Christchurch Trip Day 2

Standard

Assalaamu’alaikum wr. wb.

Rencana lanjut publish post di malam hari kedua, apa daya lagi ngetik udah panjang-panjang eh ketiduran saking capenya. Yowes takpapalah ya malah jadi bisa setor pertamax #1minggu1cerita 😁

Baca: Christchurch Trip Day 1

Hari kedua liburan, Minggu 12 Agustus 2018 dimulai dengan seluruh badan sayah linu-linu. Ternyata oh ternyata ngasuh 2 bocah sendirian, gendong plus ngejar2, jalan kaki dari dan menuju bus stop berkali-kali plus tiba-tiba kedatangan ‘tamu’ sukses buat saya tepar. #yaiyalah

Rencana mulai beraktivitas mulai jam9 meninggalkan motel pun bubar. Untung channel tv motelnya lengkap banget.. Dikasi tv juga udah hepi baik bocah maupun ibunya. Lumayanlah nambah waktu istirahat.

Jam 10.30 akhirnya kita mulai ke luar motel. Kami naik 1x bis 10-15menit ke kota, turun di stop dekat dengan Margaret Mahy Playground, tujuan pertama kita.

Mencari tahu bis, rute dan jadwal di Christchurch tidaklah sulit, tinggal buka metroinfo.co.nz semua info yang dibutuhkan dengan mudah bisa didapatkan. Sedikit tips, saat bayar tiket pada supir saya selalu bilang nama bus stop tujuan saya dan minta tolong diturunkan di stop tersebut. Karena saya tidak familiar dengan daerahnya jadi saya tidak tahu kapan harus memencet bel untuk menghentikan bus di stop yang saya tuju. Jadi lebih baik minta tolong bapak/ibu supirnya saja.

Kembali ke playground. Margaret Mahy playground was really awesome! I read that it is the biggest in New Zealand, and it pretty much exceed my expectation. Saking banyaknya jenis mainan yang ada walau hampir satu jam di sana tapi ga sempat kami mencoba semuanya.

Susah juga sih ya sendirian bawa 2 anak termasuk toddler tipe explorer. Ga bisa meleng dikit di area besar dan ramai orang begitu cepet banget ngilangnya. Mau ga mau areanya dibatasi bagi keduanya. Ga boleh terlalu jauh satu sama lain harus masih dalam pandangan mata. Cape deh intinya lol. But overall it was so fun, Christchurch kids are so lucky to have that playground.

Baca: Levin Adventure Park

Sayangnya cuaca yang dingin berangin agak kurang mendukung untuk berlama-lama di playground. Akhirnya kita cari tempat bermain indoor aja: museum. Untuk mencapao museum dari playground cukup naik 1x bis saja plus sedikit berjalan kaki.

Canterbury Museum adalah salah satu icon kota Christchurch. Di trip kami yang sebelumnya karena diburu waktu kami hanya sempat berfoto di luar museum saja. Ternyata setelah masuk ke dalam banyak sekali hal menarik yang bisa dilihat dan dipelajari. Dari berbagai macam koleksi hingga eksebisi temporer.

Lagi-lagi karena Rumi terlalu liar bereksplorasi akhirnya saya putuskan kami menghabiskan waktu di satu area saja yaitu area Kids Discovery.

Pilihan yang sangat tepat karena ternyata area Kids Discoverynya amat sangat menarik, bahkan jauh lebih menarik daripada Kids Discovery area nya Te Papa Wellington Museum. Baik Naisha dan Rumi sangat menikmati bermain di kids discovery. Setelah puas bermain kami pun mampir ke Museum cafe untuk makan siang.

Sebetulnya ada satu lagi agenda yang ingin saya lakukan di trip kali ini, yakni naik Christchurch tram. Namun karena sudah capai dan makin lama kok ya makin rempong jadi saya putuskan untuk kembali saja ke motel dari museum untuk beristirahat.

Setelah cukup beristirahat kami pun bersiap-siap untuk pergi melakukan aktivitas puncak dari trip kami kali ini, yaitu: nonton DISNEY ON ICE! Woohoo!

Betul sekali, tujuan utama kami ke Christchurch adalah nonton Disney on Ice. Pertunjukan yang sudah Naisha kenal sejak usia 2 tahunan semenjak demam Frozen beberapa tahun yang lalu, akhirnya semalam kesampaian juga nonton secara langsung! #yay #coretbucketlist

Sebetulnya tiap tahun itu selalu ada disney on ice di New Zealand. Tapi tahun-tahun sebelumnya saya merasa Naisha terlalu muda, dan tahun lalu ketika usia saya rasa cukup kebetulan pertunjukannya berlangsung saat kami sedang mudik ke Indonesia. Tapi gapapa, alhamdulillaah akhirnya kesampaian juga.

Show nya sendiri sudah sangat ketebak sebetulnya, karena udah nonton jutaan kali di youtube. Tapi tetap terasa menarik dan tentu saja spesial buat kami berdua. Tentu Elsa&Anna dari Frozen menjadi salah satu yang paling ditunggu. Namun begitu saya cukup amaze juga dengan koreografi bagian-bagian film disney lainnya, terutama Mulan dan Aladdin. Mungkin karena belum pernah lihat sebelumnya jadi efek surprisenya lebih terasa.

Sayangnya foto-foto yang saya buat banyak blurnya gara-gara Rumi yang saya gendong sering sekali bergerak. Namun ada beberapa video yang cukup oke, karena ternyata Rumi juga sangat menikmati pertunjukannya, ikut tepuk tangan, teriak-teriak hingga menari-nari dan akhirnya di akhir pertunjukkan tertidur kecapean.

Overall kami semua puas, dan kemungkinan besar mau nonton lagi tahun depan terutama kalau ada Moana (show kali ini semua princess hafir kecuali Moana) dan diapprove sama sponsor hihihi… Terima kadih banyak suami yang telah mengijinkan dan mensponsori trip kami ini.. Love you, Mr. Ghifary!! 😘😘

And for Disney on Ice, I hope you come back to Wellington next year okay? 😉

Wassalaamu’alaikum wr. wb.

Advertisements

Christchurch Trip Day 1

Standard

Assalaamu’alaikum wr. wb.

We are now back in Christchurch, South Island, woohoo! 😍😍

Ini kali kedua saya, Naisha dan Rumi jalan-jalan ke Christchurch. April lalu sebetulnya kami sempat mampir beberapa jam di Christchurch bagian dari 5 day South Island road trip. Cita-citanya sih bikin tulisan khusus tentang road trip kala itu, but I guess it’s a bit too much of work aka saya malas jadilah ngedraft mulu ga jalan2 lol. Yowes nulis cicilan trip kali ini aja yah…

Trip kali ini saya bertiga saja dengan anak-anak yang mana adalah PENCAPAIAN BESAR bagi saya. Ini adalah kali pertama saya bepergian menginap ke luar kota di New Zealand tanpa Mr.Ghifary. #pasangmedali #tebarconfetti 🥇🏆🎆🎉🎊

Sesungguhnya sebelumnya ga nyangka kalau ini adalah suatu hal yang mungkin saya lakukan. Tapi setelah melihat foto2 instagram seorang teman yang jalan-jalan berdua toddler tanpa suami di luar negeri yang bukan domisilinya, sungguh saya terpacu untuk melakukan hal yang sama. Kebetulan momennya ada, momen saya ingin ke Christchurch pas Mr. Ghifary diperkirakan tidak bisa menemani di saat yang sama. So that’s it, I believe can do it, let’s go kids!

Destinasi sekaligus alasan utama saya dan anak-anak jalan-jalan kali ini sebetulnya suatu agenda yang bisa selesai dalam satu hari. Tapi karena takut capek plus agak sayang rasanya kalau udah jauh-jauh cuma sebentar, akhirnya kita putuskan menginap 2 malam.

Pagi tadi kita berangkat naik Jetstar. Kalau beli jauh-jauh hari sebetulnya tidak jarang ada tiket promo dari Wellington ke Christchurch yang semurah-murahnya bisa dapat $35 one way seperti halnya tiket yang kami beli April lalu. Namun kali ini belinya agak mepet jadi sudah tidak dapat harga promo.

Waiting for boarding

Flightnya sendiri sih lancar ya, yang ngadat mah as expected anak sayah yang nomer dua. Duh si anak cowo satu ini yah, kalau ga lari, teriak, berusaha melepaskan diri. PR banget deh pokoknya. Ujung-ujungnya netflix to the rescue. Naisha mah as always my airport angel. I’d rather bring 3 Naisha than 1 Rumi in flight with me. 🤷💆🤦

Kita dijadwalkan berangkat pukul 8.20 dan akhirnya mendarat di Christchurch sekitar pukul 9.30.

Sesuai rencana, sesampainya kami di airport ga pake lama kami langsung menuju ke destinasi pertama yaitu International Antarctic Centre (IAC), salah satu bucket list kalau ke Chc tapi belum sempat berkunjung di trip yang lalu.

Kenapa langsung ke IAC? Pertama karena belum bisa check in di motel, masih terlalu pagi. Kedua karena IAC ini secara lokasi dan fasilitas sangat tourist-friendly. IAC dapat ditempuh kurang dari 10menit berjalan kaki dari Chc airport. IAC menyediakan luggage storage untuk turis-turis dari/menuju airport yang bawa koper seperti saya. Biayanya pun sangat terjangkau mulai dari $2.5 untuk 1 jam. Dan yang ga kalah menarik, IAC menyediakan fasilitas free shuttle dari/menuju Chc city/downtown dengan pool terakhir di Canterbury museum. Asik kan, lumayan banget jadi gratis transport deh ke kota. Cocok buat yang mau berhemat.

Ngomong-ngomong tentang berhemat, saya sarankan beli tiket IAC via bookme.co.nz karena potongan diskonnya bisa sampai 51% loh! Tapi biasanya promo muncul sekitar seminggu sebelum hari H. Ohya kalau mau beli tiket IAC lewat bookme, ga usah bingung kalau liat ada jam-jam tertentu. Saya beli tiket jam9, namun setelah konfirmasi ke IAC tiket saya masih akan berlaku jika saya datang sebelum jam10.

Gimana kesan-kesan main ke IAC? Seru! Lebih seru lagi kalau ga bawa toddler tapinya hahahahaha. Tapi serius IAC menarik banget. Cuma ya namanya bawa anak, dua biji, ada yang toddler, ngasuh sendiri pula pasti ya terbatas dan ga maksimal. Tapi overall we enjoyed it, Naisha too. So I am satisfied. 😊

Beberapa kegiatan yanb jangan sampai terlewatkan ketika ke IAC adalah penguin feeding, antarctic storm simulation, meeting with huskies, 4D movie, haggland ride. Sayangnya karena satu dan lain hal kami ga melakukan 2 kegiatan terakhir, but I suggest you to try it.

Foto terakhir itu Naisha berpose di depan haggland ride biru) dan penguin free shuttle bus (orange). Shuttle itulah yang mengantarkan kami ke kota. Saya minta ke supir agar kami diturunkan di Westfield Riccarton mall karena mau mampir makan dulu sebelum check in ke motel. Untunglah ini New Zealand dan saya juga sudah lama terpapar gaya hidup Kiwi, jadi santai aja muter2 mall bawa-bawa koper cabin haha.

Dari mall kita naik 1x bis aja ke motel, sekitar 10-15 menit. Kita menginap di daerah Addington, karena mencari lokasi yang dekat venue agenda utama kami esok hari. Apakah itu? Tunggu tulisan saya besok ya! See ya! 😊

Wassalaamu’alaikum wr. wb.

Rumi’s Playcentre Visit

Standard

Assalaamu’alaikum wr. wb.

Dalam sebulan terakhir, saya sudah 2x gagal setoran post mingguan di komunitas #1minggu1cerita. Padahal sebelumnya saya tidak pernah bolos sekalipun sejak bergabung di bulan Februari lalu. Oh well, that’s why ada kelonggaran untuk bolos hingga 5x ya. Yang namanya malas nulis cepat atau lambat pasti akan melanda. Belum lagi kalau saya lagi terlarut dengan Kdrama. Bubar, haha. 😅

Tapi untung lah minggu ini jadwalnya minggu tema. Somehow ada rasa kompetitif menyelip yang memotivasi untuk menulis di setiap minggu bertema. “Masa sih ga bisa nulis sesuai tema? Pasti bisa!”. 😁 So here I am, balik nulis lagi setelah hanya melahirkan 1 post dalam 3 minggu terakhir.

 

Sejak 2 minggu yang lalu, Rumi putra ke-2 saya yang berusia 21 bulan mulai ikut Playcentre. Apa itu Playcentre?

Playcentre is an early childhood education and parenting organisation which operates parent-led early childhood education centres throughout New Zealand and offers parents the opportunity to gain a Diploma in Early Childhood and Adult Education

Playcentre sejatinya adalah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) ala New Zealand. Saya bilang ala New Zealand karena sepertinya memang sistem PAUD ala Playcentre (sepengetahuan saya) hanya ada di NZ. Lantas apa yang membuat Playcentre berbeda dengan PAUD pada umumnya?

Playcentre adalah PAUD yang menganut sistem dari, untuk, dan bagi keluarga di wilayah centre/cabang Playcentre berada. Tidak seperti PAUD pada umumnya, di Playcentre tidak ada guru PAUD yang khusus didedikasikan untuk mengajar murid2. Tidak ada staf tata usaha, operasional dan semacamnya. Semua urusan terkait Playcentre, mulai dari urusan registrasi dan daftar ulang murid, perancangan kegiatan, pengawasan proses pembelajaran, hingga menjaga kerapihan dan kebersihan centre adalah semua tugas orangtua yang menjadi anggota Playcentre. Tentu masih banyak lagi role dan jobdesk yang ada, yang dikerjakan gotong royong bersama seluruh orangtua anggota, hingga akhirnya tugas selesai ketika keluarga tersebut memutuskan keluar/berhenti dari Playcentre. Tapi poinnya adalah, Playcentre is a family based and parent-led early childhood education centre, PAUD yang dioperasikan oleh orangtua.

Keunikan berikutnya adalah, walau dioperasikan oleh orangtua dan berbasis keluarga, Playcentre tetap didukung penuh oleh pemerintah. Bahkan peran pemerintah cukup vital dalam sistem Playcentre, salah satunya yaitu membiayai program Parenting Course yang merupakan hak semua orangtua (permanent resident) anggota Playcentre, gratis! Tidak main-main, Parenting course ini kalau diselesaikan seluruh jenjangnya oleh anggota (orangtua), maka yang bersangkutan berkesempatan mendapatkan gelar ‘Diploma in Early Childhood and Adult Education’. Jadi alih-alih menyediakan guru PAUD, langkah yang diambil pemerintah adalah mendidik para orangtua supaya bisa menjadi guru bagi anak-anaknya (yang notabene adalah masa depan bangsa) baik di lingkungan Playcentre juga tidak kalah penting di rumah masing-masing.

Hal berikutnya yang menarik dari Playcentre adalah, sistem ini sudah terbangun kokoh lebih dari 3/4 abad dan menjangkau seluruh New Zealand, dari kota hingga daerah rural. Sistem ini dibuat sehingga di manapun tempat tinggal Anda berada, pasti ada setidaknya satu centre terdekat yang bisa Anda datangi untuk bergabung di sana. Di Wellington sendiri ada 17 Playcentre dari total 441 centre seluruh New Zealand.

Dengan sistem ini, keluarga dengan anak usia dini di area yang sama akan saling bertemu dan menciptakan “village” nya masing-masing dengan nilai-nilai Playcentre yang dianut bersama. Pernah dengar kutipan “It takes a village to raise a child“? Sistem Playcentre mencerminkan kutipan tersebut secara utuh. Karena di Playcentre, berbekal parenting course dan kepercayaan sesama orangtua anggota Playcentre, bukan hanya Anda sebagai orangtua yang mengajak bermain, mengajar, juga mendisiplinkan anak Anda, namun orangtua lainnya juga berhak melakukan hal yang sama kepada setiap anak di Playcentre. Begitu juga sebaliknya, Anda bisa melakukan hal yang sama dengan setiap anak yang ikut Playcentre.

Wah udah panjang aja. Padahal tadinya mau nulis cuma sekilas. 😅 Sebetulnya saya sudah cukup banyak menulis tentang Playcentre di blog ini (bisa baca di sini) karena putri pertama saya, Naisha juga adalah lulusan Playcentre. Saya dan Naisha meninggalkan Karori Playcentre April 2016 lalu setelah 2,5tahun bergabung di sana. Lebih dari 2 tahun kemudian akhirnya saya kembali, bersama anak yang berbeda di centre yang berbeda juga namun tetap satu bendera, Playcentre. And it felt really good. They say, it always feels good to be back home. It sure was. 😊😊

Sebelum resmi bergabung di Playcentre, masing-masing keluarga diberikan kesempatan untuk mengikuti 3 kali free visit sebagai perkenalan dengan sistem dan anggota (orangtua dan anak-anak) Playcentre. Free visit ini buat saya cukup penting sebagai kesempatan melihat kecocokan saya dan Rumi dengan anggota-anggota yang hadir di hari itu.

Dalam 3 minggu terakhir saya ambil free visit 1x per minggu di hari Selasa, Rabu dan Jumat. Dari situ saya merasa orangtua di hari Selasa dan Rabu lebih ramah, lebih welcome dari hari Jumat. Jumlah anaknya juga lebih sedikit. Akhirnya saya memutuskan mulai minggu depan akan bergabung 2 hari per minggunya, di sesi Selasa dan Rabu.

Rumi ngapain aja di Playcentre visit? Di kunjungan pertama kami dianjurkan datang jam 9.45 pagi, walau sesi Playcentre sendiri berjalan dari pukul 9.15-11.45 dengan morning tea break pada pukul 10.30am. Metode yang dianut oleh PAUD di New Zealand, tidak hanya Playcentre namun juga kindergarten dan pre school adalah learning through freedom playing. Di mana anak-anak bebas menentukan kegiatan yang ingin dilakukan berdasarkan resource yang sudah disiapkan. So, as expected, ketika sesi dimulai centre sudah diset sedemikian rupa sehingga utamanya ada playdough area, art & craft area, outdoor obstacle course area, water play area, sandpit area, dan tidak ketinggalan berbagai mainan yang dengan mudah dapat dijangkau oleh anak-anak. Selain area yang telah siap sedia, ada juga berbagai kegiatan khusus yang dirancang oleh orang tua yang bertugas di hari itu.

First Visit, Wed July 25th

Beberapa kegiatan terrencana yang dilakukan di hari ini adalah membuat magic potion (corn starch+soap flakes+water), memasak scones (semacam kue), membersihkan jendela. Rumi hanya tertarik di bagian yang ada airnya aja. 😅 Dari kunjungan pertama langsung terlihat bahwa Rumi sangat menikmati kegiatan outdoor khususnya yang berkaitan dengan water play dan manjat-manjat. Rumi juga sangat senang dengan mainan kendaraan (bis, mobil dsb).

Second Visit, Fri Aug 3rd

Di hari ini Rumi kembali menghabiskan banyak waktu di area water play. Kali ini aktivitas water play nya adalah menjaring huruf dan angka. Selain itu juga ada kegiatan membuat pizza, membuat popcorn, mencari fosil dinosaurus di sandpit, mengecat pagar.

Di antara berbagai kegiatan terrencana tersebut Rumi hanya tertarik melihat popcorn yang meloncat-loncat keluar dari mesin. Sisanya kembali Rumi terlarut di water play dan obstacle course area. Rumi juga sempat bermain role play dengan boneka.

Third Visit, Tue Aug 7th

Sesi kali ini tidak terlalu banyak kegiatan terencana. Atau mungkin ada tapi terlewat karena kami hari ini terlambat datang. Rumi sendiri seperti visit-visit sebelumnya, selalu sibuk dengan water play dan outdoor area.

Namun begitu hal yang menarik bagi saya di visit ketiga ini adalah, anak-anak lainnya mulai menyadari keberadaan saya dan Rumi. Yang sebelumnya di visit kedua ada seorang anak yang mendorong Rumi, visit kali ini anak tersebut dengan senang hati taking turn bermain dengan Rumi.

Rumi sendiri masih perlu belajar banyak masalah sharing, taking turn, waiting dan banyak lagi. Ini juga salah satu alasan utama saya membawa Naisha, Rumi bergabung dengan Playcentre. Dengan berinteraksi dengan anak yang lain mereka belajar. Dengan melihat serta mendengar aturan dan nilai-nilai yang diterapkan oleh para orangtua mereka belajar. Dengan bermain mereka pun belajar. That’s the beauty of Playcentre. 😊

Sebagai penutup, di bawah ini saya lampirkan foto-foto yang memperlihatkan sebagian aturan yang berlaku di Playcentre, yakni Positive guidance and Phrases to use. Semoga bermanfaat! 😉

Wassalaamu’alaikum wr. wb.

Ps: Tulisan ini dibuat untuk #1minggu1cerita Minggu32 tema ‘Kesempatan’

Milestone

Standard

Assalaamu’alaikum wr. wb.

Today, I finally conquered the parallel parking. And this, my friend, is such a huge milestone for me so that it needs to have its own blog post for a celebration. So, well done, me! CONGRATULATION SYVAAA!!!! #fireworks #confetti

Te Aro, Wellington

July 28th 2018

Wassalaamu’alaikum wr. wb.

School Holiday Playdates

Standard

Assalaamu’alaikum wr. wb.

It’s day 6 of school holiday today. Or, day 8 if you count it from last Saturday, just a day after school term 2 finished. So, congratulation to me, surviving the first week of school holiday, yay! Only one more week to go! 😍😍

As a part celebration, I am now enjoying my apricot strudel cheesecake, alone, while typing this post which I’m pretty sure will not finish by the time I finish the cake, but who cares. Let’s jut put the pic of the cake first.

Fyi, school terms here in New Zealand divided in to 4 parts, with term 1 starts on end of Jan/early of Feb. In between each term (1-2, 2-3, 3-4) there will be 2weeks school holidays, with the longest school holidays started when term 4 finish, which sometimes is called the summer/christmast holiday. This big holiday can take up to 6weeks long, so in average students here gets about 12weeks holiday in a year. Lucky aye?

For the students mostly yes, but sometimes it could be a no for the parents. In the last days of the holiday weeks, typical parent with lack of patient like me will easily feel exhausted, tired, angry in the result of handling kids every second every day. Therefore this me time celebration is happening at the moment. 🍰🍰

To be honest, this is one of the smoothest school holiday week. The main reason was we had so many playdates this week. I usually take Naisha to a lot of places on holidays before which leads to me ended up with exhaustion. But this week she had the most playdates she has ever had in a week in her life.

In general, there are 3 types of playdates. First is when I take care of the children (with/without the parents), which could mean playdate happened in our house. Or I could also take them somewhere but without their parent. Second is the opposite, when the friend’s parent take care of Naisha, which could be either at their house or going out somewhere else. The last one is when playdate took place in public with both parents take care of their own children.

It sure needs some effort, doing these playdates especially when I was the only adult in charge in the playdates. But it’s not that hard if playdates happen in our house. I just let them play and be busy on their own to the point I sometimes even wonder if they are still there. And of course, my favourite playdates did happen too, when other parent took care of Naisha completely for hours, hooray!

We had all of those types in the past weeks with 6 playdates in total. Let me break it down to you below.

Day 1 – Monday

Liciya, one of Naisha’s best friend from her school who happen to live in the same road as us was dropped in to our house at 11am. They played together until Liciya was picked up by her mom at 4pm.

Day 2 – Tuesday

Dylan, also Naisha’s classmate, came with his 4 other siblings and their mother for a morning playdate started at about 9.15. They are our closest Indonesian neighbour who lives just 2 roads down from our house. They left just before 12pm.

At 1.30pm, our ex-neighbour dropped her 2 children, Rebecca 4y and Benedict 1y for the second playdate of the day. The Mom finally came back for pick up at 5, but they left at 6pm.

Day 3 – Wednesday

We went to Kilbirnie Recreation centre for Naisha to try roller skate the first time ever. There we met Rebecca and Benedict and their mom again, also Fifi and Una 1y, our Indonesian friends. The big kids enjoyed the skate and scooter session while the littles played happily at Tiny town, a preschool play area still located in the Kilbirnie Recreation centre. We left the centre at 11.30am.

At 1.30pm Naisha was picked up by Liciya’s mom. Naisha and Liciya had their second playdate of the week at Kilbirnie swimming pool, without me. Naisha later was dropped of at 5.30 back to our house.

Day 4 – Thursday

I picked up Rebecca at her house and Mr. Ghifary drove us (Naisha, Rebecca, Rumi and me) all to Te Papa Museum for another playdate. Our main destination was Mr. Lam Sam musical mayhem show at Te Papa, which was a blast for both kids. After that we strolled around some area in the museum and had lunch with hot chocolate at the cafe. We went back home by bus at 1pm, had another 45mins playdate at home before Rebecca was picked up by her father.

And that was it, 6 playdates in the first 4 days of holiday. Yesterday (Friday) was off without any playdates, and today, Saturday it’s the time this proud mom here rewards herself. Cheers for succeeding the past week and hopefully the upcoming week (another 5 playdates planned) too! 😎😎

Wassalaamu’alaikum wr. wb.

Whale, Fireworks and Wellington City Council

Standard

Assalaamu’alaikum wr. wb.

If you live in Wellington at this moment, you may have noticed that something big, literally, is happening in town. Everybody is talking about it, the most famous celebrity of the week. The coolest little capital city in the world is being visited by a Southern Right whale. This whale started to be seen yesterday morning (Thursday July 5th) on Wellington Harbor, and it seems the whale has decided to stay for a little while, since it’s been observed still playing around until today.

picture from tvnz

The visit brought joy to a lot of Wellingtonians, especially those who were able to witness the greatness of the whale in live action. I, for one actually drove pass the Oriental Bay (nearest bay from Wellington harbor) yesterday, and It was really suspicious seeing so many people stand along the coastal line looking through the ocean. I did suspect there was a whale or maybe dolphin, but I didn’t stop the car (a move that I later on regret). When I reached home and got online, of course the news about the whale is everywhere.

So, what’s the relation between whale, fireworks and Wellington city council?

The thing is, since last month New Zealand, including Wellington has been celebrating Matariki or the Maori New Year. And in Wellington, tomorrow Saturday July 7th, has been set as the big day celebration with fireworks sky show is set to be the main event of the celebration. The fireworks will took place at Wellington harbor, the area where the whale has been having sleepover since yesterday. Never have I actually thought before that fireworks would have any relation to a whale, until yesterday.

On the facebook page of the fireworks event yesterday, Wellington City Council (WCC) posted update below

“We appreciate that people are concerned about the timing of the Sky Show on Saturday while a southern right whale is visiting Wellington harbour. No decision has been made yet in terms of postponement but we are monitoring the situation along with Department of Conservation and will be taking advice from them. We will keep everyone updated via our social media channels (including this event) if anything changes. As per DOC advice we remind keen whale watchers to keep at least 50m away from the rare whale/tohora”

My first thought was,

“Oh, is he still gonna be there on Saturday?”; and the next one was,

“Even is he’s still there, will the fireworks really affect the whale?”.

Clearly I am not part of concerned people above. Please forgive me dear whale.

real pic of the southern whale on the right, taken yesterday

This afternoon (Friday July 6th), Wellington City Council has announced that they have decided to postpone the fireworks show to next Saturday July 14th after taking advice from Department of Conservation and mana whenua. Even though the noise from the fireworks is unlikely to cause harm to the whale, but that it could cause it to act unpredictably if it is in the vicinity, one of the council staff said. I must say, I am amazed with this decision.

I am amazed of how thoughtful WCC decision was. It was a very unselfish decision, a decision full of compassion towards nature. This, is one of many things I love about Wellington, and especially Wellington City Council. They always try to work and make policies in a way that benefit its people the most. And this time, they even put nature first before their own people in making the decision! Well played, WCC, beautifully well played. Just when I thought I couldn’t be more in love with you, you stroke back as the unreal ideal boyfriend, just like you always do.

And how did other Wellingtonians reacted to the decision? They all love it, and thought it as a right move by the council. If you read all the comments in any thread about whale that you can find, you can feel that all Whale-ingtonians are already in love with the whale. Delaying fireworks for another week is easy as for us. For the love of the whale, they let it to have a whale lot of time. How’s my pun?

All of these whale – thingy going on here has actually taught me, remind me of something. That as human, we sometimes didn’t put nature in our consideration in terms of making decision. But nature, just like us, are part of this earth too. They are as important as us. Just because we are the one who have the right to decide, it doesn’t means that we can act arbitrarily towards those non-human. So next time you are faced into problems related to nature, don’t forget to put them in to account too. Try to choose the best option not only for human but for the nature too, even if it means that the human needs to sacrifice. ‘Till the next post!

Wassalaamu’alaikum wr. wb.

This post is written for #1minggu1cerita.id week 27 theme: “Option”

5th Anniversary

Standard

Assalaamu’alaikum wr. wb.

Happy 5th Anniversary to me and New Zealand! ❤🇳🇿

Yes, our relationship started 5 years ago today. I still remember that day, July 1st 2013, the first time I stepped out of the Wellington Airport. It was winter cold, but sunny. Really really sunny. The sky was so clear and lovely. I never saw that kind of blue sky before. There was some breeze kissing my cheek softly but not too windy. I was really happy that day, the day I finally reunited with Mr. Ghifary after 5 months being separated. 😗😊

All praise to Allah, 5 years later and I am still here, in my second home. Alhamdulillaah. Back then never would I have imagined that this relationship would last so long. For which I feel so blessed. Aroha i koe Aotearoa. I love you New Zealand. I am so glad I know you. I feel honored to have you as a part of my life. 😍😍

The past 5 years you’ve taught me a lot of things. You have changed me to be a better person. You gave me so many opportunities. You showed me things that I have never knew existed before. You meant so much to me and family, shaped us for who we are today. And I am so grateful for that. Whakawhetai koe Aotearoa. Thank you so much, New Zealand.

Just like everything in this world, nothing belongs to me. One day this relationship will end too. When that day come, I promise you. I won’t cry because it’s over. I’ll smile (and cry too, of course I’ll cry) because it’s happened. For now, I will cherish every moment in our relationship, I will keep enjoying every second of it. The sun, the rain, the wind, the snow. Whatever it may come our way.

Aroha nui, much love from me. ❤❤

Wassalaamu’alaikum wr. wb.