Sedang Mencari Mesin Cuci? Berikut 5 Hal yang Penting Dipahami Sebelum Membeli

Standard

Assalaamu’alaikum wr. wb.

Rabu kemarin tepat 2 minggu sudah, keluarga Ghifary pindah ke rumah (kontrakan) terbaru, rumah ke-8 kami sejak awal menikah di tahun 2011. Saat ini kami menetap di Bandung tepatnya di daerah perluasan Arcamanik. Walaupun kami kontrak dalam kondisi full furnished lengkap dengan sofa, kasur, kulkas meja dsb, ada satu perabotan yang sayangnya tidak tersedia di rumah baru kami ini, yaitu mesin cuci. Setelah 3 hari awal bertahan tanpa mesin cuci di rumah ini, akhirnya saya memutuskan sudah waktunya membeli mesin cuci. The biggest question is, “Beli mesin cuci apa ya?”.

Merk

Secara kebetulan, di sebuah whatsapp group ibu-ibu yang saya ikuti sedang membahas tentang mesin cuci. Dari situ saya mendapat banyak informasi, di antaranya tentang merk-merk mesin cuci yang memiliki kredibilitas baik. Kesimpulan yang bisa saya ambil, tiga merk mesin cuci terbaik adalah Electrolux, LG dan Samsung. Tapi perlu dicatat, ketiga merk ini tentu lebih mahal dibandingkan merk-merk lainnya dengan spesifikasi yang sama. Ada harga ada barang tentunya.

Saya tidak mengatakan merk lain kualitasnya kurang bagus ya, namun berdasarkan pengalaman banyak orang, tiga merk itu terdepan dalam hal kinerja, keawetan (lama penggunaan), dan after sales service. Sebagai contoh, mesin cuci merk Sharp juga terkenal awet, namun begitu putaran mesinnya tidak terlalu kencang, yang mana sebetulnya menjadi faktor di balik keawetan mesin cuci Sharp. Sayangnya bagi sebagian orang (termasuk saya) putaran yang pelan terasa kurang greget.
Jenis

Setelah menentukan merk, langkah berikutnya adalah menentukan jenis mesin cuci, apakah mau 1 atau 2 tabung, bukaan depan (front load) atau bukaan atas (top load). Saya pribadi sejak awal sudah menetapkan pilihan, yakni mesin cuci 1 tabung top loading.

Kenapa? Karena mesin cuci pertama yang saya beli di awal menikah adalah tipe 2 tabung, sisanya (6 mesin cuci lainnya) adalah tipe 1 tabung yang saya rasa jauh lebih praktis tidak perlu dua kali kerja. Di antara 6 mesin cuci 1 tabung yang pernah saya gunakan, 1 di antaranya adalah bukaan depan, yang menurut saya pribadi tidak terdapat perbedaan signifikan hasil pencuciannya dengan mesin cuci bukaan atas, walaupun memang si bukaan depan terkenal lebih irit air. Sementara itu, perbedaan harga di antara keduanya cukup signifikan, dengan mesin cuci bukaan depan memiliki harga lebih mahal daripada mesin cuci bukaan atas.

Hal lain yang menjadi pertimbangan adalah, mesin cuci bukaan depan mengandalkan aliran air yang stabil. Posisinya yang miring membuatnya tidak bisa diisi air secara manual oleh pengguna, tidak seperti mesin cuci bukaan atas yang bisa kita isi sendiri dari air bak misalnya, ketika aliran air sedang mati.
Ukuran

Oke, merk sudah ada diincar, jenis juga sudah ditetapkan. Berikutnya adalah ukuran. Poin ini termasuk yang paling lama saya pertimbangkan sebelum akhirnya memutuskan.

Jadi sebelum pindah ke rumah yang sekarang, kami sempat menyewa rumah seorang teman selama 1 bulan. Rumah tersebut menyediakan mesin cuci 6kg yang saya gunakan 2 hari sekali untuk mencuci baju kami sekeluarga. Hemat saya, ukurannya agak ngepas, jadi saya cenderung ingin kapasitas di atas 6kg.

Beberapa faktor yang menjadi pertimbangan ketika menentukan ukuran adalah, jumlah orang dan cucuan bajunya, serta seberapa sering Anda akan mencuci. Contoh kasus, mesin cuci kakak saya berukuran 7kg. Dengan jumlah penghuni rumah yang hanya 3 orang, sebetulnya ukuran tersebut sudah ok. Namun kakak saya tidak mencuci setiap hari namun mencuci sekali banyak di akhir minggu, jadi kata beliau sih ukuran 7kg masih kurang besar (untuk cuci sekali banyak).

Kata sebuah artikel di internet, cucian baju per orang bisa dianggap kurang lebih 1.5kg. Sementara menurut penjual mesin cuci yang melayani saya, ukuran (kiloan) mesin cuci itu merupaka berat total baju (70%) dan air (30%). Kalau dari kedua premis tersebut sih, minimal saya butuh mesin cuci dengan ukuran 8 kg ya. Tapi deep in my heart, berdasarkan pengalaman mesin cuci 6kg saya rasa 7-7.5kg sudah cukup. Pada akhirnya saya membeli mesin cuci ukuran 7.5kg yang saya pikir adalah keputusan yang tepat. Alasan di balik penentuan ukuran berhubungan erat dengan poin berikutnya.
Tempat Beli

Ketika tekad saya sudah bulat untuk membeli mesin cuci bukaan atas LG/Electrolux/Samsung 7-7.5kg, langkah berikutnya adalah memutuskan beli di mana.

Beberapa tempat belanja elektronik yang ‘katanya’ murah di Bandung di antaranya adalah Mutiara Super Kitchen, Login Store, Sinar Maju elektronik. Sebagai ibu 2 anak yang masih ngekor hampir 24/7 dengan kondisi suami lagi di luar kota saat itu, sebetulnya pilihan paling tepat sebetulnya ya belanja online. Kalaupun Anda tidak ingin belanja online, internet adalah asisten terbaik untuk kasih gambaran perbandingan harga di pasaran, juga membantu memfilter mana saja mesin cuci yang masih masuk dalam budget.

Selain market place pada umumnya, ada juga beberapa situs khusus untuk penjualan barang elektronik seperti Hartono Elektronik atau Sinar Maju untuk area Bandung. Khusus Sinar Maju ini ada CS yang bisa melayani lewat WhatsApp lho. Awalnya saya berencana konsul dan beli mesin cuci via whatsApp, sayangnya setelah ngobrol dengan CSnya, barang yang saya incar yakni ketiga merk populer di atas dengan ukuran 7.5kg ke atas sedang kosong. Ada sih LG top load smart inverter 7kg (3.1jt), tapi entah kenapa saya masih dilema mau eksekusi. Fyi, si CS nyaranin untuk profil saya beli minimal ukuran 7kg. Jadi masih kurang yakin aja apa 7kg cukup, mungkin karena ga lihat langsung barangnya juga sih ya.

Sehari setelah konsul wa kebetulan saya pas jadwal belanja ke Griya Antapani, sekalian aja saya mampir lihat-lihat mesin cuci. Ternyata mesin cuci tuh jodoh-jodohan juga ya. Pas banget saya ke Griya lagi ada diskon Ramadhan. Ketemu sama cita-cita saya si LG smart inverter 7.5kg diskon jadi harga 3 juta saja (masih kembalian seribu!), yang berarti lebih murah dari harga LG di sinar maju.

Awalnya, si LG ini displaynya di taruh di atas semacam panggung pendek ya, jadi pas saya lihat ga menapak sejajar dengan kaki saya. Ternyata mesin cuci yang diposisikan lebih tinggi ini membuat ukuran tabungnya terlihat lebih kecil. Tapi ketika saya naik ke panggung display, baru lebih jelas terlihat ukuran tabungnya yang besar, yang jika saya bandingkan dengan mesin cuci 6 kg yang sebelumnya saya pakai, insya Allah 7.5 kg ini lebih dari cukup (sudah terbukti dalam 2 minggu terakhir).

Ohya jangan lupa tanya ke tempat penjualan apakah bisa diantar dan bantu dipasangin ya. Kebetulan si Sinar Maju bilang bisa antar tapi pasang sendiri, sementara Griya bilang bisa gratis antar dan pasang. Ditambah testimoni dari petugas Griya tentang teknologi smart inverter mesin cuci LG yang paling terkini, akhirnya dilema pun berhenti. Oke, ga pake lama, langsung deh bungkus si LG 7.5kg di Griya!

Pilihan jatuh pada LG smart inventer 7.5kg T2175VS2M

Jadi, menurut pengalaman sih, walau beli online itu lebih efisien, tapi tetap saja lihat barang langsung offline itu bikin hati lebih yakin, lebih mudah untuk memutuskan.
Aksesoris

Setelah memakai mesin cuci 2 minggu terakhir, imho ada 2 aksesoris mesin cuci yang wajib dimiliki. Satu, sarung mesin cuci. Karena di awal saya belum punya sarung, mesin cuci saya cepat debuan dan kadang-kadang terciprat air hujan. Saat ini banyak kok dijual sarung mesin cuci online, saya baru aja beli dari shopee.

Kedua, alas mesin cuci ber-roda. Kurang tahu sih apa nama pastinya, tapi kata petugas yang antar mesin cuci, aksesoris ini dijual di Griya. Si alas ini berguna untuk memudahkan kita saat memindahkan mesin cuci dan memposisikan mesin cuci lebih tinggi dari lantai supaya lebih mudah dibersihkan bagian bawahnya (jika perlu). Ohya, ternyata mesin cuci LG yang saya beli ada aksesoris anti tikus nya. Mungkin bisa ditanyakan juga ke penjual apakah mesin cuci yang akan Anda beli memiliki fitur yang sama.

Waw, ngomongin mesin cuci ternyata jadi panjang juga ya. Fyi saya sangat puas dengan LG yang saya beli, ukuran besar untuk saya yang cuci baju 4 anggota keluarga setiap 2 hari sekali, mesinnya juga sangat halus hampir tak bersuara, dan pesan erornya jelas semua lengkap di buku panduannya (selang air sempat ke-blocked karena saya lilit-lilit 😁, sehingga muncul pesan eror). Semoga tulisan ini bisa membantu Anda yang sedang mencari mesin cuci, apapun jenis dan merk yang Anda beli nanti. Selamat berbelanja! 😊

Wassalaamu’alaikum wr. wb.

Advertisements

Naisha’s turning 7 years old

Standard

Assalaamu’alaikum wr. wb.

Dear Naisha…

Happy Birthday my love.. My intelligent, important, brave, lovely, kind, smart, clever, strong, creative, shalehah daughter.. You are now a 7 year old girl, my darling.. You have grown up so much, though to me you will always be my baby..

Dear Naisha..

I am really proud of the girl you have become.. Sometimes I could not believe it’s been 7 years already, me being your mom.. I always think I could not take all the credits (if any) as I don’t think I did good enough the past 7 years.. I keep saying I believe I did not do a bad job in raising you, but I am aware that I could have done better.. I should have done better.. I am so sorry for not trying harder..

As my first born, everything is new with you.. You are the one who made me a mom. And now you’re the one who made me a mom to a 7 years old. It’s always a new thing to me, to us. So, let’s learn together, shall we?

Dear Naisha..

This year we’re going through such a big milestone in our life, moving back to Indonesia. Thank you so much for making everything easier for us, with your acceptance. I couldn’t ask for more, my love..

Dear Naisha..

I hope you grow up to be a good person, better than us your parent.. I hope you can learn, try, do, create, excel, achieve lots of things, anything you dream of, anything my dear.. I hope you’ll live a good, happy healthy and content life and be useful to others.. And I wish that Allah will always protect you, and that you will always be close to Him..

Dear Naisha..

I keep saying this and I won’t stop saying this.. I love you so so much.. Thank you for your meaningful hugs and heart-warming kiss.. Thank you for accepting me as I am and always reminding me of my self worth with your beautiful words, the song to my ear.. Thank you cinta, for your love, for everything..

Let’s rock on this new year! Go 7 years old! We can do it!

With all the love in the world,

Bunda/mommy/mama ❀❀❀

Wassalaamu’alaikum wr. wb.

Siap Kalah: Antara Anak, Orang Tua dan Pemilu

Standard

Assalaamu’alaikum wr. wb.

Ilustrasi: Koko/Jawapos.com

Beberapa waktu yang lalu, Siena, saudara kembar saya yang memiliki seorang putri bernama Sekar(4th) bertanya, apakah putri saya Naisha(6th) pernah ikut lomba. Usut punya usut, keponakan saya ini akan ikut lomba mewarnai untuk pertama kalinya, dan Siena khawatir Sekar sulit menerima kekalahan (ibunya pesimis anaknya bisa menang lol). Kami kemudian pun lanjut berdiskusi mengenai manajemen rasa kecewa pada anak ketika kalah dalam kompetisi.

Naisha sendiri sampai saat ini tidak pernah ikut lomba. Tidak seperti di Indonesia yang marak akan berbagai lomba anak, entah itu menggambar, mewarnai, dance, drum band hingga fashion show, di New Zealand sepengetahuan saya hampir tidak ada lomba non akademis untuk anak-anak. Yang saya tahu rutin dilakukan setiap tahunnya adalah lomba thriatlon anak se-Wellington, itu saja. Jadi ya kesempatan Naisha untuk ikut berbagai lomba di Wellington memang tidak terlalu terbuka.

Kalau dipikir-pikir, jarang adanya lomba anak di New Zealand ini bisa jadi dipengaruhi oleh budaya pendidikan anak New Zealand yang lebih menekankan pada proses ketimbang hasil. Sistem pendidikan yang tidak memiliki sistem ujian apalagi ranking (level Sekolah Dasar). Yang pada saat athletic day semua muridnya diberikan tepukan tangan dan sorakan semangat jika mencapai garis finish atau berhasil loncat jauh. Tanpa ada penekanan siapa yang juara, karena semua adalah pemenang jika sudah berusaha. Jadi budaya lomba di NZ tidak terlalu kentara. Mungkin ya.

Anywaay, kembali lagi ke diskusi saya dan Siena. Karena Naisha belum pernah ikut lomba, awalnya bingung juga sharing tentang manajemen rasa kecewa ketika kalah. Tapi kemudian saya ingat Naisha pernah mengikuti beberapa undian/kompetisi di majalah, termasuk juga mengirim gambar, dengan harapan terpilih dan mendapat hadiah.

Sesuai ekspektasi (karena majalah asal Australia jadi kecil kemungkinan pemenang dari NZ), Naisha tidak menang. Sesuai ekspektasi, Naisha menangis kecewa. Sesuai ekspektasi, lama-lama dia lupa dengan kekalahannya dan cepat atau lambat semua itu pun menjadi masa lalu.

Lantas apa yang saya lakukan ketika itu? Menurut saya sih, manajemen rasa kecewa ini dibagi 2 tahap, sebelum (pra) dan sesudah (pasca) kompetisi. Saat pra kompetisi, saya ceritakan ke Naisha panjang lebar, kondisi kompetisi seperti apa, seperti perkiraan jumlah peserta, berapa banyak hadiah tersedia, proses penilaian/pengambilan keputusan yang terjadi, dan kemungkinan kalah menang. Tidak lupa saya apresiasi usaha yang telah Naisha lakukan.

Pasca kompetisi, ketika tahu kalah, tentu sebagai Ibu saya mencoba membesarkan hati anaknya. Seedikit banyak saya mengulang pembicaraan yang sudah saya lakukan sebelumnya, yakni mengapresiasi usaha, mengingatkan bahwa jumlah peserta lebih banyak daripada hadiah. Pasti ada yang menang ada yang kalah. Namun begitu, tidak melulu berarti karya yang kalah itu buruk, hanya saja ada peserta yang karyanya lebih baik, yang juga perlu diakui dan diapresiasi karyanya oleh pihak yang kalah. Dilanjutkan dengan menyemangati bahwa masih ada kesempatan lain dan selalu ada ruang untuk memperbaiki diri. Kalau masih nangis? Biarin aja haha. Yoweslah, namanya juga lagi kecewa biarkan mereka mengeluarkan emosinya untuk sementara.

Imho, siap untuk kalah, atau menerima kekalahan dengan legowo itu tentu ideal. Namun begitu, kecewa ketika kalah juga manusiawi. Yang harus dihindari adalah tidak siap kalah. Kondisi ini terjadi ketika kita bukan hanya tidak menerima kekalahan, namun juga menyalahkan pihak lain atas kekalahan kita. Menyalahkan lawan, menyalahkan panitia, atau menuduh kecurangan tanpa bukti yang jelas misalnya. Sebagai orang tua, rasanya tidak mungkin hal-hal tersebut kita ajarkan kepada anak kita yang sedang berkompetisi, ya nggak?

Melihat tidak sedikitnya anak kecil yang ikut berkampanye berdampingan dengan para orang tua dalam masa Pemilu kali ini, saya jadi bertanya-tanya, kira-kira para orang tua pendukung kedua pasangan capres dengan segala gembar-gembornya ini pada siap kalah nggak ya? Para pendukung dari kedua kubu tentu terlihat sangat percaya diri bahwa capresnya akan menang. Tapi apakah mereka ingat bahwa kemungkinan kalah itu tetap ada bahkan sama besarnya?

Penting bagi para orang tua untuk mengingat hal ini, terlebih bagi mereka yang turut serta menularkan kepada anak-anaknya semangat kampanye mendukung salah satu pasangan. Kenapa? Karena reaksi pasca kompetisi yang nantinya dipertunjukkan oleh orang tua, tanpa disadari bisa menjadi pedoman sang anak dalam menghadapi kemenangan maupun kekalahan di kemudian hari.

Bagi para orang tua yang merendahkan/mengecilkan capres lawan ketika capres dukungannya menang, ataupun marah-marah, menuduh kecurangan, menyalahkan kubu lawan maupun KPU tanpa bukti yang jelas ketika capres dukungannya kalah, jangan kaget jika anak-anak merasa hal itu adalah hal yang benar untuk dilakukan ketika tiba saatnya mereka yang berkompetisi. Children see, children do.

Sebaliknya, jika orang tua merayakan kemenangan capres dukungannya dengan tidak berlebihan dan tak lupa apresiasi usaha capres lawan, atau menerima dengan ikhlas kekalahan capres dukungannya serta mengakui keunggulan pemenang tanpa mencari-cari kesalahan tak berdasar dari pihak penyelenggara ataupun kubu pendukung, tentu reaksi positif tersebut yang akan direkam oleh anak sebagai pedoman.

Sekarang coba bayangkan, jika anak kita dalam posisi yang berkompetisi. Tentu sebagai orang tua kita ingin anak kita siap kalah dan siap menang secara sportif, ya.

Pertanyaannya, apakah para orang tua pendukung kedua kubu sudah siap kalah atau menang secara sportif? Mudah-mudahan jawabannya Ya. Kalaupun tidak, masih ada 3 hari lagi untuk mempersiapkannya. Bisa!

Kepada seluruh rakyat Indonesia, saya ucapkan selamat berpesta! Berikan suaramu dan dukung terus PEMILU Indonesia 2019! Bismillaah, Indonesia, JAYA!!

 

Wassalaamu’alaikum wr. wb.

Melarang Anak Bermain Dengan Pembuli Bukan Satu – Satunya Solusi

Standard

Assalaamu’alaikum wr. wb.

Beberapa hari belakangan ini di Indonesia sedang ramai pembicaraan mengenai kasus bullying dan kekerasan sesama pelajar. Pada tulisan kali ini saya ga akan bahas tentang kasus itu sih, tapi kebetulan masih bersinggungan dengan tema yang sama, yaitu bullying.

Dua hari yang lalu, di sebuah grup whatsApp khusus ibu-ibu (Indonesia, domisili Bandung) yang saya ikuti ada seorang ibu, sebut saja ibu Mawar yang curhat tentang anak tetangganya (usia 5th) yang berlaku kasar ketika bermain dengan anaknya (usia 3.5th) di rumah si ibu Mawar. Lalu ibu Mawar ini meminta saran, apa langkah yang harus dilakukan berikutnya, apakah lebih baik anaknya dilarang main saja sama si anak yang kasar ini?

Sesuai ekspektasi saya, tidak sedikit yang menyarankan untuk menjauhi saja anak kasar itu, jangan main sama dia lagi. Saya bilang sesuai ekspektasi, karena sebelumnya di sebuah grup facebook ibu-ibu terjadi diskusi kasus yang mirip-mirip dan banyak yang menyarankan hal yang sama. Jangan main sama anak itu lagi. Kala itu di facebook, dan kemudian juga di wag kemarin, saya selalu berpendapat bahwa melarang anak kita bermain dengan pembuli bukan satu-satunya solusi. Lebih jauh lagi menurut saya hal tersebut bukanlah solusi yang tepat. Mengapa? Akan saya ceritakan panjang lebar di bawah ini.

Disclaimer

Sekedar info. Satu, saya bukan praktisi parenting, pendapat saya murni berdasarkan pengalaman saya membesarkan anak selama 7 tahun, di mana 6 tahun terakhir kiblat utama saya adalah para orang tua di New Zealand, tempat kami tinggal 6 tahun terakhir hingga Februari lalu. Dua, kasus bullying yang akan saya bicarakan terbatas pada range anak usia 0-7 tahun, karena saya belum punya pengalaman terkait konflik untuk usia lebih tua dari 7 tahun. Di atas usia 7 tahun, apalagi usia anak remaja dan lanjutannya biasanya lebih kompleks dan tidak menutup kemungkinan memerlukan penanganan yang berbeda.

Feel free untuk berdiskusi, dan it’s okay kalau ada yang ga sependapat sama saya. Saya sadar bahwa pendapat saya ini mungkin lebih popular dilakukan di NZ daripada di Indo. Tapi di situlah alasan utama saya menulis ini, membantu menambah wawasan dan melebarkan sudut pandang. Kalau pandangan kita berbeda, boleh loh ditulis di blog juga plus kabari saya biar saya bisa baca. Ohya tulisan ini bakal panjang banget ya. Don’t say I didn’t warn you. Semoga bermanfaat!

What to do when bullying happens

Apa sih yang sebaiknya para orang tua lakukan ketika ada konflik antar anak terjadi di rumah kita? Perhatikan kedua frase kunci yang di-bold ya.

Satu, konflik antar anak. Yang saya maksud dengan antar anak di sini bukan hanya anak kita dengan teman mainnya, namun juga sesama anak kita, alias kakak beradik. Kalau kita terbiasa mendisiplinkan anak kita yang saling bertengkar, jangan takut untuk melakukan hal yang sama kepada teman dari anak kita. Konsisten itu penting. Semua anak mendapat perlakuan yang sama, di rumah kita.

Ini kunci kedua. Saya hanya bahas konflik yang terjadi di rumah saya di bawah supervisi saya sebagai satu-satunya orang dewasa ya, bukan di ruang publik karena itu akan berbeda lagi pembahasannya. Our house, our rule. Sesimple itu. Anak orang pun, kalau mainnya di rumah kita, mau tidak mau harus ikut aturan yang ada di rumah kita. Aturannya seperti apa, berikut sharing saya di wag tersebut.

Saya mau sharing aja ya.. mgkn jg ada yg udh tahu atau ngelakuin hal yg sama.. di sekolah anak sy dl muridnya diencourage untuk bersuara, bilang “stop it i dont like it” kalau ada teman yg mengganggu (fisik maupun verbal). Kalau diomongin ga mempan, murid lapor guru, guru bertindak. Sistem ini berlaku juga di rumah klo ada temen anak saya main. Klo anak sy bilang stop msh ga mempan, anak sy (atau bahkan temennya) lapor saya, sy tindak. Jelasin baik2 salahnya si anak apa. Kalau kaya kasus2 di atas tegasin aja “stop tidak baik berkata kata buruk/memukul seperti itu. Kata2/pukulan itu menyakiti hati/badan x. Di rumah ini aturannya tidak boleh menyakiti sesama teman, harus bermain dengan baik dan saling sayang. Kalau tidak bisa mengikuti aturan kamu tidak boleh main di sini.” Alhmdlh selama ini manjur sih. Walau bs smp nangis jg si anak yg salah pas sy tegasin.. abis itu suruh dia minta maaf, terus kedua anak yg konfliknya pelukan abis itu main lagi deh..

Imho ga mesti dipeluk jg yg penting di stop dulu klo perlu dipegang dua lengannya face to face.. dan dipastikan dia tahu salahnya bagian mana.. jgn lupa jg diimbangi apresiasi/pujian sesering mgkn ketika mereka bermain baik…

Jadi aturan utamanya adalah: Bahwa di rumah ini sesama anak/teman harus bermain baik bersama (termasuk di dalamnya saling berbagi dan bergiliran), saling menyayangi dan tidak saling menyakiti. Udah itu aja. Lantas apa yang seharusnya dilakukan jika aturan tersebut dilanggar (khususnya terkait poin tidak saling menyakiti/bullying)?

  1. Aksi bullying harus dihentikan. Ajarkan anak kita untuk speak up, berkata “Stop lakukan itu. Saya tidak suka. Hal itu tidak baik. Hal itu menyakiti saya”. Tanamkan pada anak kita bahwa satu-satunya keputusan yang tepat adalah untuk bersuara ketika merasa disakiti atau melihat orang lain disakiti. Ajarkan juga kepada anak untuk melapor jika bullying terus terjadi walau anak sudah berusaha speak up.
  2. Pembuli harus diberi tahu/diingatkan bahwa apa yang dia lakukan salah. Ketika konflik tetap berlangsung walau korban sudah melakukan poin no 1, saatnya supervisor yakni guru/orang tua bertindak. Orang tua harus secara tegas (bukan marah, ya) menjelaskan pada pembuli bahwa apa yang dia lakukan itu salah. Contoh kalimat yang bisa digunakan bisa dilihat pada kutipan sharing wag saya di atas.
  3. Pembuli harus meminta maaf kepada korban dan berjanji tidak mengulanginya lagi. Setelah pembuli menyadari kesalahannya, fasilitasi pembuli dan korban agar saling meminta maaf dan memaafkan.

What we should do next

Oke kembali lagi ke ibu Mawar. Berikut saran yang saya tulis kepada ibu Mawar di wag, fokus untuk interaksi antar pembuli dan korban ke depannya:

Klo menurut sy mah jangan dilarang teh.. berikutnya disupervisi lbh ketat aja sama sering2 diapresiasi keduanya, dipuji terus menerus hal2 baik yg terjadi pas lg main.. “wah kalian pinter main bareng ya bla bla bla”.. agak aneh sih emg bhs indo klo di englishnya semacam “I love that you being really gentle with X today, good to see you guys playing really well, good job!”..

Supervisi dan apresiasi. Kalau anak kita masih ingin bermain dengan si pembuli, tidak perlu dilarang namun boleh dibatasi. Contohnya, memperbolehkan mereka bermain dengan syarat main di rumah kita sehingga bisa dengan mudah kita awasi juga apresiasi. Apresiasi ini tidak kalah penting loh. Di NZ saya belajar, apresiasi tulus dan tepat sasaran yang dilakukan sesering mungkin, tidak peduli sekecil apapun usaha yang kita apresiasi, pasti akan terasa manfaatnya. Sering-seringlah mengapresiasi interaksi positif yang terjadi di antara anak. Apresiasi tersebut tidak hanya berfungsi sebagai reward, namun juga reminder pada anak seperti apakah interaksi baik yang seharusnya mereka lakukan ketika bermain bersama.

Why we should let them keep playing together

Jadi ibu-ibu, jangan takut ya membiarkan anak kita bermain dengan teman yang pernah membulinya. Tiga hal utama mengapa saya rasa melarang anak bermain dengan pembuli bukanlah solusi yang tepat adalah:

1. Dunia ini keras kawan. Hari ini kamu lari dari pembuli, bisa jadi besok datang pembuli yang lain lagi. Apa kamu akan terus berlari? Membentuk bubble duniamu sendiri?

2. Say no to labelling. Ketika orangtua melarang anak bermain dengan temannya, biasanya kita akan berkata, “Jangan main dengan si A, dia anak nakal”. Secara tidak langsung kita melakukan labelling, pada anak yang bahkan pertumbuhan otaknya belum sempurna, yang bisa jadi belum rutin terpapar nilai kebaikan di usianya yang baru beberapa tahun saja. Dalam Islam dikatakan “jangan benci orangnya, benci lah perbuatan buruknya”. Maka janganlah melabeli dan membenci anaknya, namun jelaskan pada anak yang berkonflik, di mana letak kesalahan perbuatannya.

3. It takes a village to raise a child. Daripada mengeluarkan si pembuli dari “village” kita, lebih baik kita sebagai orang tua menjadi support system dengan membantu si pembuli menjadi anak yang lebih baik dalam “village” kita bersama.

Terkait hal ini, berikut sharing saya lainnya di wag..

pengalaman sy di playcentre di nz, ada satu anak usia 2-3th yg kasar sm anak lain.. pas after session parent meeting, orgtuanya curhat.. minta maaf kalau anaknya kasar.. dia cerita di rumah udh ngelakuin segala cara ngajarin si anak.. tp emang anaknya energinya agak berlebih dan komunikasinya blm maksimal.. jd si ibu itu begging ke orgtua lain ikut bantu supervisi dan mengingatkan si anak selama di playcentre kalau pas anaknya lg ga main sama si ibu.. krn dia merasa udh kewalahan dan melakukan semua yg bs dilakukan, dg support dr ibu2 lain diharapkan bs membantu mengontrol si anak..

akhirnya sesama ortu playcentre sepakat, si anak rancangan kegiatannya fokus di keg motorik kasar, yg bisa menyalurkan energi, kemudian lebih awas ketika para ortu ngeliat si anak main dekat2 anak lain, siap2 jaga dan ngingetin.. alhmdlh lama2 si anak bisa main baik dg anak lain..

Dr situ sy br tau bahwa mmg ada, anak yg bermasalah krn ortu bermasalah. Tp ada jg anak yg jd ujian buat ortunya yg sdh berusaha maksimal.. ada jg anak yg mmg berkebutuhan khusus.. kasus sangat beragam, kita ga bs langsung ngejudge anak bermasalah bisa dipastikan ortu bermasalah tanpa tau fakta di lapangan (rumah si anak)..

Ketika sesama orang tua memilih untuk saling support alih-alih saling judging, yang kemudian tercipta adalah “village” yang nyaman untuk membesarkan anak bersama-sama dalam nilai kebaikan.

“Tapi ini Indonesia. Perlu kendali intrapersonal karena orang tuanya pada baperan”, katanya.

Oh well, tidak dapat dipungkiri ada perbedaan dalam culture NZ dan Indonesia. Di NZ orangnya lebih straight forward dan ga pake baper, ga kaya sebagian orang Indo. Menurut saya yang penting jangan marah-marah aja ya buibu saling mengingatkannya. Dengan cara sebaik-baiknya. Tegas, tapi tidak kasar. Kalau marah-marah ke si pembuli sih ya wajar aja kalau ortunya ikutan marah-marah.

Tapi bagaimanapun juga sifat dari kebanyakan orang Indo, saya memilih untuk optimis, bahwa masih ada orang tua Indonesia di luar sana yang sepaham dengan saya, open mind dan terbuka, bisa menerima saran dan tidak takut mengakui jika anaknya melakukan kesalahan. Hal yang tentunya harus lebih dahulu saya terapkan sebelum berharap orang tua lain melakukan hal yang sama. Insya Allah, saya yakin para Ayah dan para ibu di Indonesia pasti bisa. Bisa, demi anak kita yang lebih bahagia, demi anak-anak Indonesia berakhlak mulia. Insya Allah!

Wassalaamu’alaikum wr. wb.

Tentang Majalah

Standard

Assalaamu’alaikum wr. wb.

Akhirnya nulis lagi. Sejujurnya ada perasaan kecewa sama diri sendiri, karena tahun ini baru bulan April udah 4x bolos nulis blog rutin minimal 1 minggu 1 cerita. Sementara tahun lalu (mulai Feb) cuma 2 x bolos aja. Jadi kali ini maksain diri nulis walaupun sebetulnya ga jelas mau nulis apa πŸ˜….

Minggu ini #1minggu1cerita temanya ‘Majalah’. Ga kepikiran sama sekali mau ngulik tema, ini juga baru mulai nulis kurang dari 4 jam sebelum deadline, jadilah nulis ngalor ngidul aja ya.. lol

Sebagai generasi 90an yang dahulu pernah muda kemudian beranjak dewasa menjadi remaja putri, tentu pernah terpapar majalah dong ya. Apalagi punya 2 saudara perempuan yang usianya ga beda jauh dan sama-sama suka baca. Seperti kebanyakan anak SD lainnya saya, kakak dan Siena (saudara kembar) lama berlangganan majalah Bobo. Suka banget semua artikel atau cerita yang ada di Bobo. Tapi salah satu kenangan paling berkesan dengan majalah Bobo itu malah ketika pernah kirim surat ke sesama pembaca Bobo, semacam sahabat pena gitu. Tapi lupa deh dibales apa nggak ya.. πŸ˜‚ Tapi ya seru aja sih nulis surat, cari kenalan baru kalau ga salah beda pulau. Lupa-lupa inget haha..

Lanjut masuk SMP naik level tentu majalahnya, majalah remaja. Kita ga langganan sih, tapi hampir selalu beli setiap edisinya. Sebagai ABG (pinggiran) ibu kota, apalagi kalau bukan GADIS majalahnya. Ada sih Aneka dan Kawanku, tapi ga terlalu cocok ntah kenapa. Lebih suka layout, warna, visual art nya GADIS. Lebih suka ngikutin Gadsam (Gadis Sampul) juga daripada pemilihan cover girl majalah remaja lainnya.

Kalau udah masa pemilihan Gadsam seru banget nih, biasanya saya, kakak dan Siena punya jagoan masing-masing. Seneng aja gitu kalau pas tahu jagoannya lolos dari minggu ke minggu mulai penyisihan sampai final. Padahal kenal juga nggak hahaha. Agak sedih sih sampai selesai masa membaca GADIS, ga kesampean tuh dateng nonton final Gadsam. Padahal udah sering banget mikirin kalau jadi dateng bakal pakai baju apa sesuai dress code. Tapi semua hanya wacana hahaha.

Ohya sama kaya Bobo, I love everything about GADIS, tapi favorit tentunya ketika ada artikel tentang boyband favorit, Westlife! 😍 Apalagi kalau ada bonus poster, wah seneng banget! Ngomong-ngomong poster jadi keinget tabloid BOLA. Bukan majalah sih, tapi malah ini saya langganan loh pas jaman SMA. Patungan bayarnya sama Siena pake uang jajan. Tiap Selasa-Kamis nungguin banget itu si tukang koran nganterin BOLA ke rumah, sampai rebutan sama Siena bacanya. Untung bisa dilepas-lepas kaya koran halamannya ya, jadi kita sharing gitu bacanya trus gantian. Oh those days… 😘😘

Balik lagi ke poster, BOLA ini suka kasih poster pemain sepak bola. Bahagia tentunya kalau pas ada poster si idola: Michael Owen dan Filippo Inzaghi. 😍😍 Tapi kalaupun ga ada poster, halaman depan BOLA selalu dihiasi foto solo pemain yang bisa dikoleksi jadi poster juga. Laff banget lah sama si BOLA ini ❀❀. Ehtapi bukan cuma suka mantengin pemain doang ya, kita suka banget sama berbagai ulasan-ulasannya. Sayangnya pas kita kuliah dan berpisah kota berhentilah itu langganannya.

Sedikit banyak merasa beruntung sih melalu jaman ketika majalah masih berjaya. Tukang majalah banyak di mana-mana. Sekarang kayanya hampir ga keliatan tukang majalah ya. Naisha pas di Wellington suka beli majalah juga sih, duh namanya lupa apa ya Sparkle World kalau ga salah. Dijualnya di super market. Majalahnya tapi menurut saya lebih ke buku aktifitas anak. Banyak kegiatan bikin-bikin nya, misal ada stiker + aktifitas tertentu atau template yang bisa digunting tempel menjadi art/craft. Bagus juga sih, biasanya saya beliin pas school holiday biar dia ada kegiatan tambahan.

Nah sekarang kita udah di Indonesia, sebetulnya saya dari kemarin pengen banget beli Bobo eceran. Satu, karena pengen Naisha makin lancar baca tulis dan ngomong bahasa Indonya. Kedua, ga mau langganan karena kita belum tinggal di rumah yang long term. Tapi belum nemu nih beli Bobo eceran di mana, karena tadi itu, tukang majalah ga keliatan di mana-mana. Adakah yang tahu, bisa beli Bobo eceran di Bandung di mana? Kabar-kabari yaa… πŸ˜€

Wassalaamu’alaikum wr. wb.

Let Me Tell You What New Zealand Is…

Standard

Assalaamu’alaikum wr. wb.

Source: Wellington Islamic Centre Facebook Page

It’s been hard. Really hard. It’s Day 2 and I still found it hard to process everything that has happened in New Zealand the past 2 days.

Yesterday, March 15th 2019, as PM Jacinda Ardern said, was one of New Zealand’s darkest days. Definitely mine as well. Never in anyone’s wildest dream a terror attack would take place in one of the safest country in the world.

I’m really hurt. Truly heartbroken. Utterly devastated. Today my body is here in Indonesia celebrating my sister in law’s wedding. But my heart, mind and soul flying thousand kms away.

I could never understand why this horrific event happened in this beautiful country. What I and every Kiwis do know is, that this attack and every negative thing related to it IS NOT New Zealand.

This attack IS NOT, AND WILL NEVER BE NEW ZEALAND.

As a moslem woman who lived in NZ for almost 6 years, please allow me tell you what New Zealand is, based on some of my memorable interactions with non moslem Kiwis…

For me,

NZ is a stranger on the street greeting you with Assalaamu’alaikum or Eid Mubarak, recognizing you’re a moslem woman.

NZ is your mom friend complimenting your modest clothes and your beautiful hijab, or scarf as she then said.

NZ is your daughter’s classmate’s mom asking what your daughter’s dietary food is for a birthday party reference, knowing too well your family is only eating halal food.

NZ is your Playcentre friends allowing you to do shalat/prayer in the office during the parent meeting break.

NZ is local authorities allowing church to be converted in to masjid. And allowing moslem communities to use school halls or community centres as a religious gathering place.

NZ is your daughter’s school principal announcing that there will be halal sausages on the school barbeque day.

NZ is your midwife making sure all the staff in the hospital delivery ward you’re dealing with are woman, as per your request.

NZ is your daughter’s kindergarten teacher asking you when is the next Mosque Open Day, and coming there with a big heart and an open mind.

NZ is your dearest friend/neighbour (who knows you no longer live there) laying down flowers and candles in your family name in front of the mosque, as a form of condolence related to the recent attack.

NZ is Kiwis supporting other moslem residents in any form possible following the recent attack. To convince and remind them that moslem whanau (family) are welcome and loved in NZ.

NZ is ALL its people, no matter what their race, religions and beliefs.

And this recent incident will only show the world what the real New Zealand is, as quoted in its anthem,

In the bonds of LOVE we meet

New Zealand, IS LOVE.

Kia Kaha my love. Stay strong, Aotearoa. ❀❀

Wassalaamu’alaikum wr. wb.

So Long Aotearoa

Standard

Assalaamu’alaikum wr. wb.

Exactly a week ago, I and my family, Keluarga Ghifary, left New Zealand for good after calling this beautiful country home for the last 6 years. On March 2nd 2019, we flew out Wellington with a mixed feeling. Bittersweet. It has been one of, if not the toughest decision we have ever made as a family.

But we believe it was, and forever will be a good decision. The one that we won’t regret. Of course it’s not because we wanted to leave New Zealand, but because we know that we have left NZ in a good state.

We’ve lived a good life there. We’ve left good traces there. Our family, especially our children have experienced an amazing journey there. There is no regrets, there’s only grateful left. There might be few things that I (or we) haven’t done there though, but I consider them as bucket lists that are waiting to be checked one day. One day.

And here we are now, back in Indonesia. Ready to begin our new journey in another beautiful city that has always been close to our heart: Bandung.

Did we feel sad leaving New Zealand? Of course we did. Some of you might have already known that I really love New Zealand. I love Wellington so much. As I have mentioned here before, Wellington is the unrealistic ideal boyfriend that I’ve never had. As a hopeless romantic myself, leaving away my love I know I can’t leave Wellington and New Zealand just like that. I knew I have to do something. So I wrote a song. A love song.

Just like our other songs (you can find some of them here and here), I wrote the lyrics, Mr. Ghifary did the melody and arranged the music. And this time, our 6yo daughter Naisha chose the original title, it was “Leave you Long White Cloud”. Though I prefer my very own title, “So Long Aotearoa*”. This song was made less than a month before we left the coolest little capital in the world.

Wellington. The coolest little capital in the world.

Unfortunately, we were too busy with all the moving, packing and cleaning our house at the end of our life in Wellington that we haven’t finished recording the song and we haven’t made any music video (it was all the plan!). But there’s a video of us performing the song at our farewell with KAMASI – Indonesian community in Wellington, you can see it here.

I promise we’ll finish the recording and the video, one day. Just like I promise myself to come back to New Zealand, one day. For now, I hope you all can enjoy the song lyrics and all the love it contains below. Arohanui, Aotearoa. I love you, New Zealand. ❀❀❀

So Long Aotearoa

Now it’s time to leave you dear

Land of the long white cloud

My love for you will always be true

Aotearoa

You will always be in mind

I’ll hold you tight in my heart

It’s not goodbye though I will be far

So long and I’ll see you soon

Reff

All the memories

All the smiles, laughs and tears

Filled and warmed my soul

You taught me love

You taught me kind

You show me beauty in life

Now it’s time to leave you dear

Land of the long white cloud

My love for you will always be true

Aotearoa

Back to Reff

You will always be in mind

I’ll hold you tight in my heart

It’s not goodbye though I will be far

So long and I’ll see you soon 2x

PS:

*Aotearoa means New Zealand in Maori language, which has a meaning of ‘Land of the long white cloud’

Wassalaamu’alaikum wr. wb.