December Challenge: One Post A Day

Standard

Assalaamu’alaikum wr. wb.

At the end of last month (November) I kinda challenged myself to write one post a day for the whole December. Inspired by some blog challenges happening around at the moment, I made my own end year challenge, to write 31 new posts before New Year comes, one post each day. So I started at Dec 1st, and today is day 7 of this December challenge. And let me tell you, I am SO GLAD it’s finally reached a week.

Truth to be told, after a few days, this challenge has become a pressure for me. Since Mr. Ghifary is away and the summer sunset is getting later (kids sleeping way past their bedtime), I always ended up starting to focus on writing a post at around 10pm. Well, 2 hours is actually enough for me to finish, since I usually already start a lil bit in the day. But still, it makes me anxious and keep checking the clock every single night.

Last night, I published yesterday’s post less than 10mins before midnight. And it was not even the perfect post, since I actually want to write more but I just dont have enough time. Not to mention I still revised some of its typos several times until around 12.30 am.

Morning will give me another anxiety. “What am I gonna write today?”. This one is not as bad as the “almost-midnight-I-need-to-post” anxiety though. It’s actually kinda positive, since it slightly makes me excited. But still, after a few days I dont think I’m gonna survive a whole month being anxious.

Fyi, I already have a list on what I should write every day before starting this challenge, but it doesn’t really work. They don’t always go along my mood on the particular day, so I keep thinking a new theme to write in the morning.

The other thing about this challenge that doesn’t really work for my daily life is I don’t really have time left to do things I usually do at night. I missed watching kdrama, and my house is such a mess and I should be tidying up after the kids asleep but I write blog post instead. Then midnight come. Then I slept. Or watch kdrama a bit until 2 am like last night (I just missed it so much!), then I slept. And woke up with headache. Ouch.

So in the middle of the week I decided, that’s it, I’m just gonna call this challenge a week. A week is pretty good, since I have never done this kind of thing before. So I’m still proud of what I have achieved so far.

If there’s one thing I learn about this challenge, is that it is do-able, it is possible. And I am able to do it. I have the capacity to write one good post each day and I feel good about it. It’s good to know that I can be this productive.

But in order to still be happy (aka less anxious), I am not going to force myself. If I want to, I might keep writing another post tomorrow though. Or not. Who knows. I’m just going to see what tomorrow brings. We’ll see. Happy writing everyone! Have a lovely weekend! 😊

Wassalaamu’alaikum wr. wb.

Advertisements

Life in Wellington the Series Part 20: Children Birthday Party

Standard

Assalaamu’alaikum wr. wb.

Seorang teman yang menetap di Belanda hari ini curhat di instastorynya. Katanya dia ingin menolak undangan ulang tahun dari teman sekolah anaknya tapi ga enak alias segan.

Pikiran pertama yang muncul di kepala saya, “Emang kenapa gitu kalau ditolak aja?”. Namun sepersekian detik kemudian tiba-tiba kepikiran lagi, “Aaah mungkin yang ngundang orang Indo kali ya”. Jadi ada perasaan ga enak gitu kalau ga dateng. Ga kaya orang New Zealand yang woles, santay kaya di pantai. Dateng oke, ga dateng yasudah takpapa ga masalah. Setelah saya tanya lagi ternyata bukan orang Indo sih yang ngundang, tapi bukan orang Belanda juga. Oh well, mudah-mudahan berakhir baik-baik saja.

Eniwei, saya jadi kepikiran tentang budaya ulang tahun anak-anak di sini. Ada beberapa hal yang cukup unik dan berbeda dengan budaya yang lazim terjadi di Indonesia.

Naisha Ulang tahun yang pertama

Disclaimer, saya dan keluarga masuk golongan yang merayakan ulang tahun, baik dari perayaan skala kecil hanya keluarga inti saja (ultah anak usia 1-3 tahun) hingga skala lebih besar yakni mengundang teman (ultah anak 4-6 tahun). Naisha sendiri tidak hanya mengundang namun juga sering diundang oleh teman kindy, teman sekolah maupun teman Indonesianya. Jadi cukup berpengalaman lah kita dalam hal perayaan ulang tahun ala kiwi. Lantas apa yang berbeda?

Undangan terbatas

Seringkali kita lihat di Indonesia, pesta anak level menengah aja undangannya bisa mencapai 20-30an anak ya. Mulai dari teman sekolah, keluarga besar, tetangga dan lain-lain. Apalagi kalau level anak artis atau selebgram, pasti undangannya lebih banyak lagi.

Sementara di sini, pesta ulang tahun anak umumnya tidak berlangsung dalam skala besar. Sepertinya rata-rata jumlah anak yang hadir sekitar 10 orang saja. Bahkan tidak jarang jumlahnya di bawah itu. Umumnya paket ulang tahun di venue komersil seperti indoor playground mematok jumlah minimal 8 anak (termasuk yang ultah). Karena memang biasanya hanya sekitar segitu saja jumlah undangannya, nggak banyak.

Kok sedikit ya? Padahal teman sekelas di sekolah kan ada 20an. Ternyata karena memang orang-orang di sini memaklumi jika si pengundang hanya mengundang beberapa orang tertentu saja.

Pada ulang tahun Naisha yang ke 6, saya hanya mengundang teman sekelas Naisha yang perempuan, tidak seluruh kelas. Begitu juga sebaliknya, saya tahu ada beberapa teman kindy dan sekolah Naisha yang merayakan ulang tahun, tetapi Naisha tidak termasuk teman yang diundang.

Ulang tahun Naisha ke-6

Jujur pertama kali sih sempat kepikiran dalam hati, “Kok Naisha ga diundang ya. Kenapa?”. Tapi lama-lama pas udah ngerti ya akhirnya biasa aja, karena memang seperti itulah budayanya. Tidak diundang bukan lantas karena musuhan. Bisa banyak alasan, mungkin memang dana dan tempatnya terbatas, preferensi gender ataupun keakraban dari si anak yang ultah dan lain sebagainya. Yang jelas sih, there’s no need to explain why you are not invited. Ga diundang yaudah gapapa, nothing wrong with that. Ga usah baper, hehe.

RSVP

Dalam setiap undangan baik itu berbentuk kertas maupun digital, pasti selalu disertai dengan pernyataan “Please RSVP”. Kalau di Indonesia sih ga perlu ya, tapi di sini penting sekali. Di antaranya untuk persiapan tempat, jumlah makanan dan goodie bag, serta biaya lainnya seperti biaya masuk kolam renang atau playground. Umumnya pada saat RSVP juga diminta keterangan dietary si anak yang diundang. Hal ini demi mencegah reaksi alergi ataupun hal yang bertentangan dengan agama dan keyakinan sang anak dan keluarga.

Menyambung kembali ke cerita teman saya di atas tadi. Seperti halnya budaya sini yang ga baperan kalau ga diundang, maka hal tersebut berlaku juga untuk mereka yang tidak bisa datang. Si pengundang ga akan baperan kalau yang diundang ga bisa datang. Tinggal bilang aja “maaf ga bisa datang”, udah deh selesai urusan. No need to explain the reason either.

Yang terpenting dan tergolong wajib adalah menjawab undangan, apakah bisa hadir atau tidak bisa hadir. Kalau bisa ya syukur alhamduliillaah, kalau ga bisa yaudah. Kalau ga kasih kabar lalu tiba-tiba datang, nah ini yang bisa jadi masalah. Kan repot kalau si pengundang cuma bayar venue sejumlah orang yang RSVP tapi tiba-tiba ada yang datang walau tidak RSVP. So, RSVP is a must.

Buka Kado

Saya masih ingat sekali, waktu saya SD pernah “dimarahi” mama saya karena saya buka kado dari teman mama, padahal orangnya belum pulang. Di Indonesia sepertinya memang hal tersebut tergolong kurang sopan ya. Kegiatan buka kado lazimnya dilakukan setelah acara selesai dan seluruh undangan pulang ke rumah. Berbeda 180 derajat dengan budaya di sini.

Di sini, salah satu kegiatan paling ditunggu-tunggu pada pesta ulang tahun selain potong kue adalah membuka kado bersama-sama dengan teman-teman. Tidak jarang mereka yang bawa kado akan berlomba-lomba meminta supaya kadonya dibuka duluan. Dan selama ini saya perhatikan si anak ultah akan selalu berreaksi gembira, apapun isi kadonya.

Naisha buka kado di ulang tahun ke-4

Satu nilai yang menarik terkait pemberian kado di sini adalah, yang utama bukan nilai atau barangnya, tapi perhatiannya. Pasca pesta ultah, biasanya orang tua si anak ultah akan mengirim text/email ucapan terima kasih kepada orang tua si pemberi kado, sambil menyebut barang pemberian yang diterima. Berikut contoh beberapa thank you notes yang pernah saya dapatkan.

“Thank you so much for the playdoh, Rebecca loves it. She’s been playing with it until now.”

“Thank you for the pyjamas, it’s just what I need and I wanted to buy for Liciya.”

Naisha buka kado di ulang tahun ke-5

Jadi, apapun isi kadonya, berapapun harganya tidak masalah. It’s the thought that counts.

Gold Coin Donation

Dari beberapa undangan ulang tahun yang diterima Naisha, ada tiga yang unik dan berbeda yang belum pernah saya temui di Indonesia. Pada ke-tiga pesta, semua pengundang menganjurkan untuk undangan memberikan gold coin ($1-$2) sebagai ganti membawa kado.

FYI, gold coin ini kalau dirupiahkan sekitar Rp10,000-20,000, tapi terbilang nominal kecil kalau di sini. Di sini $2 hanya cukup untuk beli 1 buah donat.

Dua tujuan utama gold coin donation ini menurut para pengundang adalah, satu, supaya yang diundang tidak perlu bingung memilih dan membawa kado. Kedua, penggunaan hasil gold coin donation bisa disalurkan ke 2 opsi bermanfaat. Uang yang terkumpul bisa dibelikan mainan pilihan sang anak yang diatas namakan dari “teman-teman”, atau juga menjadi tambahan tabungan si anak ultah yang sedang mengincar satu barang.

Cukup unik ya, budaya ulang tahun di New Zealand. Seperti kata peribahasa, lain padang lain belalang. Adakah yang juga punya pengalaman unik terkait ulang tahun anak-anak? Share di komen ya! Til the next post, see ya! 😊

baca juga: Life in Wellington the Series Part 19: Rain in Wellington

Wassalaamu’alaikum wr. wb.

Rumi’s Playcentre Diary: The Train Saga

Standard

Assalaamu’alaikum wr. wb.

Udah sekian minggu berlalu dari tulisan Rumi’s Playcentre Diary terakhir. Ternyata sulit buat konsisten nulis seri ini. Bahan sih ada, foto-foto banyak. Tapi karena ada beberapa seri diary ini udah terlanjur numpuk di draft sementara playcentrenya jalan terus (makin banyak yang perlu ditulis), ujung-ujungnya malah ga nafsu mau nulis sama sekali..😅😅

Tapi akhirnya nulis juga nih, walau ga sesuai template seperti tulisan-tulisan sebelumnya. Gapapalah ya, yang penting nulis dulu mumpung semangat. Karena ada satu hal menarik terkait Rumi di Playcentre yang sayang kalau tidak didokumentasikan: Rumi and his relationship with the train set toy.

Minggu ini adalah minggu ke-8 term 4 2018. Setelah hampir 2 bulan berlalu, satu hal yang menjadi highlight Rumi di Playcentre pada term ini adalah how he loves the wooden train set so much.

Dari term sebelumnya pun memang sudah terlihat 2 hal yang menjadi minat utama Rumi: physical activity dan vehicles. Namun begitu, di term ini kesukaannya akan kendaraan semakin mengerucut. Bagi Rumi, tiada sesi Playcentre tanpa bermain khusyuk dengan train set.

Sebetulnya sih tiada sesi Playcentre tanpa bermain slide, playdough dan lain lainnya juga sih. Tapi khusus si train set ini banyak sekali hal menarik yang dapat diamati karena sekali main minimal Rumi menghabiskan waktu 30 menit bahkan bisa 1 jam non stop.

Ohya rel dari train set ini materialnya kayu, bisa disambung-sambung dan dibentuk sesuai keinginan. Ada juga bagian yang berbentuk jembatan, terowongan dan lain sebagainya. Keretanya sendiri juga dari material kayu di bagian badan dengan plastik dan besi di rodanya. Pada kedua ujung kereta terdapat magnet yang berfungsi sebagai konektor antar kereta.

Di awal perkenalannya dengan train set ini, Rumi nggak langsung paham cara mainnya. Dicontohin jalanin kereta di relnya yang ada malah dia lepas-lepasin sambungan antar rel.

Karena tiap minggu pasti ada aja yang main train set, pelan-pelan Rumi mulai ngeh dengan cara mainnya dan makin tertarik untuk main. Rumi pun mulai nimbrung bareng temannya yang main train set.

Sayangnya setelah beberapa minggu, sepertinya dia mulai merasa si train set ini milik dia. Masuk lah ke fase ga mau sharing (berbagi) yang berujung tantrum. Tantrum juga sering terjadi karena dia frustasi ketika rangkaian kereta lepas atau tidak mau menyambung (kutub magnet sama, saling menolak).

Kurang lebih sekitar 3-4 minggu lah masa-masa tantrum setiap main train set. Setiap teriak karena frustasi, saya ulang-ulaaang terus, “If it’s not working, try the other side”. Kemudian saya contohkan sambil berkata, “See, it’s working now”.

Sementara kalau mengatasi tantrum karena ga mau sharing agak lebih tricky. Biasanya kalau udah mulai abusive (dorong atau pukul) saya pindahin Ruminya berjauhan dari temannya walau masih bermain di track yang sama. Kadang saya buat train set baru supaya masing-masing punya sendiri. Tak lupa terus ulang mantra, “Rumi, sharing. We play together. We share the toys”.

Kemarin (Selasa 4 Dec) dan hari ini (Rabu 5 Dec) di Playcentre, seminggu sebelum term 4 berakhir, senang sekali akhirnya saya bisa melihat beberapa perkembangan positif dari Rumi saat bermain dengan train setnya.

Pertama, alhamdulillaah sekali, kemarin dan hari ini Rumi mau bermain train set bareng dengan temannya yang lain tanpa drama. (Yayyy) Kedua, Rumi sudah bisa membetulkan sendiri rangkaian kereta yang salah/terbalik kutub magnetnya. Lucunya, setiap dia berhasil membetulkan rangkaian keretanya, dia akan berkata, “See???”. Persis ngikutin saya. 😅 Ketiga, kalau duluu sekali dia destruktif terhadap rangkaian rel, sekarang dia sudah bisa membentuk rangkaian sendiri. Mencoba-coba memasangkan bagian-bagian rel dan membetulkan sambungan rel yang terlepas. Great job, Rumi! What an amazing improvement you have achieved! Super proud of you! 😘

Melihat perkembangan Rumi di Playcentre dari minggu ke minggu, saya bersyukur bisa membawa Rumi ke Playcentre secara rutin. Seperti yang pernah saya tulis di sini, salah satu alasan saya membawa anak-anak ke PAUD sejak kecil adalah, karena umumnya di PAUD ada mainan-mainan yang tidak tersedia di rumah. Contohnya ya train set ini. Ternyata dari mainan ini Rumi bias mendapat stimulus motorik, emosi dan juga thinking. Sayangnya harga train set ini tidak bisa dibilang murah ya, jadi sementara sih belum ada rencana untuk beli. Mari kita nikmati saja di Playcentre.

Adakah di antara pembaca yang anaknya punya wooden train set seperti ini di rumahnya? Kalau ada, beruntung sekali. Enjoy it! Selamat bermain!

 

Wassalaamu’alaikum wr. wb.

Life in Wellington the Series Part 19: Rain in Wellington

Standard

Assalaamu’alaikum wr. wb.

Komunitas blog #1minggu1cerita pada minggu ke-49 kali ini mengusung tema hujan. Mumpung udah lama ga nulis Life in Wellington the Series, marilah kita bermain cocoklogi alias nyambung-nyambungin tema dan tulisan. LOL. Let’s talk about rain in Wellington then.

Sumber foto: stuff.co.nz

Hujan di Welly kaya apa sih? Ya sama aja kaya di tempat lain, turun air dari langit 😁😁. Tapi minimal 2x setahun ada hujan es sih, alias hailing. Hailing ini ukurannya beragam, mulai dari sekecil manik-manik atau kacang polong hingga sebesar kelereng.

Pernah suatu saat saya lagi nyetir jemput Mr.Ghifary di kantornya eh tiba-tiba hailing. Seru banget! Kaya ditimpukin batu gitu mobilnya, nyetir pun jadi pelan karena roda mobil menggelindas batu es.

Karena suhu udara pas terjadi hailing biasanya cukup dingin, si esnya ga bakal langsung mencair. Jadi kalau ke luar rumah pasca hailing, sekilas mirip salju. Putih di mana-mana. Lumayan lah, ga ada salju, hailing pun jadi, hehehe..

Kembali ke hujan. Jadi hujan di Wellington kan sama-sama aja nih. Lantas apa yang kemudian berbeda?

1. Payung is a Big No

Wellington populer dengan sebutan windy city, windy Wellington. Kalau lagi amat sangat berangin, yang mana termasuk hal biasa di sini, kecepatannya bisa di atas 100km/jam bahkan bisa mencapai 140 km/jam. Hampir tiada hari tanpa angin, termasuk saat hujan. That’s why, using an umbrella in here is a big no no.

Coba aja main ke sini pas hujan, hampir pasti ga akan ketemu orang berpayung. Kalau pun ada 1-2 yang payungan, biasanya saya atau Mr. Ghifary langsung nyeletuk, “pasti turis tuh!”. Karena saking kencang anginnya, payung ga bakal bertahan lama di sini. Pasti langsung terbalik atau rusak. Alias gak guna. Jadi kalau di Wellington terpaksa kita harus ganti peribahasa,

“Sedia jaket tebal tahan air selutut sebelum hujan”.

Belakangan ini sih muncul inovasi payung teknologi terbaru, yang katanya tahan angin bahkan badai Wellington sekalipun. Namanya payung Blunt. But no, thanks. Kemahalan buat saya mah. Dengan harga yang sama udah bisa beli jaket winter yang oke. Sayang kalau ‘cuma’ dibeliin payung.

Buat yang akan datang ke Wellington jangan lupa ya, ga usah bawa payung! 😉

2. Forecast is a Big Yes

Semenjak menetap di Wellington, salah satu rutinitas harian tambahan saya adalah mengecek prakiraan cuaca. Penting banget loh ini buat kelangsungan hidup sehari-hari. Karena tidak jarang cuaca Wellington berubah berkali-kali dalam satu harinya. Wajib (bagi saya) untuk tahu kondisi cuaca esok hari, bahkan per jam nya, supaya bisa mengatur kegiatan dan pakaian sesuai cuacanya yang akan terjadi.

Iluatrasinya kira-kira begini.

Senin besok pagi cerah sampai jam 2 siang. Oke pagi bisa jalan kaki belanja. Aman, bisa jemur baju dengan catatan harus diangkat sebelum jam 2. Mr. Ghifary bisa pulang pergi ke rumah jalan kaki pas makan siang, ga perlu bawa jaket/jas hujan.

Lanjut jam 2 siang hujan dengan skala 0.3 (gerimis) sampai jam 4 sore. Berarti jemput Naisha dari kindy jalan kaki harus pakai stroller jangan lupa bawa rain cover.

Jam 4 sore sampai malam hujan deras skala 1.6 (deras). Oke berarti Mr. Ghifary bawa mobil aja jangan pulang kantor jalan kaki. Besoknya lagi seharian hujan skala di atas 4 (curah hujan amat tinggi). Fix ga usah jalan ke mana-mana.

Lusa sampai weekend hujan terus. Berarti mulai lusa ga usah cuci baju sampai minggu, supaya bisa sekalian banyak cucian basahnya yang bisa dibawa ke laundromat buat dikeringin. The end. Begitulah kira-kira pemanfaatan info prakiraan cuaca di Wellington.

Metservice.com

Untungnya, situs prakiraan cuacaasli buatan New Zealand yang menjadi referensi saya selama ini akurasinya cukup tinggi, sepertinya di atas 90%. Jadi insya Allah sangat bisa diandalkan alhamdulillaah.

3. Hindari Musim Semi dan Bulan April

Seperti yang diketahui, New Zealand adalah negara 4 musim. Apapun musim yang sedang berlangsung, hujan bisa terjadi. Namun begitu ada bulan dan musim tertentu yang cenderung tinggi frekuensi hujannya.

Satu, saat spring atau musim semi. Katanya di musim ini tanaman lagi butuh banyak air untuk tumbuh dan bersemi pasca musim dingin. Itulah alasan mengapa curah hujan terbilang tinggi di musim ini. Musim semi di New Zealand swndiri berlangsung pada bulan September-November.

Menurut catatan pengalaman pribadi, selain bulan di musim semi ada satu bulan yang sering mengalami hujan deras bahkan badai yang cukup intens. Bulan itu adalah April (musim gugur). Ga valid sih pernyataannya karena ga ada statistik pastinya. Namun begitu, berdasarkan pengamatan sejak tahun 2013-2018, hanya pada tahun 2017 saja bulan April bersih dari hujan badai. Sisanya pasti ada walaupun tentu tidak sebulan penuh ya, hanya beberapa hari. Buat yang berencana jalan-jalan di bulan-bulan ini, jangan kaget ya kalau tiba-tiba banyak turun hujan.. 😃

Sebaliknya, bulan Januari-Februari (musim panas) termasuk bulan-bulan dengan frekuensi hujan terendah. Ketika curah hujan amat sangat rendah, tidak menutup kemungkinan ada water usage warning, water restriction (2017) bahkan water sprinkler ban (2016) yang dikeluarkan oleh pihak Wellington City Council (WCC) demi menjaga kelangsungan pasokan air. Sepertinya berbagai usaha WCC cukup berhasil karena faktanya selama saya tinggal di sini tidak pernah terjadi kasus kekeringan, alhamdulillaah.

4. Life Must Go On

Sering lihat di Jakarta banyak motor berteduh di bawah jembatan penyebrangan saat hujan? Di sini ga akan ada pemandangan itu. Kenapa? Karena di sini ga ada jembatan penyebrangan LOL 😂. Plus ga banyak pengendara motor juga.

On a serious note, hujan di sini tidak lantas menghentikan kegiatan. Yang road work pun masih bisa lanjut, apa lagi yang lari malam. Masih aja loh banyak yang lanjuut lari hujan-hujanan. Ga paham lagi sayah. Ckckck.

Suatu hari di suatu parent meeting ada pertanyaan ice breaker, “What do you do to cope in this bad weather?”. Yang mana saya jawab dengan, nyalain heater, electric blanket selimutan pake duvet. Eeehh nggak taunya ada 3 orang lain yang jawab: workout, exercise bahkan lari malam hujan-hujanan. #eeaaaa seketika saya merasa cupu sekali. 🤣🤣 #anaktropis

Covered outdoor area at Naisha’s kindy

Yang pasti sih di tiap-tiap preschool/kindergarten/playcentre, umumnya ada covered outdoor area. Jadi mau hujan badai pun anak-anak masih bisa bahkan diagendakan untuk tetap bermain di luar ruangan. Sebagian kindy malah ada yang bisa tetap bermain pasir lho!

Hujan bukanlah halangan untuk siapapun tetap beraktifitas, tua maupun muda. Kecuali saya. Saya mau selimutan di rumah aja hahahaha… 😂

Hmm apalagi ya yang menarik tentang hujan di sini yaa.. Satu yang saya suka sih, walau terbilang banyak hujan dan tanpa ada got terbuka (adanya saluran air di bawah jalanan), tidak terlihat genangan di jalan-jalan raya kota Wellington. Semua jalanan muluss tanpa lobang-lobang jebakan batman.

Saya sih kurang paham sistem drainase di Wellington seperti apa. Yang pasti terlihat sih, maintenance aspal jalan dilakukan secara rutin walau jalan belum berlubang sekalipun. Mudah-mudahan di Indonesia juga sudah sama ya kondisinya. Aamiin YRA.

Yak demikianlah cerita hujan dari kota angin. Salam (baru selesai) hujan dari Wellington, til the next post, see ya!

baca juga: Life in Wellington the Series Part 18: Wellington Saturday Market

Wassalaamu’alaikum wr. wb.

Naisha’s School Story: Trip to Kindy

Standard

Assalaamu’alaikum wr. wb.

Dipikir-pikir belakangan ini social media saya banyak yang redundant. Post di instagram, kemudian share di facebook (sebagian di-private), lanjut tulis di blog. Takpapalah, let’s call it “collecting memories”. Keren ya, padahal bilang aja kecanduan nyosmed, LOL.

Kali ini mau cerita kegiatan di sekolahnya Naisha lagi. Iyes, yang barusan saya upload di ig, hahaha. Tentang trip Naisha dan teman-temannya mengunjungi adik-adik MC kindergarten (kindy).

Satu hal yang menarik terkait pendidikan anak di sini adalah, umumnya lokasi SD negeri lokal di suatu suburb berdekatan dengan TK lokal suburb tersebut. Untuk kasus Naisha, malah posisinya persis bersebrangan. Jadi ya umumnya yang masuk MC kindy akan lanjut bersekolah di MC school walau antara kindy dan school tidak berhubungan seperti halnya TK dan SD di Indonesia yang banyak bernaung di bawah satu yayasan.

Walau tidak berhubungan secara resmi, di antara kindy dan school yang berdekatan pasti menjalin hubungan baik. Guru dan murid kindy tidak jarang bermain ke school dan sebaliknya, seperti yang terjadi di short school trip Naisha dan teman-temannya kali ini, mereka yang berkesempatan untuk mengunjungi adik-adik kindy.

Di kunjungan kali ini, Naisha dan teman-temannya datang dengan agenda utama membacakan cerita dari buku buatan mereka masing-masing kepada adik-adik kindy.

Sekitar sebulan terakhir, pelan tapi pasti proyek utama murid di kelas Naisha adalah membuat buku cerita. Buku ini disusun dari lembaran-lembaran kertas berisi gambar dan tulisan cerita hasil karangan tiap-tiap murid. Setiap murid membuat satu buah buku. Dan proyek pembuatan buku ini pun ditutup dengan kunjungan ke kindy pada hari ini.

Karena lokasinya yang dekat, saya dan rombongan berjalan kaki bersama menuju kindy. Selain saya dan para murid, juga terdapat 2 orang school helper dan 2 guru di dal rombongan. Kebetulan saya satu-satunya orang tua dari murid kelas Naisha yang ikut menemani. Karena memang tidak wajib sih, sayanya aja yang pengen lihat langsung dan diperbolehkan oleh wali kelasnya Naisha.

Sebetulnya tidak semua school trip saya ikut hadir menemani. Kebetulan tujuannya ke kindy lamanya Naisha, di mana saya kenal guru-gurunya dan sempat berpartisipasi juga saat Naisha kindy di sana, jadi ya itung-itung silaturahmi. Plus, kok ya kayanya bakal seru aja gitu, ngeliat anak sendiri yang dulunya kindy di sana sekarang datang mengunjungi sebagai anak SD dan menjadi story teller.

Dan benar dugaan saya. Nano-nano rasanya. Campur aduk. Antara geli tapi bangga. Anak kecil cerita ke anak kecil lainnya. Lol. Mana badannya Naisha sekilas terlihat lebih kecil dari murid kindy yang dia bacakan cerita, lucu deh jadinya. 😅

Ohya, Naisha dan teman sekelasnya yang berkunjung berjumlah sekitar 20 orang. Sementara murid kindy hampir 40 orang. Jadi masing-masing anak SD kebagian bercerita ke 1-2 orang anak kindy. Sebelum story telling dimulai, Naisha dan teman-temannya juga sempat menyanyikan 2 lagu sebagai persembahan kepada adik-adik kindy.

Sayangnya saya tidak sempat memfoto isi buku buatan Naisha. Tapi kurang lebih ceritanya terinspirasi dari kartun Nickelodeon, Nella the Princess Knight.

Seperti halnya kegiatan dan proyek lainnya di sekolah Naisha, satu goal utama yang saya perhatikan selalu melekat dan akhirnya terwujud adalah bahwa tiap-tiap proyek dirancang sedemikian rupa sehingga murid menjadi kreatif dan independen, serta percaya diri dan bangga atas hasil kreasi yang mereka ciptakan.

So far sih berdampak positif ya bagi Naisha. Naisha jauuuh lebih pede dari saya saat seumurannya di jaman SD dahulu. Alhamdulillaah yaa.. We are so proud of you Naisha, always! Keep up your good work, love! 😘😚

Wassalaamu’alaikum wr. wb.

See You Soon

Standard

Assalaamu’alaikum wr. wb.

The number one thing that I hate the most, about living far away from Indonesia is, that I need to clean the store bought whole fish on my own. From the fish scale to its intestine. I totally hate cleaning it. I kept thinking about “tukang sayur” or “bi dedeh” whenever I do that. But they are nowhere to be found here, hiks..

The second thing that I dislike the most is, to have all family far away. Especially when Mr. Ghifary have to go overseas for a long time, just like this evening.

Since 2013, one of Mr. Ghifary’s annual routine is to attend international conferences. From ECCV in Netherland to Siggraph in USA, either as a presenter (during PhD study) or a visitor (sent by his office). These conferences usually last for a week or more. If we add the flight time, Mr. Ghifary usually leaves us abroad for around 9 days on each conference.

Every time Mr. Ghifary went abroad for his conferences, I always feel bittersweet. Of course I am, and will always be proud of his achievement (accepted paper and present it in top conferences etc), and I will support him no matter what. Not to mention going to conferences always makes him a better person too. He always come back as a more energetic, motivated, inspired person, which I love. But it also makes me feel sad, staying here just with the children without family around.

The last time he left me alone with Naisha for more than a week was back in 2015. Luckily in 2016 when he flew to Amsterdam, I got my mom stay with me (still pregnant with Rumi) and Naisha here in Wellington. And last year in 2017, I was having holiday back in Indonesia when he went to California. But tonight, he’ll leave me alone for 9 days again, this time with 2 children, which is the first time ever. Hiks 😭😢

See you soon, Mr. Ghifary. Hope you have a great time in the conference. And in your 14th country visit. Take care. Stay warm. Safe flight. We miss you already. Love from us, XOXO.

Wassalaamu’alaikum wr. wb.

Naisha’s School Story: Entrepreneur Day

Standard

Assalaamu’alaikum wr. wb.

Hari Kamis 29 Nov 2018 lalu, sekolah Naisha mengadakan acara “Entrepreneur Day”, atau yang lebih dikenal di kalangan murid dengan nama “market day”. Acara ini adalah event besar di term 4, di mana semua murid di sekolah Naisha bisa memperdagangkan barang-barang buatan mereka kepada publik, yakni teman, keluarga dan seluruh komunitas sekolah.

Selama beberapa minggu terakhir, fokus utama di tiap-tiap kelas di sekolah Naisha adalah membuat barang-barang untuk dijual di market day. Barangnya sangat beragam, umumnya berupa kerajinan tangan, mainan serta makanan dan minuman. Mulai dari gelang, kalung, slime, bookmarks, snowglobe, dekorasi natal, hingga kue-kue dan tanaman. Harga yang dipatok terbilang murah, yakni mulai 50cent hingga $3 saja.

Pembuatan berbagai kerajinan ini utamanya dibantu dan diarahkan oleh para guru dan wali kelas, namun begitu sekolah memberikan kesempatan bagi orangtua murid yang memiliki keahlian untuk mengajari anak-anak membuat sesuatu. Contohnya salah satu orang tua murid di kelas Naisha datang ke sekolah khusus untuk mengajari Naisha dan teman-temannya membuat lemonade untuk dijual di market day.

Saya sendiri? Bingung mau ngajarin anak-anak buat apa yang gampang. Sempat kepikir buat gantungan kunci sih, tapi akhirnya saya punya ide untuk membawa manik-manik Naisha di rumah untuk dironce oleh Naisha dan teman-temannya menjadi kalung dan gelang. Kelebihan pembuatan kalung ini adalah saya ga perlu ngajarin di kelas, karena semua sudah tau caranya hehe.. Tinggal bawa aja kasih ke wali kelasnya.

Manfaat lainnya, Naisha jadi ikut berbagi manik-manik koleksinya. Awalnya dia bilang hanya boleh digunakan oleh teman perempuannya, yang mana tentu saya koreksi bahwa semua bisa menggunakan bersama-sama, laki-laki maupun perempuan. Dan Naisha pun akhirnya setuju berbagi dengan semuanya, hingga di hari pembuatan kalung itu Naisha dinobatkan menjadi Star of the Day oleh wali kelasnya.

Senang sekali saya, ketika akhirnya melihat berbagai kalung hasil buatan Naisha dan teman-temannya (hasil karya seluruh murid perempuan dan satu murid laki-laki) terpajang di market day. 😊

Pada market day ini saya membelikan Naisha kalung, pinata, dan lemonade buatannya, serta slime dan bookmark buatan murid kelas lain.

Seru sekali melihat segala emosi, reaksi dan interaksi yang terjadi pada market day. Terlihat sekali kebanggaan murid-murid atas karya yang mereka buat dan jual. Orang tua pun tentunya tidak kalah bangga. Juga ketika melihat transaksi yang dilakukan oleh para penjual cilik yang bertugas (Naisha tidak ikut), yakni menghitung jumlah belanjaan pembeli, uang kembalian. Senang sekali bisa menyaksikan semangat dan kepercayaan diri mereka.

Saya lihat banyak sekali manfaat dari event market day ini. Mulai dari pembelajaran mengenai uang, transaksi, gambaran berbisnis, hingga membangun rasa bangga dan percaya diri dari fakta bahwa setiap orang, bahkan mulai dari usia 5tahun (year 0) pun, bisa menciptakan hal yang bermanfaat dan bernilai jual.

Sampai jumpa di Naisha’s School Story berikutnya!

Wassalaamu’alaikum wr. wb.