mana pun, alhamdulillaah. Tapi tetap ingin cek dokter memastikan apa benar stroke atau bukan.

Dokter IGD pun memeriksa saya, dan mengatakan ada 2 kemungkinan terkait kondisi saya. Satu, penyakit Bell’s Palsy, atau stroke ringan.

Kebanyakan orang sepertinya sudah tahu stroke ya, tapi sepertinya banyak yang belum familiar dengan Bell’s Palsy, termasuk saya. Singkatnya penyakit Bell’s Palsy terjadi ketika facial cranival nomor 7 (pengatur otot muka) terganggu fungsinya, sehingga (umumnya) sebagian dari otot muka (untuk kasus saya muka sebelah kiri) menjadi tidak terkendali dengan normal seperti biasanya. Lebih lengkap tentang penyakit ini bisa digoogle aja ya! #malasnulis

Balik lagi ke IGD. Dokter IGD pikir kasus saya cenderung mengarah ke Bell’s Palsy, tapi belum bisa memastikannya. Dokter IGD juga kurang yakin apakah harus merujuk saya untuk CT Scan atau tidak, sementara beliau tidak berhasil menghubungi dokter jaga spesialis syaraf. Akhirnya supaya lebih pasti, saya dirujuk untuk konsultasi ke dokter spesialis syaraf, kebetulan sekitar 1 jam dari waktu saya diperiksa di IGD akan ada praktek dokter syaraf di RS Hermina.

1.5 jam kemudian akhirnya saya diperiksa dokter spesialis syaraf di poli syaraf RS Hermina. Setelah melakukan pemeriksaan, dokter pun memvonis saya mengidap penyakit Bell’s Palsy, sesuai dugaan dokter IGD. Alhamdulillaahnya kondisi penyakit saya masih sangat ringan sekali katanya, insya Allah bisa sembuh dengan pengobatan dan fisioterapi (2 minggu ke depan), insya Allah. Berbekal 3 macam obat dan surat rujuk konsul fisioterapi untuk Jumat ini, akhirnya saya pun pulang ke rumah.

Setelah google sana sini, baru saya mengerti ternyata rasa pahit atau tidak enak makan yang selama ini saya rasakan adalah efek samping penyakit Bell’s Palsy. Tepat seminggu sudah, saya tidak bisa menikmati rasa enak dari makanan. Alhamdulillaah insya Allah saya ikhlas, mencoba terus bersabar dan positive thinking suatu hari saya akan bisa kembali menikmati makanan seperti biasa.

Apapun itu, seperti Mr. Ghifary bilang, masih banyak yang bisa disyukuri. Alhamdulillaah saya bukan terkena stroke. Alhamdulillaah walau tidak terasa enak di lidah, saya masih ada makanan untuk dimakan dan masih bisa mengunyah, menelan dan memakan habis hidangan di piring saya seperti biasa. Alhamdulillaah yang tak terkira, anggota badan saya lainnya masih bisa berfungsi normal dan maksimal seperti biasa, alhamdulillaah Yaa Allah.

As for now, kondisi saya saat ini alhamdulillaah jauuh lebih baik daripada “serangan” pertama kemarin pagi. Bicara sudah tidak lagi aneh, walau lidah masih sedikiiit miring ke kiri jika dijulurkan. Dan jika mereka yang bisa mengenali penderita Bell’s Palsy berinteraksi dengan saya, sepertinya tidak akan sulit menyadari bahwa saya adalah seorang penderita Bell’s Palsy dengan area muka sebelah kiri yang terpengaruhi, walau bagi orang awam mungkin tidak akan terlalu kentara. Sampai saat ini makanan juga masih belum ada yang terasa nikmat, but that’s okay. Percayalah, saya baik-baik saja. Alhamdulillaah. 😊

Dear Naisha dan Rumi. Seperti kebanyakan tulisan lainnya di blog ini, tulsan ini juga Bunda tujukan untuk kalian. Bunda menulis ini sambil mengingat kalian (selain mengingat minggu tema “Berhenti” komunitas 1minggu1cerita hehehe). Supaya ada hikmah yang bisa dipelajari dalam setiap kejadian.

Suatu hari nanti, kalian akan jauh lebih bijaksana dari Bunda, dan bisa mengambil hikmahnya sendiri. Untuk saat ini, biarlah Bunda bagi di sini, hikmah apa yang telah Bunda petik dari penyakit ini.

Bahwa seperti yang tertera dalam surat An Nahl ayat 18:

Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Nikmat Allah tak kan pernah bisa terhitung oleh kita, maka dari itu bersyukurlah, bersyukurlah, dan terus bersyukurlah.

Bersyukurlah setiap saat atas limpahan nikmatNya yang tak terhingga jumlahnya.

Bersyukurlah ketika kau masih bisa menikmati. Tetap bersyukurlah walau kenikmatan itu berhenti.

Saat nikmat itu sedang menjauhi, ikhlaskanlah kepergiannya. Yakinlah ada kebaikan daripada ketiadaannya. Berprasangka baiklah bahwa suatu saat nikmat itu kan kembali, atau diganti dengan yang lebih baik lagi. Ingatlah akan nikmat-nikmat lainnya tak terhingga yang masih di sisi, yang tak kan habis terhitung olehmu. Percayalah akan selalu ada nikmat lainnya menunggumu.

“Jangan bersedih, sesungguhnya cukuplah Allah bagimu.” (QS. At Taubah: 40)

I love you both, Naisha, Rumi. Kalian adalah bukti nyata kenikmatan Allah yang tak terbatas dan tak terhingga. Alhamdulillaah, alhamdulillaah, alhamdulillaah. Thank You Allah, for everything. πŸ’•πŸ’•πŸ’•

Wassalaamu’alaikum wr. wb.